
sebuah mobil mahal yang memiliki Kilauan yang bersinar menyilaukan mata singgah di parkiran khusus Presdir tidak ada yang berani menghalangi karena mereka tahu betul siapa pemilik mobil itu.
seorang wanita cantik dan seksi keluar dengan sangat elegan dari dalam mobil itu. wanita itu berjalan disaksikan seluruh karyawan, melihat wanita secantik dan seksi membuat para pria ngiler melihatnya.
"beruntung sekali aku siang ini, bisa melihat wanita seksi dia model yang selalu ku bawa dalam mimpi"
"dia sangat cantik"
"bukankah itu model yang sedang naik daun itu"
"dia memang cantik kepantasan banyak yang menyukai model itu"
bisik bisik para karyawan.
wanita itu berjalan dengan high heels nya yang memanjakan kaki memasuki lift.
lift itu berhenti di lantai paling atas tempat Presdir bertahta.
"apa tuan Liam ada di dalam?"
"maaf nona apa anda sudah membuat janji"
tanya sekretaris wanita yang berjaga itu, tugasnya adalah melayani tamu yang datang.
"apa saya harus buat janji untuk calon suami saya?" kata wanita itu.
"maaf nona, siapa pun anda wajib membuat janji terlebih dahulu"
"kau tidak mengenal saya ya! awas kau"
wanita itu mencoba menerobos masuk tapi masih ditahan oleh sekretaris wanita menimbulkan sedikit keributan di depan ruangan itu.
sekretaris Ken merasa terganggu sehingga memeriksa keadaan. Dia tidak heran dengan tamu yang baru saja dia lihat, sekretaris Ken menganggap dia adalah seekor tikus yang baru keluar dari tempat persembunyiannya.
"saya tidak percaya anda punya jadwal senggang nona" senyum sinis sekretaris Ken
"saya datang bertemu Liam"
"mulai sekarang bersikap sopan lah nona. apa pekerjaan yang anda jalani tidak menerapkan kesopanan?"
"apa maksudmu "
"saya turut mengucapkan selamat atas kesuksesan anda nona"
itu adalah sebuah ejekan dari sekretaris Ken.
"dimana Liam!"
sekretaris Ken menunjuk pintu ruangan, tidak membuang waktu wanita itu masuk tanpa mengetuk pintu.
Tuan Liam melihat kearah pintu, sebentar dia terpaku wanita yang perna singgah di hatinya itu berdiri dihadapannya. Sekejap kemudian dia tersadar dan memasang wajah datar, sepertinya dia terganggu setelah melihat penampilan wanita itu.
"Jennie".
"Liam. ternyata kamu tidak melupakan ku, sayang" Jennie senang tuan Liam ingat padanya, itu berarti dia punya kesempatan untuk kembali. dia mantan kekasih tuan Liam.
sekretaris Ken masuk membawa beberapa dokumen proyek.
"tuan muda sebentar lagi anda ada meeting."
sekretaris Ken seakan tidak melihat keberadaan wanita itu.
tuan Liam sibuk dengan pekerjaannya kembali, memilih mengabaikan Jennie
"tuan muda sedang sibuk nona, silahkan datang lain kali" usir sekretaris Ken
"sekretaris Ken saya ingin bicara dengan tuanmu tolong tinggalkan kami!"
sekretaris Ken melirik tuannya, tuan Liam memberi respon seperti biasa.
sekarang Jennie berjalan mendekati kursi tuan Liam memberanikan diri memeluk dengan hangat.
"aku merindukan tentang kita Liam"
"keluarlah Ken!" Ken meninggalkan ruangan tanpa suara.
mereka duduk di sofa seperti biasa tuan Liam mencari tempat yang nyaman untuk berinteraksi dengan tamunya.
"Liam, maafkan aku. aku mohon, aku masih sangat mencintaimu. ayo kembali lagi seperti dulu Liam " Jennie menyentuh tangan tuan Liam dengan mesra.
"Aku sudah berubah Jen"
tolak tuan Liam yang masih mempertimbangkan perasaannya.
__ADS_1
"aku yakin kalau kamu masih mencintaiku, Liam sayang."
Jennie melancarkan aksinya duduk dipangkuan tuan Liam, berusaha mengingatkan Liam tentang masa termanis yang perna terjadi diantara mereka. memberi beberapa sentuhan ironis yang mampu menggoyahkan jiwa lelaki.
"apa kau sejalang itu Jen. pergilah! dihari saat kau mengkhianati ku, saat itulah aku sudah menghapus namamu di hati ku"
Tuan Liam berdiri menjauhi Jennie adegan yang baru saja terjadi membuatnya teringat pada istri nya, sepertinya di pikirannya saat ini hanya istri nya. Jennie tidak menyerah dia memeluk tubuh Liam supaya Liam bisa luluh padanya walau hanya sedikit seperti dulu. tetapi yang di rasakan Liam berbeda tidak ada kenyamanan seperti dulu lagi.
"apa aku sudah melupakannya? Bahkan hatiku tidak bergetar seperti dulu rasa ini seperti hambar."
tuan Liam memejamkan matanya mencari kebenaran dihatinya lalu melepas pelukan Jennie.
" pergilah Jen, anggap saja ini pelukan terakhir mu"
"Liam " Jennie masih tidak menyerah.
"kau sudah hilang di hatiku Jen dan kuharap kau tahu alasannya"
*flashback*
lima tahun yang lalu perusahaan Dewantara group mengalami krisis yang menggoncangkan, karena kesedihan Liam yang sedang berduka. tuan Liam ditinggalkan kembali oleh orang yang sangat dia cintai seumur hidupnya. usianya yang baru dewasa belum siap akan segala yang terjadi di depan matanya. tuan Liam merasakan kesendirian yang mendalam separuh kehidupannya melayang saat itu.
karena rasa sedih yang mendalam dia Ingin membaginya kepada orang yang dianggapnya berarti, dia menuju sebuah apartemen yang di ketahui nya.
"Fahri kamu luar biasa sayang"
suara yang dia kenal mencemari telinganya. dia menyaksikan kekasihnya yang sedang memadu kasih dengan pria lain.
"semuanya untukmu Jennie sayang hmmm"
suara kenikmatan di dalam kamar yang terbuka itu.
"teruslah!"
"mengapa tidak melakukannya dengan Liam"
"Liam tidak mau menyentuhku! akh... itu sangat dalam" desahnya
"kenapa? kuharap dia masih normal"
Fahri tidak melewatkan setiap inci tubuh Jennie menyalurkan hasrat yang mendalam, memberi sensasi yang tidak terlupakan
"akh... ahh...hmmm. dia terlalu sibuk akhh..."
Fahri merasakan saatnya, menambah kecepatan gerakannya yang membuat Jennie menjerit nikmat. Mereka mencapai puncak kenikmatan bersama dan semua itu di saksikan Liam sampai selesai, hatinya hancur seperti gelas yang pecah ini sungguh diluar dugaannya. Dia tidak membicarakan hal itu pada Jennie tapi mengakhiri hubungan begitu saja.
*flash off "
Jennie sudah pergi di usir oleh sekretaris Ken, untungnya sekretaris Ken bergerak cepat kalau tidak maka keadaan akan sangat runyam. Sekarang mereka di dalam mobil sedang melakukan perjalanan peninjauan lapangan secara langsung, mungkin ini juga peluncuran pertama Nadila setelah menjadi asisten pribadi tuan Liam dalam pembangunan taman. Nadila sangat antusias dengan desain yang indah itu.
"catat semua progres hari ini jangan terlewatkan" perintah tuan Liam.
"baiklah tuan" jawab Nadila menoleh, tapi sepertinya melihat sesuatu.
"bekas lipstik! lipstik siapa itu? apa dia habis bermesraan dengan wanita lain atau kekasihnya, tapi pacar tuan Liam kan tidak ada" Nadila
gerakan mata Nadila di tangkap oleh sekretaris Ken, mengikuti arah pandangan itu. sekretaris Ken menyadari raut wajah Nadila yang berubah.
"nona Jennie anda benar benar licik baiklah mari kita buat ini semakin menarik. Tapi, sial bagaimana tuan muda tidak menyadarinya"
Nadila bersikap biasa hari ini, bahkan dia tidak menerima uluran tangan tuan Liam yang membantunya berjalan di area yang sulit dia lalui dengan sepatunya itu.
"kau ingin kakimu patah!"
"tidak"
"mengapa tidak meraih tangan saya"
"saya bisa sendiri tuan sebaiknya anda berhati hati saja anda bahkan tidak sadar kecelakaan yang menimpa anda"
"apa maksudmu, gadis ini!" kesal tuan Liam.
Nadila pergi menuju mobil pemantauan itu sudah berakhir
"ada apa dengan gadis itu Ken?"
"noda di kemeja anda tuan muda" sekretaris Ken memberikan tisu untuk membersihkannya.
"sial apa ini!"
tuan Liam benar benar salah mengira tentang Jennie ternyata Jennie memberi tanda kepemilikannya.
"sepertinya nona muda merasa tidak dihargai oleh anda. Bagaimana pun anda dan nona sudah menikah secara agama dan hukum tuan, mungkin hanya di atas kertas tapi bagi mereka wanita biasa dan sederhana itu adalah sesuatu yang sangat berarti. Nona mungkin merasa terhina sebagai status istri anda." sekretaris Ken ingin mengatakan bahwa Nadila cemburu tapi itu terlalu lebay.
__ADS_1
sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian Nadila bahkan sibuk sendiri hingga sampai dirumah dia masuk kamar lebih dulu.
"beraninya kamu mengabaikan ku"
"apa masalahmu tuan"
"kau yang bermasalah Nadila Keith "
"lakukan saja apa yang membuat anda senang tuan, jangan mengganggu saya!"
Nadila pergi ke balkon mencari udara segar, entah mengapa hatinya merasa sakit saat melihat ada yang mendekati tuan Liam.
"masuk!"
"saya bilang jangan ganggu saya"
Nadila meronta saat tuan Liam menyuruhnya masuk.
Tuan Liam terpaksa mengangkat tubuh Nadila dan meletakkannya di tempat tidur.
"apa yang anda lakukan!"
berusaha melepaskan diri tapi sayang kekuatannya tidak sebanding dengan tuan Liam
"katakanlah, apa yang kau pikirkan" tuan Liam mengunci Nadila dibawah Kungkungan nya
"memangnya apa!"
"kau tidak mau jujur"
Tuan Liam mendekatkan wajahnya mencium Nadila dengan paksa. Nadila bahkan kehabisan nafas olehnya
"mengapa kau melakukannya hah"
"kau istriku mengapa tidak!"
"saya membenci mu tuan, hiks... sudah berapa wanita yang bercinta dengan anda, saya tidak ingin di cium oleh anda"
"sekarang otak mu sudah kemana mana" Liam.
"anda baru saja bercinta dengan wanita lain, tapi sekarang kau ingin mendekati saya dan juga mencium saya dasar brengsek "
Nadila mengeluarkan kekesalannya, dia semakin merasa terhina oleh suaminya sendiri.
Tuan Liam merasa Nadila salah paham dengannya, bukankah Nadila tidak perna memperhatikannya apa pun yang dia lakukan lalu kenapa sekarang berubah.
"memangnya kau melihat saya bercinta dengan siapa"
"apa anda kehilangan kesadaran, bekas ciumannya bahkan melekat di kemeja anda tidak usah pamer pada saya tuan, saya tahu anda bisa melakukan dan mendapatkan apa saja yang anda mau, seharusnya begitu kan"
Nadila mengambil bantal dan pergi tidur di sofa. sangat jelas di balik selimut itu Nadila sedang menangis.
tuan Liam mengambil kunci mobil dan pergi ke club' sahabatnya, melepas segala kegundahannya. sekretaris Ken yang mengetahui hal itu segera memutar arah mobil nya yang belum sempat sampai di gua tempat ia bersemedi setelah melewati hari yang sibuk dengan tuan mudanya.
sekretaris Ken sampai di club' menemukan tuan mudanya di antar para wanita, dia mendekat dan mengusir para wanita penggoda itu. Tuan Liam sedang mabuk sekarang.
"apa yang terjadi tuan, ayo pulang dan istirahat" ajak sekretaris Ken
"hmm biarkan aku Ken"
"tuan, nona muda pasti mencemaskan anda"
"kami bertengkar Ken!"
sekretaris Ken terdiam, dia belum sampai dirumahnya tapi sudah ada perang di belakangnya.
"apa nona di rumah?"
"tentu saja memangnya dia dimana! dia mengira aku bercinta dengan wanita lain. dia menjauh dan tidak ingin di sentuh. Dia menganggap aku memperlakukannya sesuka diriku Ken, entah mengapa aku merasa hatiku terombang ambing, dia mengaduk aduk hatiku Ken."
"apa anda sudah menyukai nona, tuan?"
"apa jawaban yang tepat untuk semua ini Ken"
"baiklah tuan, mari kita pulang percayalah nona muda tidak akan berpikir sejauh itu. Mari cari waktu yang tepat untuk meluruskan ini tuan muda."
"Ken"
"apa dia membenciku? dia mengatakannya Ken!"
"tidak tuan muda, nona tidak membenci anda"
Ken melihat kesedihan di mata tuannya yang sedang mabuk. Untuk malam itu sekretaris Ken membawa tuan Liam pulang kerumahnya keadaan kurang kondusif jika bertemu Nadila dalam keadaan mabuk
__ADS_1