Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 12 kembali


__ADS_3

hari yang sangat melelahkan bagi sekretaris Ken dia berkeliling bahkan memasuki setiap ruangan perusahaan demi ingin melepas penatnya. sekretaris Ken memarahi setiap orang yang berpapasan dengannya bahkan divisi keuangan mendapat masalah dan dia berakhir di lantai tujuh ruang divisi pemasaran. kedatangannya menimbulkan ketegangan bagi para karyawan.


"sekretaris Ken, biasanya datang kalau ada yang bermasalah"


"sepertinya tuan Ken ingin menghajar seseorang"


"apa kita melakukan kesalahan?"


seluruh karyawan kebingungan kedatangan sekretaris Ken adalah kiamat bagi karyawan, sepertinya sekretaris Ken mencium aroma pengkhianat.


sekretaris Ken berjalan tanpa menimbulkan suara langkahnya sangat ringan yang diiringi ekspresi dinginnya. sekretaris Ken berhenti di depan meja Nadila yang sibuk bekerja menarik perhatiannya karena tidak menghiraukan kedatangannya.


"gadis ini, bukan kah kucingnya tuan muda, Hem... tapi apa daya tarik tuan muda pada gadis ini? sampai sampai membuang waktu menolong gadis ini kemarin!"


"kau!!!" sekretaris Ken membuka suara.


Nadila menyadari keheningan disekitar nya dia perlahan mengangkat kepalanya.


"apa kau tidak mendengar saya!" Ken menyadari gadis didepannya tidak peka.


"tuan" suara Nadila pelan nyaris tidak terdengar


"ikut dengan saya!"


para karyawan mulai panik berfikir Nadila melakukan kesalahan. Bagas pun ikut campur entah apa yang mendorong keinginan Bagas itu.


"maaf tuan, apa Nadila melakukan kesalahan?"


"siapa namamu?" kesal sekretaris Ken


"Bagas tuan."


"apa kau pacarnya?"


Bagas terdiam jelas mereka tidak punya hubungan apa-apa dekat saja, tidak!


"tapi tuan..."


"nama mu sangat jelek bekerjalah lebih baik, saya hanya memanggilnya bukan ingin mengulitinya."


sekretaris Ken benar benar emosi suasana hatinya yang buruk sungguh tidak nyaman.


"kerjakan itu !" perintah sekretaris Ken.


Nadila melihat tumpukan kertas di hadapannya melewati tinggi badannya.


"gila juga ada batasnya tuan" keberanian dari mana itu Nadila mati saja kau.


"kau bukan hanya bodoh tapi juga tidak punya sopan santun apa kau ingin ku tendang? saya harap anda punya dua nyawa."


"maafkan saya tuan, saya hanya kucing liar yang berusaha bertahan hidup" nyali Nadila menciut, lebih baik baku hantam dengan tuan Presdir dari pada dengan makhluk di depannya.


Nadila tenggelam dalam tumpukan kertas di ruangan presdir, para karyawan di divisi marketing hanya diam menyaksikan Nadila yang tidak kembali sudah menjelaskan semuanya. Tidak ada yang hidup setelah berurusan dengan sekretaris Ken.


"dia tidak terlalu bodoh" gumam sekretaris Ken pekerjaannya menjadi cepat sekarang.


"saya meminta gaji lembur karena sekretaris Ken"


"kau bahkan tidak sanggup membayar utangmu"


"dasar pemeras!" Nadila cukup berani

__ADS_1


"apa kau benar benar mau saya tendang."


"kau sama saja dengan tuan mu itu pengancam dan penindas, kalian telah membuat saya rugi besar"


"berhentilah mengomel keluarlah aku tidak membutuhkanmu lagi pekerjaanmu buruk sekali!" itu sungguh bertolak belakang dengan hasil kinerja.


"aku tidak percaya ini sekretaris Ken benar benar memperbudak ku hari ini. hiks, lihat saja akan ku balaskan ini pada tuan Presdir yang selalu dia banggakan."


Nadila mengutuk sekretaris Ken sepanjang perjalanan pulang.


Nadila mendapat kejutan saat pulang kerumah, rumahnya sudah berubah jadi kapar pecah dari depan sampai ke dapur.


Detak jantung Nadila sempat berhenti melihat senyum cerah tuan Presdir yang sudah duduk manis di meja makan.


"astaga kenapa aku berada di antar orang gila"


Nadila mengacak acar rambutnya.


"aku sudah memasak makan malam aku hebat bukan?" Presdir yang haus pujian.


"hmm"


"cih, sekarang tugasmu bereskan semua ini jangan bermalas malasan"


"aaaaaa, kau orang tergila yg perna saya temui di dunia ini"


Nadila benar benar marah memukuli tuan Liam dengan sapu secara brutal. Aksinya itu meninggalkan banyak memar di badan tuan Liam. Tuan Liam yang tidak mau terlihat lemah bersikap biasa saja walau sakit di sekujur tubuh nya. Nadila memandang tuan Liam ada rasa bersalah di sana tapi dihiraukan oleh nya.


pagi pagi sebelum matahari terbit tuan Liam muncul di gerbang rumahnya alias istananya. rumah elit yang tidak dapat di sandingkan dengan rumah kontrakan Nadila yang bisa saja hancur jika di tiup angin.


"tuan muda" kata penjaga gerbang tidak percaya apa yang dia lihat.


penjaga gerbang menyampaikan informasi ke rumah utama kepala pelayan bahkan tidak percaya hal itu.


"tuan muda, anda baik baik saja?" gurat khawatir tergambar di wajah pak man kepala pelayan itu.


"aku ingin berendam air hangat pak" katanya berlalu menuju kamar.


kepala pelayan itu lega tuan muda telah kembali berita itu pun sampai pada sekretaris Ken, Aditia dan Matteo.


"aaakhhhhh" jeritan dari kamar mandi.


"tuan muda" pak man berlari kedalam kamar mandi memeriksa keadaan tuan Liam


"pak, perih" keluh tuan Liam.


"dokter akan segera tiba"


pak man bahkan menangis melihat memar di tubuh tuan mudanya sebenarnya tidak ada yang patah tapi, karena memarnya terlalu banyak dan berada di sekujur tubuh rasa sakit nya seperti terkumpul menjadi satu.


Aditia berlari masuk ke dalam kamar tuan Liam yang di pikirannya adalah sahabatnya dalam keadaan darurat.


" Liam" dokter Aditia membuka selimut tuan Liam, matanya menatap tidak percaya dengan lebam di tubuh sahabatnya begitu juga dengan sekretaris Ken dan Matteo.


"ada apa dengan mu Liam."


Aditia mulai memeriksa semua alat vital sahabatnya. sekretaris Ken hanya diam seakan menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi sedangkan Matteo sedang mencari titik terang dari semua yang dia saksikan.


"siapa yang melakukannya Liam!" Aditia mulai mengobati.


" obati saja lukaku badanku mau remuk" kata tuan Liam, tidak ingin membahas apapun dia memilih memejamkan matanya.

__ADS_1


" apa dia di keroyok Matteo?" tanya Aditia


" apa aku berada di sana ?" Matteo tidak tahu.


" setidaknya kamu bisa menganalisisnya bukan "


" obati saja lukanya." Matteo


" tuan muda siapa yang melukai anda? maaf kan saya tidak bisa menemukan anda" kata sekretaris Ken menunduk.


" aku baik baik saja Ken"


" siapa pelakunya tuan muda?"


"hmmm"


mendengar dehemman itu, Matteo menendang kaki tuan Liam


"kau sudah mengguncang seluruh dunia, kau tahu betapa gilanya yang terjadi ini!"


" berhentilah bicara" tuan Liam tidak mau diganggu


" istirahatlah kawan lukamu sangat ringan hanya saja ini terlihat sudah lama dan terlambat diobati tidak ada yang di khawatirkan" kata Aditia.


" terimakasih Aditia"


" cih ! pada hal aku berharap kau di tusuk pisau atau kemungkinan lain" kata Matteo


" sialan kau."


" sepertinya kau cukup sehat katakan kau nongkrong di mana, aku bisa membayangkan minimal kau sudah tidur dengan seorang wanita" Matteo


"apa maksudmu goblok" sanggah Aditia yang heran dengan pola pikir Matteo


" setidaknya sebelum dia meninggal dia sudah perna merasakannya" lanjut Matteo yang membuat semua orang di ruangan itu melongo.


perbincangan tanpa ujung itu terus berlanjut,


tuan Liam teringat dengan Nadila.


"hah, ternyata gadis itu cukup brutal aku tidak berharap dia memukulku sampai separah ini. Tapi semalam tidak terasa sakit, bukan kah pukulannya sangat pelan hah gadis itu."


" kau masih berutang penjelasan Liam." tegas aditia


" hmm" jawaban singkat.


"ayolah Liam, Ken hampir gila karena mu" Aditia tidak peduli dengan yang terjadi tapi dia sedang berusaha mengejek sekretaris Ken.


tuan Liam istirahat di rumah seharian itu, ke keesokan harinya tuan Liam kembali ke kantornya bersama Ken.


"apa yang ingin kau tahu Ken?" Liam membuka suara di kursi penumpang.


"terimakasih sudah kembali tuan muda."


"kau tidak ingin tahu aku dari mana saja?"


sekretaris Ken hanya diam dan terus fokus mengemudi


" aku tidak menyalahkan mu Ken"


"saya mengerti tuan muda."

__ADS_1


begitulah perbincangan yang bercampur kelegaan sekretaris Ken dan entah apa yang sedang dipikirkan sekretaris Ken sepanjang hari dia banyak diam.


__ADS_2