
Hari sudah sore, ketukan pintu kamar membangunkan kedua anak manusia yang sedang terlelap di bawah selimut. Nadila terbangun dan hendak membuka pintu. sedangkan tuan Liam meraba meja kecil di samping tempat tidur menemukan jam disana.
"pergilah mandi Dila sayang, biarkan aku yang membuka pintu" Tuan Liam yakin itu pasti pelayan yang memberitahukan untuk makan malam.
Nadila tanpa suara berjalan ke kamar mandi kecanggungan masih ada dalam dirinya. Semenjak ungkapan perasaan dan keinginan tuan Liam yang ingin hubungan mereka lebih jauh lagi membuatnya serba salah karena tidak tahu harus menanggapinya. Setelah Nadila selesai mandi tuan Liam juga masuk kamar mandi.
Tidak berselang lama tuan Liam muncul dari balik pintu kamar mandi dengan terlilit handuk di pinggangnya menampakkan dadanya yang bidang dan bentuk otot perutnya berjalan dengan sangat menggoda. Mata Nadila bahkan tidak berkedip melihat itu.
"bagaimana bisa aku baru menyadari ciptaan tuhan yang seindah ini, aku ingin menyentuh otot otot itu" Nadila terpaku melihat pria tempat di hadapannya, detak jantungnya tidak terkontrol bohong kalau di tidak terpesona dengan pemandangan itu.
tuan Liam sengaja memamerkan otot dan melangkah secara perlahan ke arah istrinya yang tidak berkedip itu, dia menarik sudut bibirnya tersenyum melihat istrinya sudah masuk dalam perangkapnya. Jarak yang sangat dekat itu menyadarkan Nadila.
"mau kemana sayang?" menangkap pinggang Nadila ketika Nadila menghindari jarak dekat mereka, tindakannya membawa Nadila ke pelukannya. Nadila yang kurang persiapan refleks mendaratkan kedua tangannya di dada bidang suaminya.
"apa kamu senang sekarang? tubuhku ini milikmu sayang" tuan Liam berbisik dengan suara menggoda di telinga Nadila membuat tubuh Nadila merinding dan berusaha lepas dari pelukan suaminya. Usahanya sia sia pelukan itu semakin erat dan perlahan wajah mereka berdekatan sangat dekat.
"tok tok tok" suara ketukan pintu menyelamatkan Nadila kali ini.
"menganggu saja" kesal tuan Liam lalu pergi keruang ganti, Nadila membuka pintu lalu membiarkan pelayan mengantar makan malam di meja kecil kamar itu.
Tuan Liam sudah rapi dengan baju tidurnya sepertinya tuan Liam tidak punya rencana keluar kamar malam ini sehingga langsung memakai baju tidur.
"kenapa menyuruh pelayan membawa makanan dikamar tuan?" sepertinya lidah Nadila sulit untuk berubah. Tuan Liam mencium istrinya melanjutkan niatnya yang tertunda tadi.
"apakah sesulit itu mengingat suamimu sayang?" tuan Liam tidak terima dengan Nadila yang masih formal padanya.
"a...aku belum terbiasa suamiku" entah darimana kata kata itu berasal terucap begitu saja dibibir Nadila. Tuan Liam senang bahkan ingin terbang saat ini.
"suamiku? baiklah panggil seperti itu saja, aku mencintaimu Dilaku" tuan Liam tidak henti hentinya mengakui tentang cintanya, sedangkan Nadila hanya diam dan tersenyum menanggapi.
Acara makan malam berlangsung d Ngan sangat romantis, tuan Liam sesekali memberi suapan pada istrinya Nadila mulai mengontrol dirinya dan tidak menolak perlakuan suaminya.
Sekarang mereka berada di balkon kamar menikmati pemandangan laut pada malam hari. Tuan Liam memeluk hangat tubuh istrinya dari belakang sepertinya itu rutinitas yang tidak ingin dilewatkan olehnya.
"villa ini adalah kenangan satu satunya ibuku." tuan Liam telah memantapkan hatinya untuk istrinya dan perlahan menceritakan kisah hidupnya. Nadila merasakan kegetiran dalam suara suaminya, memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
"tempat ini sangat indah" kata Nadila mengagumi villa yang strategis itu, bisa merasakan dua keindahan alam yaitu di pegunungan dan di lautan.
"iya, sama sepertimu ini juga tempat favorit ibuku sebelum dia meninggal" tuan Liam teringat dengan ibunya yang sangat dia sayangi.
"ibumu pasti bangga padamu suamiku" Nadila merasakan gurat sedih yang tertahan dari suaminya.
tuan Liam membawa istrinya duduk di kursi gantung yang ada di balkon itu, terasa lengkap dengan angin malam tuan Liam menyandarkan kepalanya di pundak istri nya.
"ibuku sering membawaku ketempat ini, jika dia punya waktu senggang di kantor. kakekku tuan Umbara yang kamu kenal adalah ayak kandung ibuku dan ayahku menantunya. ayahku tidak punya keluarga dia hidup sebatang kara dan hanya itu yang aku ketahui tentang ayahku, dia mencintai keluarganya. Ibuku mendapat seluruh warisan kakek dan mengembangkannya bersama ayahku walau mereka membagi waktu bekerja dan bersamaku tapi aku tidak pernah mengeluh kurang kasih sayang dari mereka." tuan Liam mengenang kesibukan orangtuanya dan betapa ibunya selalu membagi waktu bersamanya walau sebentar itu sudah membuat rindunya terobati.
Nadila senang dengan keterbukaan suaminya tanpa dia minta. perlahan tangannya mengelus kepala suaminya perlahan.
"bukankah kamu ingin tahu tentang penyerangan itu?" tuan Liam tidak ingin menyembunyikan apapun pada orang yang dia cintai.
"iya, aku hanya ketakutan dengan senjata itu, apa mereka ingin membunuh anda?" Nadila di diselubungi ketakutan saat mengingat hal itu.
"berjanjilah akan selalu bersamaku sayang" kata tuan Liam menggenggam tangan istrinya. Nadila mengangguk dan menguatkan permintaan suaminya.
"kamu suamiku satu satunya aku berjanji tidak akan meninggalkanmu apapun alasannya" mendengar penuturannya Nadila hati tuan Liam percaya.
"ku harap cerita suamimu ini tidak membuatmu takut dan berpaling dariku sayang." sebuah kecupan hangat di kening Nadila dan mulailah tuan Liam menceritakan kisah yang sebenarnya.
"ada beberapa insiden tidak sengaja terjadi belasan tahun lalu, mungkin sebelas atau dia belas tahun lalu aku bahkan tidak ingin mengingatnya. kejadian itu tentang kematian seseorang yang berujung salah paham. Saat itu umurku sekitar 14 tahun, aku tidak tahu dengan jelas kejadian itu. Lalu satu tahun kemudian ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis dan pelakunya adalah rival kakek yang berkaitan dari insiden yang sudah berlalu. setelah ayah meninggal ibu memegang kendali perusahaan menjalankan kesibukan yang bahkan tidur di kursi kerjanya. Yang aku tahu aku dibawa jauh dari ibuku dan jarang bertemu dengannya setelah ayahku meninggal." tuan Liam masih tidak mengerti akan situasi itu. Tuan Liam dikirim untuk berbagai hal bahkan beladiri oleh kakeknya. Dan juga belajar mengelola perusahaan menggantikan orang tuanya kelak
"apa ibu meninggal karena kelelahan bekerja" kata Nadila menebak kematian ibu suaminya yang serba sibuk, suaminya menggeleng.
"setelah dewasa aku kembali bersama ibuku dan hidup bahagia dengannya. Aku mengambil ahli perusahaan dan membiarkannya beristirahat tapi itu tidak berlangsung lama..." tuan Liam meneteskan air matanya.
*flashback*
tuan Liam hidup dengan damai bersama ibunya, kasih sayang yang lembut dari ibunya menghangatkan hatinya. Dia menggantikan ayah dan ibunya memimpin perusahaan hingga suatu ketika dia menyalahkan dirinya.
Di dalam rumah utama ibu tuan Liam sedang bersantai dan tiba-tiba wanita yang sudah tidak muda itu mendapat sebuah pesan tentang penyekapan putranya.
"datang seorang diri atau anak kesayangan anda akan menyusul suami anda" ibu Liam tanpa pikir panjang menuju lokasi yang strategis di sebuah pelabuhan tua yang jauh dari keramaian. Kabar kepergian sang nyonya sampai pada sekretaris Ken yang mendampingi tuan Liam.
__ADS_1
"tuan muda nyonya pergi dengan terburu buru dan para pengawal kehilangan jejaknya" laporan Ken membuat tuan Liam merasakan ketakutan yg ang mendalam.
mereka menyusuri seluruh kota dan melacak keberadaan ibunya tapi sangat sulit menemukan dalam kota yang sangat besar dan ramai itu, hingga sebuah pesan dengan lampiran gambar di terima tuan Liam dan juga alamat lokasi itu sangat dikenal berbahaya. Mereka Samapi tepat waktu tapi tidak ada ibunya disana.
"ibu..." tuan Liam berteriak saat melihat ibunya dibawah kolong jembatan, tubuh ibunya berlumuran darah.
"ibu bertahanlah ibu jangan tinggalkan Liam" tuan Liam memeluk tubuh ibunya dan menangis histeris begitu hancur hatinya.
"tuan, ayo kita bawa nyonya kerumah sakit" sekretaris Ken tidak ingin membuang waktu bergegas membawa ibunya kerumah sakit, tetapi ibunya menolak dan malah menyuruh putranya meninggalkan tempat itu. Tuan Liam yang bingung tidak menghiraukan ibunya hingga tembakan mengenai lengan tuan Liam. serang menyerang terjadi tuan Liam membasmi semua orang yang mencelakai ibunya.
Disebuah kesempatan peluru hampir melayang kearah tuan Liam dengan kasih sayang yang besar ibunya menggantikannya. Tubuh ibunya lemah diperlukan itu.
"ibu, apa yang ibu lakukan?" tuan Liam tidak percaya ibunya tertembak.
"ibu menyayangimu Liam, ayah dan juga kakekmu menyayangimu. kedepan hiduplah dengan benar dan jangan mencari pelaku dari kejadian ini hiduplah dengan tenang, anakku berjanjilah" Liam belum memahami perkataan ibunya, dia memeluk ibunya erat belum bisa menerima semua ini.
"aku berjanji ibu, ibu maafkan Liam, maafkan Liam karena terlambat" tangis Liam pecah tidak melepaskan ibunya yang sudah tidak bernyawa di pelukannya bahkan dirumah sakit saat operasi mengeluarkan peluru Liam masih memeluk ibunya.
"tuan muda saatnya melepas kepergian nyonya" sekretaris Ken berusaha menguatkan tuan mudanya. tuan Liam dengan hati berat mengizinkan ibunya beristirahat dengan tenang.
*flash off*
Tuan Liam tidak bisa menahan air matanya, Nadila dengan lembut mengusap air mata itu.
"sampai sekarang aku masih menempati janjiku pada ibuku Dila" kata tuan Liam pada akhirnya.
"seharusnya kamu tidak menceritakan hal ini padaku" Nadila merasa bersalah telah mengundang kesedihan suaminya.
"kamu istriku, harus tahu tentang diriku. Sampai sekarang orang orang itu tidak berhenti mengejar ku dan Ken selalu membasmi mereka tanpa diketahui olehku"
tuan Liam memperbaiki posisinya dan memeluk istrinya dalam tidurnya.
"mengapa kamu selalu memeluk tuan muda?" Nadila penasaran.
"kamu seharusnya beruntung karena dipeluk oleh pria tampan sepertimu" pembicaraan mereka tenggelam ditelan malam.
__ADS_1