Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 39 keributan


__ADS_3

Nadila sudah sampai di kafe xy sesuai perjanjiannya dengan Belinda. Nadila duduk di kursi dekat jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan dari luar kafe, terlihat dari arah luar Belinda turun dari taksi dan memasuki kafe mencari keberadaan temannya.


"ternyata kamu benar-benar masih hidup!" Belinda berbicara asal karena sudah lama tidak bertemu Nadila sejak berurusan dengan presdir.


"ada apa dengan mu" Nadila tertawa kecil melihat tingkah Belinda.


"ku pikir tuan presdir sudah menelan mu hidup-hidup " sangat banyak canda tawa di antara mereka. Nadila sangat senang Belinda mau berteman dengannya.


Nadila merasakan kebebasan memasuki setiap restoran mahal memesan makanan dalam jumlah yang banyak.


"nad, ini terlalu mahal bagaimana kita membayar?" Belinda merasa khawatir gaji bulanannya tidak akan cukup membayar makanan itu. Nadila tersadar lalu memeriksa dompetnya.


"bodoh, bagaimana bisa aku tidak tahu diri memesan makanan mahal. ini pasti karena terbiasa dengan presdir yang makan di tempat mahal. aku kan tidak bersamanya sekarang" Nadila memegang tengkuknya, merasa bersalah pada Belinda. Beberapa saat kemudian dia ingat dengan uang yang di kirim sekretaris Ken.


"aku yang traktir deh, aku baru dapat bonus kemaren" Nadila mencoba menenangkan temannya, sesekali dia harus menikmati uang suaminya.


Nadila mengirim pesan pada sekretaris Ken karena hanya kontak itu yang dia punya.


"sekretaris Ken boleh aku berbicara dengan suamiku?" 📱terkirim


"apa uang yang di rekening anda masih kurang nona? saya akan menambahnya, maafkan saya nona." 📱balasan dari sekretaris Ken sungguh membuat Nadila ingin memakinya.


"apa anda kira saya matre dasar gila!" 📱 Nadila sudah geram memilih pergi ke toilet untuk menelepon langsung tentunya menjauh dari temannya dulu. sedangkan yang di kantor sekretaris Ken tertawa membaca pesan nona mudanya, tidak berselang lama Nadila menelepon ada kejahilan di kepala sekretaris Ken. Berjalan menyerahkan hp ke tangan tuan Liam.


"nona muda menelepon tuan muda" Tuan Liam sangat senang dan juga penasaran. panggilan itu tersambung, Nadila yang tidak tahu siapa di seberang sana menyalurkan kekesalannya.


"hei! apa anda segila itu? dasar sialan. kadang saya berfikir anda bukan manusia, anda selalu mengartikan sesuatu sesuka anda, kalau kau ada di hadapan saya akan mencakar cakar muka anda yang jelek itu." Nadila berbicara tanpa rem membuat tuan Liam mengulum senyum saat mendengar ocehan istrinya.


"beraninya kau memakiku!" ponsel sudah berpindah tangan sedari tadi tapi Nadila tidak menyadarinya. Tubuhnya menegang saat mendengar suara suaminya, dia mengutuk sekretaris Ken yang tidak memberitahunya.


"maaf suamiku, apa kamu disana?" Nadila kehabisan kata kata dunianya menjadi kiamat.


" tentu saja dia sayang, sebegitu rindunya kamu pada suamimu hingga memakinya" suara halus tuan Liam seperti pisau yang menyayat di telinga Nadila.


Nadila terdiam dan gemetar di kepalanya tergambar wajah suaminya yang menahan marah, seketika dia merinding sungguh tidak tahu berterimakasih.


"maaf aku tidak bermaksud memaki mu suamiku, aku hanya kesal pada sekretaris Ken yang tidak membiarkanku berbicara denganmu" Nadila menyalahkan sekretaris Ken.


"ada apa hmm? kamu ingin membicarakan apa?" tuan Liam tidak peduli dengan kata kata yang banyak itu, yang dipikirannya hanya kalimat terakhir.

__ADS_1


"sekretaris Ken mengirim uang sangat banyak ke rekening ku, sebenarnya aku tidak membutuhkannya hanya saja tanpa sengaja kami makan di restoran xx uang ku tidak cukup suamiku. boleh kah aku menggunakannya?" ternyata meminta izin menggunakan uang.


"itu adalah uang mu sayang gunakanlah, kalau masih kurang minta saja pada Ken." tuan Liam merasa di hargai sebagai suami, sekretaris Ken juga merasakan hal itu dan tanggung jawab nya akan semakin besar sekarang.


"terimakasih suamiku, umaachh " Nadila menutup telepon sepihak,


tuan Liam tidak langsung mengembalikan hp itu, dia penasaran pesan apa saja yang di kirim istrinya pada Ken. setelah puas mengotak atik hp Ken, tuan Liam melempar hp sekretaris Ken sembarangan yang ditangkap gelagapan oleh sekretaris Ken.


"istriku memaki mu Ken hahaha" tuan Liam tidak habis pikir dengan keberanian Nadila.


"saya akan memaklumi hal itu tuan muda" sekertaris Ken beralih pada pekerjaannya yang menumpuk setiap hari.


Nadila kembali kekursinya dengan sikap yang biasa saja kembali bercengkrama dengan temannya.


"apa kamu mencret sehingga sangat lama?" Belinda tidak tahu situasi saat berbicara.


"aku masih lapar bel" Nadila memuaskan diri untuk makan segala sesuatu yang menurutnya menggugah selera.


merasa hari sudah larut mereka berniat untuk meninggalkan restoran xx itu, tanpa diduga sebuah tangan kekar menghentikan Nadila.


"kita bertemu lagi sayang" pria itu tidak ingin melepaskan Nadila. Nadila terkejut saat mengetahui siapa pria yang mencegatnya, jantungnya berdetak cepat ada rasa takut yang mendalam di sana bahkan tubuhnya gemetaran. pria itu adalah Fahri mantan kekasih nadila yang sampai sekarang masih mengejarnya untuk mendapatkan yang diinginkannya. Belinda yang menyadari itu mencoba menyelamatkan temannya dari pria itu.


"lapas, lepaskan aku brengsek!" Nadila begitu ketakutan, dia berharap seseorang datang menyelamatkannya. Semua orang yang ada di restoran itu hanya diam dan tidak ingin ikut campur. "suamiku kamu dimana kumohon datanglah" Nadila begitu berharap akan kedatangan suaminya.


Tarik menarik itu dihentikan oleh sebuah pukulan di wajah Fahri pelakunya sangat dia kenal membuatnya tertawa lepas.


"Tuan Matteo, saya tidak percaya anda ingin ikut campur" Fahri merasa ini kebetulan yang luar biasa seorang Matteo merasa terusik dengan tindakannya.


"lepaskan dia!" Matteo masih berbicara dengan tenang dan mulai memperhatikan luka luka Nadila.


"apa anda juga tertarik dengan ****** ini, pertama sekretaris Ken dan sekarang tuan Matteo. pria mana lagi yang kau naiki ranjangnya Nadila sayang" kata kata hinaan dari Fahri membuat Matteo tidak bisa menahan diri untuk mematahkan tulang Fahri. Pukulan demi pukulan melayang ke wajah Fahri hingga Fahri tersungkur dilantai dengan sangat menggemaskan.


Setelah puas meluapkan amarahnya Matteo mendekati Nadila dan memperhatikan luka di wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya.


"minta maaf padanya tuan Fahri " suara dingin Matteo membuat merinding.


"hahaha dia milikku tuan Matteo" Fahri tidak mungkin serendah itu meminta maaf.


"minta maaf lah dan berhenti sampai disini mengganggu gadis ini. kalau tidak ingin berurusan dengan saya" Matteo menegaskan dia tidak main main.

__ADS_1


Matteo menyuruh anak buahnya mengurus serangga pengganggu seperti Fahri dan memilih mengutamakan Nadila yang terluka.


"maaf kan saya karena terlambat nona, saya akan membawa anda kerumah sakit" Matteo berharap Nadila mau ikut bersamanya.


"terimakasih tuan, saya tidak apa apa saya bisa sendiri" Nadila tidak mengenal pria yang menolongnya itu, dia tidak percaya pada pria yang bertato dan sedikit menakutkan seperti Matteo.


"ayolah, haruskah saya memanggil anda dengan sebutan kakak ipar? saya akan menelpon rumah sakit untuk menyiapkan ruang rawat untukmu" perkataan Matteo membuat Nadila kebingungan sekaligus membuat telinga Fahri terbakar berusaha mencerna panggilan kakak ipar itu.


Setelah berpikir lama dan sedikit paksaan Nadila akhirnya ikut dengan Matteo kerumah sakit walau masih ragu karena Matteo tidak ingin memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya pada Nadila. Sedangkan Belinda diantar oleh asisten Matteo.


mobil mahal dengan penuh gaya itu memasuki area rumah sakit, beberapa dokter sudah bersiap menyambut. Matteo mengirim pesan pada Aditia bahwa Nadila terluka membuat dokter muda itu kalang kabut, pesan singkat menandakan darurat. dokter aditia tidak sabaran langsung berlari ke mobil Matteo dan mendapati Nadila yang mendapat memar di beberapa bagian tubuh. Tidak membuang waktu menggiring Nadila keruang rawat yang sudah di sulap menjadi kamar hotel berbintang.


"mengapa ini jadi sangat berlebihan siapa mereka sebenarnya. suamiku aku takut" Nadila sangat bingung sekarang, dokter Aditia membiarkan salah satu dokter wanita mengobati luka Nadila sedangkan dirinya membawa Matteo keluar.


Aditia melayangkan pukulan ke wajah Matteo yang diterima dengan suka rela oleh Matteo. Seakan mengatakan pukulanmu sangat lemah kawan.


"bagaimana bisa kakak ipar terluka sialan!" Aditia merasa marah melihat Nadila yang terluka, lalu bagaimana dengan tuan Liam nantinya. Bisa dipastikan Aditia akan menerima imbasnya juga karena tidak bisa menyembuhkan Nadila dengan cepat.


"Fahri di Casanova pelakunya" Matteo hanya mengatakan itu sudah mengantarkan otak dokter Aditia pada adegan yang akan terjadi.


"Liam mengetahui?" Aditia yakin Fahri tidak akan bisa mendapat udara untuk bernafas karena Fahri adalah rival yang di biarkan hidup dengan baik selama ini.


Matteo menceritakan kejadian di restoran xx pada Aditia membuat Aditia geram mendengarnya. Tidak mungkin menyembunyikan ini dari Liam dengan sekali panggilan langsung terhubung pada sekretaris Ken. Aditia menyampaikan bahwa Nadila ada dirumah sakit.


Tidak membuang waktu sekretaris Ken mengantar tuan mudanya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan tuan Liam mengoceh. Ingin segera sampai dan melihat keadaan istrinya. Sekretaris Ken berusaha menyetir dengan baik, dibenaknya juga ada kejanggalan tentang Nadila yang masuk rumah sakit.


"Apa nona muda makan terlalu banyak ch, tidak mungkin sampai memalu kan bukan?" sekretaris Ken berargumen hal yang mungkin terjadi.


Tuan Liam sampai di rumah sakit menuju ruangan istrinya dengan sedikit kekesalan dan juga rasa bersalah membiarkan istrinya pergi tanpa nya. Membuka ruangan itu yang disana sudah ada dokter Aditia dan Matteo, mata tuan Liam tertuju pada istrinya yang terbaring di atas branka rumah sakit ada bekas memerah di wajah mulus itu.


"kamu tidak meminta izin padaku melakukan pendakian gunung kan?" merasa tidak percaya dengan istrinya.


"seseorang mengganggunya saat di restoran Liam. Aku sedang melakukan pertemuan dengan klien ku disana." Matteo menjelaskan kejadiannya.


"kau mengenal istriku " Liam belum memperkenalkannya pada Matteo tapi sepertinya itu sudah tidak ada gunanya.


"hahaha aku mengenalmu dengan sangat baik kawan, kau berhutang menemaniku minum malam ini" Matteo merasa sudah cukup berada diruangan itu, dia pergi menyelesaikan urusannya karena nanti malam Liam akan bergabung bersama mereka.


tuan Liam memeriksa luka istrinya berharap tidak ada yang serius, walau beberapa kali Nadila mengatakan dia baik-baik saja tapi tuan Liam merasa khawatir.

__ADS_1


"mulai sekarang kamu dilarang keluar tanpa diriku" tuan Liam tidak mau melihat kejadian seperti ini kedepannya begitu Ken menyimpulkan, harus ada pengawal di sekitar istri tuan mudanya.


__ADS_2