
hari ini adalah hari Sabtu Nadila teringat janji dengan adiknya.
"bagaimana cara meminta izin padanya"
Nadila mondar mandir mencari alasan agar bisa keluar rumah. setelah menimbang nimbang, Nadila masuk kedalam kamar menemui tuan Liam yang sedang bermalas malasan di akhir pekan.
"kemari lah" tuan Liam menepuk kasur disampingnya, Nadila yang penurut mendekat.
"ada yang ingin kamu katakan?"
"bagaimana dia bisa tahu" nadila
"katakan saja" kata tuan Liam lembut.
"hhmm, apa saya boleh keluar hari ini tuan?"
"kamu bosan dirumah?"
Nadila hanya mengangguk.
"baiklah kamu boleh pergi. tapi, dengan syarat" sepertinya tuan Liam sedang baik hati hari ini.
"apa syaratnya tuan"
tuan Liam menunjuk sebelah pipinya memberi isyarat agar Nadila mau menciumnya.
"dasar mesum" Nadila tidak percaya tuan Liam akan bermanja dengannya.
"ya sudah tetaplah di dalam rumah"
Nadila merasa kalau sebentar lagi dirinya akan terkena serangan jantung.
"baiklah hanya di pipi kan"
tuan Liam mengangguk senang Nadila mau memenuhi keinginannya.
satu kecupan lembut mendarat di pipi tuan Liam
"tidak terasa " tuan Liam menunjukkan ketidak puas.
"ch, dasar tidak konsisten "
karena terlalu gemes tuan Liam menyambar bibir Nadila yang manyun itu.
ciuman itu berlangsung cukup lama
"anda melewati batas"
"batas? aku ini suamimu, bukankah kamu yang mengatakan hanya tuan Liam yang menjadi suamimu."
tuan Liam pergi mengambil sesuatu di
lemari
"pergilah" tuan Liam memberi sejumlah uang kepada Nadila.
"uang untuk apa tuan"
"hadiah untuk ciumanmu yang buruk"
"apa anda pikir saya serendah itu! ambil saja kembali uang anda" Nadila mengembalikan uang itu
"Keith aku becanda sayang, pergilah aku tidak mungkin membiarkan istri ku pergi tanpa membawa apa apa hmm" kata tuan Liam sambil memeluk Nadila dari belakang.
Nadila merinding mendengar kata sayang dari tuan liam
"kenapa aku jadi merinding dengan kata sayang darinya, pria ini bukan hanya gila tapi juga mesum"
setelah melewati beberapa drama aneh tadi pagi dengan tuan Liam, Nadila pergi menemui adiknya kangsan di sebuah taman kota
"kak Nadila" teriak kangsan dari kejauhan
"kangsan hai" Nadila menghampiri adiknya langsung memeluknya karena senang mereka bertemu setelah sekian lama
"apa kabarmu kak"
"kamu bisa melihat sendiri"
"iya iya terserah, kamu tidak perna menjawab pertanyaan adikmu dengan benar"
"pertanyaan mu basi"
__ADS_1
mereka lama berbincang hingga kangsan teringat dengan hadiah yang dia bawa untuk pertemuannya dengan kakaknya.
"kemarin kangsan tidak sengaja melihat gaun itu di sebuah toko kak, sepertinya cocok untuk kak Nadila" kata kangsan
"anak nakal ini, kamu dapat uang dari mana hah"
"ayolah kak, mengapa kakak selalu menilai buruk adikmu ini"
"iya iya, makasih ya dek. sebagai gantinya kakak traktir makan deh"
mereka makan dan bercanda di sebuah restoran adegan tersebut di lihat oleh seseorang, ada amarah terpendam di sana.
hari mulai larut malam Nadila kembali ke rumah, wajah Nadila memancarkan cahaya begitu senang dan bahagianya dirinya hari ini.
Nadila masuk kedalam kamar tapi, kamar itu terlalu gelap.
"kamu bersenang senang hari ini?"
suara itu mengejutkannya.
"tuan" Nadila menyalakan lampu dan kembali terkejut tuan Liam berjarak satu langkah didepannya.
"sebegitu senangnya hingga kamu tidak mau menjawab ku Keith"
"saya hanya jalan jalan sebentar tuan"
"jalan jalan atau menemui pria lain?"
tuan Liam benar benar cemburu.
"tuan pasti salah paham"
"salah paham?"
tuan Liam mendorong Nadila di tempat tidur dan menguncinya.
"tuan"
"katakan Keith siapa pria itu"
"pria yang mana tuan"
"siapa pria itu Keith! kau melarang ku pergi ke club' karena banyak wanita di sana. tapi kamu secara terang terangan berpelukan dan bercengkrama dengan pria lain di luar sana, apa kurangnya aku Keith?"
tuan Liam sepertinya kehilangan kendali dengan sekali tarik baju Nadila terlepas. Nadila menangis dia merasa menjadi wanita yang tidak berharga.
"saya bertemu dengan adik saya tuan, mengapa anda tidak mau mendengar penjelasan saya"
suara serat Nadila menghentikan tangan tuan Liam, Nadila tidak bisa menahan air matanya.
"apa maksudmu"
"dia adik saya hiks..." ucap Nadila lagi.
tuan Liam terduduk mengusap wajahnya menyadari dia sudah melewati batas.
"mengapa kamu baru mengatakannya, hmm. Keith maaf" tuan Liam mencoba menghapus air mata Nadila tapi, gadis itu menepis tangannya.
Nadila menutupi tubuhnya dengan selimut dan berjalan ke kamar mandi. sekarang tuan Liam merasa sangat bersalah dia yakin Nadila akan membencinya
"sial"
setelah satu jam Nadila keluar dari kamar mandi, tanpa suara mengambil bantal dan berjalan menuju sofa. tuan Liam yang melihat itu tidak tahan untuk tidak memeluknya.
"maaf, maaf kan aku Keith aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku mohon maafkan aku" untuk pertama kali tuan Liam meminta maaf pada seseorang.
Nadila berusaha melepaskan tangan tuan Liam yang melingkar di perutnya.
"aku tidak akan melepasnya Keith"
"tuan" Nadila membalikkan badannya menghadap tuan Liam.
"maafkan aku, apa aku melukaimu?"
Nadila hanya menggeleng.
mereka duduk terdiam di sofa kamar itu.
"maaf" kata itu keluar lagi dalam mulut tuan Liam, Nadila hanya menatapnya kosong.
"Keith, kamu akan memaafkan ku kan?"
__ADS_1
"apa anda tidak punya kata lain selain kata maaf tuan?" suara acuh Nadila.
"maafkan aku dulu"
"pergilah tidur tuan ini sudah larut malam"
"tidak sebelum kamu memaafkan ku"
tapi sepertinya Nadila tidak peduli, dia meluruskan diri di sofa dan memejamkan matanya.
tuan Liam mencoba untuk tidur tetapi, tidak bisa dia tiba tiba diselubungi rasa takut. Akhir akhir ini dia mulai menyukai istrinya dan mulai bersikap lembut agar Nadila luluh padanya tapi, kejadian sepele telah membentuk penghalang baginya. trauma akan di tinggal oleh orang yang dia cintai kembali muncul. Tuan Liam tidur dilantai di depan sofa tempat Nadila tidur, memegang tangan istrinya erat.
"jangan marah padaku Keith"
hari sudah mulai terang Nadila merasakan genggaman di tangan nya, dia terkejut melihat tuan Liam yang tidak meninggalkannya sepanjang malam
"apa dia benar benar gila"
Nadila mencoba melepas genggaman itu tapi, genggam itu semakin kuat.
"jangan tinggalkan aku, jangan pergi kumohon" tuan Liam mengigau.
"tuan, bangun!" Nadila berusaha membangunkan suaminya itu tapi, kata yang sama selalu terucap kembali
"ada apa dengannya"
"ibu jangan pergi, jangan tinggalkan aku"
"ibu, apa dia bermimpi" Nadila memegang kening tuan Liam
"dia demam, astaga bagaimana ini"
Nadila bangun dan segera memanggil pelayan melalui telepon yang terhubung ke ruangan pelayan
pak man mengetuk pintu.
"paman, tuan Liam sakit badannya panas"
pak man masuk memeriksa.
"paman dia ada dilantai tolong bantu saya mengangkatnya"
Pak man mengangkat tubuh tuan Liam ke tempat tidur lalu keluar kamar untuk menelpon menelpon sekretaris Ken
"bagaimana bisa muda sakit nona"
"saya tidak tahu paman, tapi dia selalu mengigau seperti itu memanggil ibunya" pak man bisa melihat kekhawatiran nona mudanya.
"tenanglah nona saya akan menghubungi dokter"
Tidak berselang lama sekretaris Ken masuk kedalam kamar dengan sangat khawatir
"tuan, dimana dokternya? " Nadila bahkan menangis sekarang
"sebentar lagi akan datang nona." sekretaris Ken tahu trauma tuan Liam kambuh.
"apa anda dan tuan muda baik baik saja nona?"
Nadila tidak tahu cara menjelaskan masalah itu, karena kejadian itu sangat memalukan.
pak man datang membawa air kompres dan menyerahkannya pada Nadila.
"terimakasih paman"
"itu sudah tugas saya nona"
Nadila dengan tangan gemetar mengompres kening tuan Liam.
"tuan apa dokternya masih lama?" tanya pak man.
"sebentar lagi pak, Aditia akan datang"
pak man mengangguk mengerti hanya dokter Aditia yang di perbolehkan memeriksa tuan Liam.
"mengapa lama sekali!" Nadila mulai marah
"bersabarlah nona" Ken
"bagaimana saya bisa bersabar badannya sangat panas" Nadila sangat gelisah, dia juga merasa bersalah karena mengabaikan tuan Liam semalam. Nadila menggenggam tangan tuan Liam erat bahkan dia tidak punya alasan melakukan itu.
"tuan jangan sakit, saya mohon Buka mata anda tuan. maaf ya, saya sudah memaafkan anda sekarang bangunlah jangan sakit seperti ini"
__ADS_1
kata kata Nadila sudah membuktikan bahwa telah terjadi sesuatu tadi malam begitulah sekretaris Ken menyimpulkan