
Keluarga Nadila terpaksa menginap di rumah utama atas permintaan yang lebih mengarah pada perintah tidak terbantahkan dari kakek. Kakek tidak setuju jika tamunya pulang dengan cepat dia ingin tamunya menginap dan akan pulang besok bersamanya dengan jet pribadinya mengingat kampung halaman Nadila yang sangat jauh dari kota.
"aturan semuanya Giorgi" kata kakek.
"maafkan saya tuan besar, tapi tidak ada kawasan mendarat di sana jadi terpaksa saya sarankan lewat darat saja biarkan pengawal yang mengantar keluarga nona muda pulang" kata Giorgi takut mengecewakan tuannya. Kakek menatap Giorgi meminta penjelasan lebih lanjut, bagaimana bisa Giorgi tidak menemukan solusi yang menyenangkan hati pikirnya.
"tuan, jalan menuju ke sana sangat jauh dan..." perkataan Giorgi di hentikan
"kau terlalu banyak bicara" kakek tidak ingin mendengar lagi dan memilih memejamkan matanya, Giorgi pun diam karena mengerti situasi seperti itu tidak dapat di ganggu. Kakek yang akan memberi solusinya nanti itulah kesimpulan dari Giorgi.
Berpindah pada dua pria yang berbeda usia dengan pola pikir yang jauh berbeda. Tuan Liam sedang bersama adik iparnya di ruang kerja, bukan karena di panggil tapi Kangsan yang ingin datang menemui tuan Liam yang mendapat posisi sebagai kakak iparnya.
Kangsan mengagumi kekayaan dan kekuasaan tuan Liam jika di lihat dari sudut pandang manapun, hanya sekedar mengagumi dan tidak ada maksud di balik itu. Kangsan tidak menyukai tuan Liam karena apa yang dimilikinya tapi karena ketulusan hati dan cinta tuan Liam yang terpampang di depan mata tidak terukur dengan apapun juga.
"apa saya mengganggu anda tuan?" kata Kangsan setelah merasa dekat dengan tempat tuan Liam duduk.
"kamu tahu kedatangan mu akan mengganggu, lalu untuk apa pertanyaan itu?" tuan Liam berhasil membungkam mulut Kangsan.
Kangsan selalu merasa sulit bersama dengan tuan Liam, tapi dia harus bisa untuk berdamai bagaimanapun caranya. Tanpa suara Kangsan pergi menuju sofa di ruangan itu, dia hanya duduk dan menunggu tuan Liam selesai dengan pekerjaannya. Sangat lama Kangsan duduk disana yang membuatnya mendapatkan sebuah definisi dari kata menunggu itu seperti apa rasanya, bosan tentu saja.
"apa yang membawamu kemari?" suara bariton tuan Liam mengejutkan Kangsan hingga terjungkal dari sofa, tiba-tiba tuan Liam sudah berdiri di samping nya.
"sialan, kamu mengejutkanku!" suara kekesalan Kangsan yang sedetik kemudian baru disadarinya.
__ADS_1
"ch, duduklah dengan benar bocah" Tuan Liam mengambil tempat yang nyaman di depan Kangsan agar dia bisa berhadapan dengan lawan bicaranya.
Sama seperti Ken sebutan untuk Kangsan adalah bocah, kangsan merasa gugup dengan tatapan tuan Liam padanya. Tatapan tuan Liam yang sangat menantang dan mendominasi membuat lawan bicaranya kalah sebelum memulai. Kangsan berusaha menguasai dirinya agar bisa mengobrol dengan beberapa kalimat dengan pria dihadapannya.
"hm, hm terimakasih" kata kangsan kemudian terdiam.
"katakan dengan jelas alasanmu" tuan Liam tidak tahu kemana arah pembicaraan ini.
Kangsan berterimakasih pada tuan Liam yang telah membawa kakaknya kembali, ada haru bahagia dari lubuk hatinya dan dia percaya bahwa cinta dan sayang yang di miliki tuan Liam untuk kakaknya Nadila lebih besar dari kasih sayangnya sebagai seorang adik. Bisa saja tuan Liam meninggalkan Nadila di tengah lautan dan menjadi mangsa monster air tapi nyatanya tuan Liam lebih mengutamakan Nadila.
"kami sangat jauh status dari anda, saya kadang bertanya tanya bagaimana kami bisa di sandingkan dengan anda yang memiliki segalanya. Terimakasih sudah menyayangi kak Nadila." kata Kangsan menunduk.
"apa kamu menangis?" tuan Liam merasa sedang menghadapi anak ingusan.
Kangsan kebingungan ditandai dengan kerutan di keningnya, bekal yang aneh, rasa telur. Makanan apa itu yang menarik perhatian seorang tuan Liam yang sangat berkelas ini.
"apa itu telur gulung?" tebak Kangsan.
"ya, benar sekali hahaha. Asal kau tahu aku sangat bahagia saat menikmati bekal itu secara diam-diam" tuan Liam kau sangat jujur bahkan untuk kedua kali nya kangsan kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"apa ini dapat di simpulkan anda mencuri bekal makan siang orang. ch memalukan" kangsan.
"bukan memalukan tapi menyenangkan, itu rahasia kita mengerti!" ah tuan Liam ini selalu ada kadang kadang nya. Kangsan hanya mengangguk dan sekian detik kemudian mereka berdua tertawa karena menemukan hal baru dalam percakapan mereka, bayangan di kepala mereka adalah tentang wajah bingung Nadila saat makan siangnya telah habis di sedot oleh tuan Liam. Kangsan tahu pasti wajah kakaknya seperti apa karena dia juga sering melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan tuan Liam itu. Bisa di simpulkan saudara ipar sudah mulai menyesuaikan diri sekarang.
__ADS_1
ketukan pintu menghentikan tawa mereka yang entah sedang membahas apa saja di dalam ruangan kerja itu, pak man muncul dengan dua gelas dan cemilan buah yang baik di konsumsi di malam hari. Kepala pelayan yang selalu teliti melakukan sesuatu dan mengerti apa yang di butuhkan dalam ruangan itu.
"maafkan saya tuan muda kalau mengganggu anda, memakan cemilan buah sangat baik untuk kesehatan. Tuan muda sudah lama berada dalam ruangan kerja makanlah sesuatu tuan muda" kata pak man meletakkan nampan di meja kaca.
"the terimakasih pak, pergilah istirahat saya sudah tidak membutuhkan apapun" kata tuan Liam yang menyadari bahwa pak man belum meninggalkan dirinya sejak tadi. Itulah pak man selalu mengutamakan tuan mudanya yang dia sayangi seperti putra sendiri.
pak man pergi setelah mendengar perkataan tuan Liam dia yakin setelahnya tuan Liam akan kembali ke kamarnya. Tidak mungkin tuan Liam meninggalkan Nadila terlalu lama sendirian.
"tuan muda sangat akrab dengan adik nona Nadila sepertinya tidak masalah jika aku meninggalkan untuk beristirahat sejenak" pak man berlalu hilang bersama kegelapan karena lampu yang di padamkan.
sangat banyak pembicaraan yang mereka lakukan di dalam sana hingga tidak terasa sudah sangat larut malam, tuan Liam menguap dan merasakan otot nya kaku baru disadarinya kalau dia telah membuang banyak waktu istirahat.
Seakan telah memenangkan undian Kangsan sangat senang setelah berpisah dengan tuan Liam. Dia bahkan bermimpi hal baik dan itu sangat jelas dengan tidurnya yang dihiasi oleh senyuman, itu sangat menggelikan bukan?
*
Sangat tanggung author up yang banyak dong🤭
sabar sabar author sedang berusaha nih, otak author tiba tiba blank nih.
ayo sobat author beri semangat dulu biar author bisa up trus😁
Tidak lupa author juga mengharapkan saran dari pembaca yang menemani author, salam jauh author 🤗🤗🤗
__ADS_1