Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 29 Di kamar


__ADS_3

sinar matahari berhasil mengusik tidur dua anak manusia di dalam selimut lembut itu


"selamat pagi tuan" ucapan selamat pagi dari Nadila. di mata tuan Liam wajah bangun tidur Nadila di pagi hari sungguh indah.


"pagi istriku"


tuan Liam memutar tubuhnya menghadap istrinya dan memberi satu kecupan singkat


"apa yang anda lakukan"


"tentu saja memberi ciuman selamat pagi"


wajah wajahnya memerah Nadila tidak bisa berbohong dengan perasaannya yang campur aduk sekarang


"apa kamu tidak mau membalas ku?"


"apa anda sudah lebih baik sekarang tuan?"


Nadila mencoba mengalihkan perhatian tuan Liam.


"belum aku masih sakit"


"ch" decikan kesal nadila


"sakit disini Keith, sayang" tuan Liam menunjuk dadanya


"apa maksud pria gila ini maksudnya sakit hati, bagaimana ini aku tidak tahu cara menanggapi ini" Nadila


"mengapa diam?"


"ah iya, ini sudah pagi tuan sebaiknya anda mandi biar makin segar saya akan menyiapkan airnya"


Nadila dengan cepat berlari kekamar mandi.


Dia tidak tahu bahwa dia telah menyediakan perangkap untuk dirinya sendiri tuan Liam masuk kedalam kamar mandi dan melepas bajunya.


"akhhh... tuan apa yang anda lakukan" Nadila menutup matanya.


"ya Tuhan kesucian mataku ternodai"


"aku mau mandi bukankah kamu yang menyuruhku mandi, seharusnya kamu senang aku mau mengikuti yang kamu katakan" tuan Liam semakin mendekati Nadila hingga tubuh itu membentur dinding kamar mandi.


"tuan" Nadila sangat gugup sekarang


"mau mandi bersama?"


"ti... tidak tuan, tolong menjauhkan sedikit"


"aku akan menjauh kalau kamu memberiku hadiah hhmm" tuan Liam mulai mendekatkan wajahnya semakin dekat dan dekat.


suara ketukan pintu kamar menghentikan kegiatan menyenangkan itu.


mengetahui tuan Liam lengah Nadila dengan cepat keluar dari kamar mandi.


" tok tok " suara pintu lagi


"tuan, apa saya boleh masuk" suara pak man


"ada apa paman" Nadila yang membuka pintu


"selamat pagi nona, ini waktunya sarapan nona. anda ingin sarapan di kamar?"


"kami akan turun sebentar lagi paman"


"baiklah nona"


pak man dapat melihat wajah nona mudanya yang memerah sehingga memutuskan untuk turun lebih dulu, pak man yakin nona mudanya sedang merasa malu sekarang.


Nadila memilih baju untuk tuan Liam, setelah selesai dia duduk di pinggir ranjang. tidak lama pintu kamar mandi itu terbuka tuan Liam keluar dengan wajah yang segar dan rambut basahnya Nadila sempat terpesona akan hal itu. dada bidang dan otot perut yang seperti roti sobek itu membuat matanya tidak berkedip


tuan Liam tersenyum Sepertinya tuan liam memiliki kegiatan baru yaitu menggoda istrinya


"apa kamu baru menyadari kalau suamimu ini sangat tampan?" suara khas tuan Liam


"ya, sangat meresahkan" kata Nadila tanpa sadar dan kemudian menutup mulutnya dengan tangannya


"dasar mulut ini memalukan sekali, tapi mengapa aku baru menyadari bahwa suamiku sangat tampan. aisss sekarang bagaimana menghadapinya" Nadila gelagapan


"sepertinya kamu sudah jatuh cinta padaku"

__ADS_1


"tidak tidak anda bukan tipe saya tuan"


"bukan tipe mu? lalu, seperti apa lelaki idamanmu hmm" tuan Liam


"ada deh yang penting itu bukan anda"


wajah tuan Liam mulai masam dia merasa kecewa, dia mengambil setelan baju yang disiapkan Nadila dan memakainya di depan Nadila tanpa rasa malu. tuan Liam yakin Nadila sedang mencoba mengubur diri di pusat bumi sekarang.


Nadila merasa tuan Liam sudah tidak waras dia berlari ke kamar mandi untuk menyegarkan otaknya.


"aku bisa mati kalau setiap hari seperti ini, apa ini efek dari sakitnya kemarin tuan Liam menjadi tidak tahu malu dan jantungku kenapa berdetak sangat kencang sekarang. "


Nadila mengguyur tubuh di bawah software berharap air itu disa menenangkan perasaannya.


satu jam Nadila keluar dari kamar mandi


" apa kamu tidur? kenapa mandinya lama sekali aku sudah lapar"


Nadila melihat sarapan sudah tersusun di atas meja


"bukankah makanan sudah di depan anda tinggal dimakan saja"


"bodoh!"


Nadila duduk di samping tuan Liam perutnya juga sudah lapar


"seharusnya kita makan di meja makan saja tuan kasihan pak man mengantar ke kamar"


"aku menyuruhnya, lagian kamu terlalu lama di kamar mandi"


"dasar gila!"


mereka mulai sarapan dengan tenang karena cacing dalam perut sudah tidak bisa bekerja sama.


tuan Liam benar benar menjadi pemalas hari ini bahkan keluar kamar pun dia tidak bisa.


"lalu apa yang kita lakukan disini tuan?"


nadila sudah mulai jengah


"apa yang dilakukan suami istri di dalam kamar hmm"


"mau kemana"


"tidak, saya hanya ingin mencari udara saja"


"tetaplah disini, kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi lelaki idamanmu itu seperti apa?"


"apa anda penasaran"


"ku harap bukan pria yang memelukmu itu"


"ch, bukankah sudah saya katakan dia itu adik saya tuan. adik kandung saya, dia masih mahasiswa kemarin mereka ada kunjungan ke kota ini kami sudah lama tidak bertemu saya juga merindukan adik saya dan keluarga saya" suara Nadila melemah


"dimana keluargamu?"


pertanyaan yang tidak terduga dari tuan Liam yang akhir akhir ini semakin perhatian pada Nadila


"mereka sudah pindah ke kampung tuan, orang tua saya sudah berumur jadi tidak diterima bekerja lagi. ayah dan ibu saya memutuskan pindah ke kampung untuk berkebun saja dan adik saya beruntung mendapat beasiswa untuk kuliah."


Nadila menceritakan semua yang terjadi dengan keluarganya yang kekurangan ekonomi.


"lalu apa yang kamu lakukan kenapa tidak ikut bersama mereka?"


"apa anda tidak tahu, bekerja di perusahaan Dewantara group itu adalah impian saya. bekerja di gedung yang besar dan tinggi sampai ke langit dan ber AC itu sudah membuat saya merasa senang dan keluarga saya juga bangga pada saya"


tuan Liam sangat mengerti tentang yang dirasakan Nadila sekarang, itu sama dengan posisinya yang merindukan kehangatan keluarga selama belasan tahun. Dia akui kehadiran Nadila membuat hatinya hangat walau Nadila masih mengatur jarak dengannya dan belum mencintainya.


Nadila merasa tidak adil jika hanya dia yang bercerita


"bagaimana dengan anda, maksud saya keluarga anda dan kakek yang aneh itu?"


"hahaha " perkataan Nadila sangat menggelitik bagi tuan Liam


" kenapa menyebut kakekku aneh"


"tentu saja aneh, dia baru datang dan sudah menyuruh kita menikah"


tuan Liam hanya fokus pada kata 'kita menikah' itu sungguh senang.

__ADS_1


"bukankah bagus kalau kita menikah, ayo bahas tentang kita saja"


"jangan mengalihkan pembicaraan tuan, ayo cerita" memaksa tuan Liam bercerita dan karena mata berbinar istrinya membuatnya luluh.


"baiklah, kita mulai dari mana ya?"


tuan Liam mulai bercerita sepenggal tentang kakeknya


Nadila sudah mengambil posisi yang nyaman seperti seorang anak yang siap mendengarkan dongeng


"Keith, kakek adalah keluarga satu satunya yang ku punya dan aku menyayanginya. banyak kenangan hangat yang kami lalui belasan tahun lalu hingga suatu insiden membuat kami harus berjarak bahkan nyaris sulit untuk bertemu"


mata tuan Liam menerawang mengenang hari itu yang sulit untuk ia terima.


*flashback*


tuan besar umbara memanggil sekretaris Ken ke taman belakang yang sangat asri itu


"anda memanggil saya tuan?" suara sekretaris Ken muda


"duduklah Ken"


"saya akan berada disini saja tuan"


"duduklah Ken, saya ingin bicara sesuatu yang penting denganmu"


suasana di taman itu sepi hanya Giorgi dan Loi yang berdiri dengan jarak tertentu dari mereka.


"apa anda baik baik saja tuan?" sekretaris Ken yang sudah lama berbaur dengan kakek merasakan kegundahan hati sang kakek.


"sepertinya ini sudah saatnya nak, saya percaya kamu bisa menjaga cucuku Liam dengan baik. Jangan memandangnya sebagai tuanmu tapi, sebagai adikmu usia kalian tidak terlalu jauh berikan dia kasih sayang yang sudah hilang ini."


" apa maksud anda tuan? bukan kah kasih sayang dari anda sudah cukup untuk tuan muda" sekretaris Ken tidak mengerti


"Ken, kepergian orang tua Liam bukan tanpa sebab dan demi melindungi Liam saya harus pergi untuk jangka yang tidak di ketahui. dibalik insiden yang terjadi ini ada hal yang besar dan Liam belum sekuat itu menghadapi ini. Saya percaya Liam aman jika kau ada disisinya nak"


sekretaris Ken merasa beban yang di milikinya tidak lah mudah


"kapan anda berangkat"


"nanti malam mungkin Liam sudah tertidur saat itu tiba, berjanjilah kau akan berada di sisinya Ken bagaimana pun keadaannya"


"saya berjanji tuan, saya akan mempertaruhkan hidup saya untuk tuan muda"


tanpa kakek dan ken sadari ada air mata yang mengalir saat mendengar percakapan mereka


*flash off*


air mata tuan Liam jatuh tidak tertahan


"tuan anda baik baik saja?" Nadila khawatir


"hatiku hancur, aku kehilangan harapan Keith kakek pergi di usiaku yang masih remaja Keith "


Nadila mengelus punggung suaminya agar terasa tenang.


"sudah lah tuan jangan mengingatnya lagi"


"aku lega menceritakannya padamu bahkan Ken tidak tahu kalau percakapannya dengan kakek terdengar olehku"


"bagaimana bisa tidak diketahui tuan"


tuan Liam tidak ingin menjawab dia memilih tidur di pangkuan Nadila


"kau tahu, kakek itu sangat menyayangi ku bahkan rasa sayangnya menetapkan Ken di sisiku dan juga menikahkan ku denganmu hahahah "


Nadila reflek memukul kepala tuan Liam.


"saya rasa anda sudah tidak waras tadi menangis sekarang tertawa! kakek itu malapetaka ke dia setelah anda tuan"


"aku lelah Keith biar kan aku tidur"


tuan Liam tidak membalas kelakuan Nadila yang memukul kepalanya dia lebih memilih memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.


nadila mulai mengerti tentang kakek tuan Liam yang penuh ketegasan


"ternyata kakek seorang yang penyayang dia terlihat menakutkan sih dari luar, mungkin begitulah caranya melindungi keluarganya walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi di keluarga ini tapi, sepertinya kehidupan orang yang menjadi suamiku ini tidak lah muda"


mata Nadila semakin memberat lalu menyusul suaminya ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2