Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 49 berterimakasih


__ADS_3

Kehidupan di perkampungan sangat menenangkan, tuan Liam mendapatkan kesenangan disana tanpa tuntutan pekerjaan dan lembaran kertas yang berantakan diatas meja kerja. Tuan Liam benar-benar mendapat liburan sepenuhnya yang tidak diselingi dengan pekerjaan atau pertemuan klien seperti biasa yang dilakukan. Dan hari ini liburan itu diakhiri karena meninggalkan perusahaan terlalu lama juga sangat beresiko, tuan Liam tetap lah tuan Liam yang memiliki tanggungjawab diperusahaan.


Kepulangan ke ibu kota kali ini tidak melewati darat lagi, tuan Liam menggunakan helikopter agar lebih cepat dia tidak ingin istrinya kelelahan. Dengan terbang di udara mereka sampai di ibukota dalam waktu tiga jam saja.


Setelah dirumah utama tuan Liam memilih bermalas malasan di depan televisi yg tentunya tidak sendirian dia membawa istrinya bermalas malasan juga.


"suamiku apa kamu dan kangsan baik-baik saja?" Nadila dapat melihat sorot mata kangsan yang keras kepala tidak menyukai tuan Liam, Namun dia terheran tuan Liam tidak menghiraukan tingkah kangsan yang tidak sopan.


"Dila sayang, apa kamu sudah mencintaiku?" tuan Liam berbicara sambil mengelus perut rata istrinya. Nadila malah menghindar dan kesal, tuan Liam tidak pernah menghiraukan pertanyaannya. Dia juga bingung harus menjawab apa tentang pertanyaan tuan Liam.


Nadila memilih masuk kedalam kamar dia belum mempersiapkan jawaban dari pertanyaan suaminya. Menikmati pemandangan dari atas balkon kamar lebih baik pikirnya. Kesenangan berdiam diri itu tidak berlangsung lama saat tangan kekar melingkar di perutnya.


"kenapa menghindari pertanyaan ku sayang hmm" tuan Liam sangat kecewa dengan istrinya yang belum juga mengakui perasaannya.


Dia bukan tipe yang romantis yang membuang buang waktu untuk menyiapkan tempat yang indah dan hal lainnya dalam mengungkapkan perasaan. Baginya Nadila sudah menjadi istrinya sejak awal, hanya orang yang masih pacaran yang melakukan kencan romantis mengungkapkan perasaan.


Sekarang posisi mereka saling berhadapan, tatapan tuan Liam yang sangat menenangkan meluluhkan hati Nadila sungguh cobaan berat menolak pria berstatus suaminya.


"bukankah kita sudah menikah bahkan telah melakukan lebih dari itu. aku rasa perkataan itu tidak penting tuan muda Liam, ini sudah mulai larut lebih baik kita beristirahat" Nadila berbicara menahan kegugupannya dan kemudian berlari ketempat tidur. Bohong jika suaminya tidak kecewa akan hal itu, sangat lama dia berdiam di balkon kamar itu.


"mengapa sangat sulit Nadila, mengapa? apa di hatimu tidak tersentuh akan cinta yang kuberikan?" dering ponsel menyadarkan tuan Liam.


"selamat malam tuan muda" suara di seberang sana memberi salam terlebih dulu.

__ADS_1


"hmm" jawaban yang dapat membuat siapapun membanting bumi. setelah telepon singkat itu, tuan Liam turun ke ruang kerjanya.


Diruang kerja sudah berkumpul orang-orang yang selalu menjadi bayangan tuan Liam Ken dan Loi dengan ekspresi yang tidak terbaca, mereka sedang dalam keadaan bersiaga.


"Tuan muda, pernikahan anda sepertinya sangat cepat menyebar ke telinga musuh" kata Ken.


"sudah kuduga" tuan Liam menghela nafas dia berada dalam keadaan yang sangat sulit saat ini.


Tuan Liam memperketat penjagaan untuk istrinya dia yakin Geronimo mengincar istrinya. sangat lama mereka tenggelam didalam ruangan estetik itu, Loi mengatakan kakek telah kembali ke Italia dan akan menetap disana. Geronimo bergerak cepat dan membobol keamanan perusahaan di Italia untuk itu kakek meninggalkan kota itu.


Tuan Liam kembali kekamar menghampiri istrinya yang terlelap tidak lupa menghadiahi sebuah kecupan di kening wanita yang mengotak atik hatinya. Matanya sulit terpejam sehingga memilih duduk disisi ranjang. Tanpa tuan Liam sadari istrinya terjaga karena kecupannya dan tangan itu perlahan menggenggam tangannya.


"kamu darimana?" tanya Nadila sambil menyandarkan kepalanya bahu suaminya, posisi yang sangat romantis di remang-remang malam.


"hanya kebawah sebentar, tidurlah lagi hmm" tuan Liam membantu istrinya berbaring tapi Nadila menolak.


"apa itu terlalu aneh bagimu? Dila cinta yang ku miliki sangatlah besar padamu, rasa sayangku tidak bisa diukur dengan tolak ukur apapun itu. Aku juga tidak tahu mengapa hatiku seperti ini, bahkan aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi gila padamu. Aku hanya ingin tahu seberapa berarti diriku bagimu Dila, itu saja tidak lebih." tuan Liam menatap manik mata istrinya menyatakan keseriusannya, dia buka pria pembual.


Nadila terdiam mendengar perkataan suaminya perlahan wajah mereka semakin berdekatan dan b**** mereka saling bertautan. Nadila memberikan c**man hangat di b**** suaminya, sempat tuan Liam terkejut saat merasakan bibir istrinya yang mendarat di bibirnya. Tuan Liam tidak kuasa menolak perlakuan istrinya, c**uman mesra itu terjadi hingga menghanyutkan Mereka bahkan tuan Liam mulai mendominasi menuntun istrinya terbaring. Nadila dengan cepat mendorong suaminya yang sepertinya sudah yg terpancing, tuan Liam tidak percaya Nadila menghentikan suasana yang baru saja memanas itu. Dia hanya bisa menatap istrinya seraya bertanya lewat tatapannya mengapa berhenti sayang? begitulah mata sayu itu berbicara.


Nadila menelusuri wajah tampan suaminya yang sedang menguningnya, sebuah senyuman manis terukir di bibir ranumnya.


"aku sangat mencintaimu suamiku, seberapa berusahanya aku menutup hatiku dan aku tidak punya kuasa melarikan diri darimu. Tuan Liam kamu adalah suamiku, dan rasa nyamanku membuat hati ini menyimpan namamu sangat dalam bahkan disaat tersulit ku hanya namamu yang kusebut yang akan datang menolong, aku bahkan sulit hidup tanpamu, aku aman bersamamu. Apakah aku layak mencintaimu?" Nadila menjelaskan sejauh mana perasaannya yang campur aduk sekarang.

__ADS_1


tuan Liam memberikan ciuman kembali kata-kata istrinya sangat menyejukkan hati, walau masih gantung karena pertanyaan tentang kelayakan tapi dia sudah mendapatkan pengakuan istrinya.


"jangan pernah berhenti mencintaiku sayang" harapan tuan Liam.


"aku mencintaimu suamiku" perkataan terakhir Nadila tidak bisa menghentikan kejadian dimalam yang sunyi. tuan Liam benar-benar menyalurkan cintanya bukan hanya dengan perkataan tetapi perlakuan, tuan Liam ingin menciptakan sesuatu yang tidak terlupakan di antara mereka.


Entah siapa yang memulai namun saat ini sepasang suami istri yang sedang kasmaran itu sudah kehilangan kain di seluruh tubuhnya, malam ini Nadila melayani suaminya untuk pertama kali setelah pengakuan cinta. Sentuhan suaminya bagai sengatan listrik ditubuhnya.


"aku bisa gila, aku terlambat merasakan sentuhan ini" Nadila


"maukah kamu mengandung anakku dilaku sayang " permintaan mendalam tuan Liam.


"aku sangat bahagia jika mendapat kesempatan itu suamiku" jawaban Nadila menghilangkan keraguan tuan Liam, cintanya diindahkan oleh istrinya.


Tuan Liam melakukan dengan sangat lembut membuat Nadila melayang, melihat ekspresi istrinya tuan Liam merasa puas tidak membuang waktu dia menuju intinya beberapa hentakan dia berhasil memasuki istrinya.


"kamu baik-baik saja sayang" merasakan milikinya yang terjepit tuan Liam yakin istrinya merasa sakit, dia mengecup seluruh bagian wajah istrinya untuk menyamarkan rasa sakit. Nadila hanya pasrah pada perlakuan suaminya.


"jika tidak nyaman bilang ya, aku akan bergerak hmm" tuan Liam bergerak dengan beberapa tempo yg ang bergantian, membentuk suara kenikmatan dari istrinya.


"hah akhhh sssttt ahh" Nadila benar benar frustasi dengan permainan suaminya, semakin Nadila mendesah tuan Liam semakin mempercepat gerakannya.


"suamiku a..aku mau..." Nadila bahkan sulit mengeluarkan suara, suaminya benar benar gila diatas ranjang.

__ADS_1


"tahan sayang sebentar lagi" tuan Liam merasakan puncaknya dia mengerang melepas sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Cairan hangat mengalir dalam rahim istrinya dengan dada yang naik turun menetralkan nafasnya. Nadila mematung saat merasakan kehangatan dibawah dirinya, dia memeluk suaminya erat.


"terimakasih sayang, aku bahagia malam ini" perkataan tuan Liam sebelum ambruk di sisi istrinya.


__ADS_2