
Tidak terasa kehamilan yang dilalui Nadila telah menginjak delapan bulan, tuan Liam yang mencintai istrinya mempersiapkan segalanya mulai dari penentuan hari lahir bahkan pemilihan dokter wanita yang profesional. Tuan Liam melakukan hal konyol sekonyol konyolnya, rasa takutnya melebihi dari seorang calon ibu yang akan melahirkan. Nadila merasa lega setelah mendapat arahan dan penyemangat dari dokter tapi mendengar penuturan dokter membuat tuan Liam tidak terima.
"kalian gila bagaimana bisa istriku akan kesakitan!" tuan Liam tidak ingin Nadila mengalami nasib yang sama seperti wanita hamil yang sedang di tampilkan di layar lebar itu, kemarahannya menyemprot semua dokter yang ada disana.
"itu sudah alami tuan, semua akan baik-baik saja jadi jangan khawatir" dokter wanita itu mulai menjelaskan tapi sepertinya nasibnya sangat buruk karena mendapat amukan dari tuan Liam.
"sayang, ini demi bayi kita hm" Nadila berusaha menenangkan kegilaan suaminya yang tidak tahu malu.
Proses USG juga di lakukan karena tuan Liam sudah rindu ingin melihat anaknya yang imut di dalam perut Nadila. saat layar itu memperlihatkan yang mungil tuan Liam kegirangan hatinya mengembang mekar. Tuan Liam memeluk istrinya tanpa menutup mata para dokter dan suster dalam ruangan itu, dokter Aditia hanya dapat mengusap wajahnya seharian ini rumah sakit menjadi repot oleh kedatangan pasien gila.
"ini lebih melelahkan dari pada menghadapi 10 operasi beruntun plus lembur. aku tidak pernah stress kalau berurusan dengan pasien selama ini, tapi dasar kau Liam yang bodoh bahkan semua sarafku berpindah tempat menyaksikan kegilaanmu seharian ini." Aditia.
Benar, bukan hanya Dokter Aditia yang merasa gila tapi dokter yang lainnya juga, pemeriksaan kandungan yang mereka lakukan seperti melakukan penjinakan pada bom waktu. Semua dokter harus berhati-hati dalam bertindak karena takut akan menginjak ranjau darat, begitulah cara mereka bekerja melayani Nadila.
"berhentilah memikirkan hal bodoh di kepalamu, aku hanya ingin istriku aman lakukan semuanya tanpa ada kesalahan" kata tuan Liam yang paham dengan pola pikir Dokter Aditia.
"bisa kah kamu keluar saja? biarkan kakak ipar menjalani pemeriksaan dengan tenang, kamu membuatnya kesulitan sedari tadi" jelas Aditia yang kehabisan ide, satu-satunya cara adalah menjauhkan tuan Liam agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Tuan Liam yang keras kepala tetap bersama istrinya, Ken menyeret dokter Aditia dari ruangan itu. Dokter Aditia dianggap sebagai pengganggu karena terus menerus menyuruh tuan Liam menjauhi istrinya.
Didalam ruangan tuan Liam terus saja membicarakan anaknya, saat mendengar detak jantung putranya dia sangat terharu. Jantung tuan Liam juga ikut berirama karena bahagianya yang tidak terungkap dengan kata-kata.
"kamu harus kuat ya sayang, aku tidak akan meninggalkan kalian" kata tuan Liam mencium kepala istrinya, sangat romantis. Nadila juga ikut bahagia mendapati suami seperti tuan Liam, calon ibu itu tidak keberatan dengan keributan yang dilakukan oleh tuan Liam selama pengontrolan kandungan tadi.
Proses ****** kandungan dan persiapan kelahiran berakhir di sore hari, semua dokter dirumah sakit bisa bernafas lega bahkan ada yang berlarian ke toilet karena menahan nya sedari tadi. Mereka bahkan menunda panggilan alam hanya demi menciptakan suasana sempurna di mata tuan Liam, kalau tidak rumah sakit itu dapat diratakan dalam sekejap mata.
Mobil tuan Liam di kemudikan oleh Ken, perjalanan pulang ini sepertinya tidak akan mulus. Ken harus menciptakan strategi agar tidak terjadi hal yang sama di masa lalu, sangat banyak mobil yang mengawal mereka bahkan Ken mengacau dan mengacak arah agar tidak terdeteksi oleh siapapun.
"pastikan identitas nona muda tidak dapat tercium oleh apapun sebelum kelahiran" itu pesan Ken kepada seluruh pengawal Dewantara yang sebagian besar belum melihat bentuk wajah Nadila, walau begitu mereka tetap menjalankan perintah untuk melenyapkan siapapun yang mendekati tempat Nadila berada.
"aku akan sangat bahagia jika bisa melewatinya, suamiku" air muka Nadila tidak dapat berbohong kalau dia menginginkan untuk lahiran secara normal.
Ken juga menyaksikan penjelasan dari dokter dirumah sakit tadi dan mendengar pilihan Nadila, seorang Ken merinding dia juga ikut merasakan kegundahan hati sekarang. Ada apa denganmu Ken? sangat lucu Ken memiliki filing yang sama dengan majikannya.
Perjalanan mereka untuk Samapi di rumah utama berakhir, tuan Liam membantu istrinya berjalan kedalam rumah yang di sambut oleh kakek tua dengan wajah sangar. Yang dia hampiri adalah Ken untuk meminta laporan pemeriksaan.
__ADS_1
"lihatlah Giorgi cicit ku ada dalam gambar itu" kakek kegirangan dan memamerkan bayi yang belum lahir.
"selamat tuan besar" Giorgi ikut senang, selama sepuluh tahun terakhir tuan besarnya baru mengekspresikan kebahagiaan yang sedalam ini.
"baiklah menantu pergilah istirahat, pak man siapkan makanan sehat untuk menantuku" kata kakek yang sudah akrab dengan Nadila. Nadila juga tidak canggung lagi dengan Kakek.
Ketahuilah pemirsa tuan Liam tidak pernah lepas dari istrinya, dia selalu lengket seperti perekat bahkan sudah meminta cuti sejak kemarin. Ken lah yang direpotkan dalam hal ini, memiliki pekerjaan ganda seakan dia bekerja menafkahi putranya yang tidak berguna seperti tuan Liam.
"apa dia menendang lagi sayang?" tanya tuan Liam mengelus perut yang membesar itu.
"dia sangat pintar sayang" kata Nadila merasa gemes dengan kelakuan bayi besarnya.
"boleh kah aku menjenguknya, aku merasa tiba-tiba merindukannya sayang" nah begitulah akhirnya tuan Liam yang kehilangan kendali.
Tanpa mendengar jawaban Nadila dia sudah mendapati bibir Nadila, tuan Liam menahan tengkuk nadila agar c**m**nya semakin dalam. Nadila tidak berdaya melawan karena tubuhnya memberi respon yang sebaliknya. Nadila menerima sentuhan lembut dari tuan Liam, yang membuatnya terhanyut dan terbang di awan-awan. Setelah merasa waktu yang tepat tuan Liam mengatur posisi yang tidak mengganggu bayinya.
"apa begini nyaman sayang?" tuan Liam memposisikan diri untuk melakukan dari belakang.
__ADS_1
"hm" Nadila mengangguk menandakan setuju dengan posisi pilihan suaminya dan begitulah akhirnya mereka melewati sisa hari dengan menyenangkan. Mood ibu hamil sangat menguntungkan tuan Liam karena akhir akhir ini istrinya selalu menerimanya tanpa menolak sehingga mereka dapat menikmati kesenangan bersama-sama.
Tuan Liam tidak sembarangan menyentuh istrinya dia selalu meminta pendapat para dokter tentang bahaya tidaknya yang dia lakukan, namanya laki-laki pasti memiliki gairah yang sulit terkontrol jika berurusan dengan pasangannya. Begitulah yang dirasakan tuan Liam sangat sulit untuk menganggur istrinya.