
"bagaimana keadaan istriku pak Man?" tuan Liam lebih terfokus menanyakan nadila.
Pak Man terhenyak mendengarnya dia tidak mengerti namun tetap menjawab bahwa Nadila ada di dalam kamar bersama baby Rans. Ken ikut naik keatas untuk melihat seberapa kacaunya situasi dan sangat luar biasa para bodyguard dan pelayan berbaris rapi dan salah seorang dokter anak yang tidak berpindah tempat sedari tadi, kaki dokter itu sudah mulai melemas karena sudah lama berdiri dengan tegang.
"masuk lah tuan muda" kata Ken mempersilahkan tuan Liam masuk terlebih dulu baru dirinya.
Tidak banyak yang di lakukan sekretaris Ken, dia hanya masuk dan berdiri dengan jarak yang cukup memberi ruang untuk majikannya, terlihat bayi gembul nya tertidur pulas bersama Nadila di tempat tidur. Tuan Liam sadar Ken ikut mengikutinya masuk kekamar dia menghela nafas panjang.
"Ken bawa Rans ke kamarnya" katanya. Dengan tanpa suara Ken melaksanakan tugas nya, kemudian menutup pintu kamar. Bukan sekedar menutup Ken juga mengunci pintu kamar dari depan mengurung suami istri di dalam kamar.
"kau tahu tugas mu?" kata Ken pada dokter anak yang belum pulang, tugasnya adalah menjadi baby sitter bersama beberapa pelayan. Setelah mengamankan tuan muda kecil sekretaris Ken beralih pada para bodyguard yang berbaris, dia tidak percaya seheboh itu kah yang terjadi hingga para pengawal mengambil posisi siaga.
Pak Man menjelaskan alasan para bodyguard berkumpul dan Ken pun mulai paham bahwa nona muda nya salah paham "saya harap tuan muda dapat bersikap tuan Ken " kata pak Man yang mendapat anggukan dari Ken bahwa pekerjaan pak Man sudah selesai dan Ken akan mengurus selebihnya.
Para bodyguard di bubarkan dan pak man kembali ke posisinya di lantai satu untuk menginstruksikan para pelayan seperti biasa. Di depan pintu kamar utama tinggallah Ken seorang karena yang di bicarakan di dalam kamar tidak pantas untuk di dengar orang lain, bisa turun images seorang presdir kalau masih ada yang berkeliaran di sana.
Didalam kamar tuan Liam sudah segar dengan balutan baju santainya, dia mendekati istrinya dan menghadiahi sebuah kecupan di keningnya, tidak di sangka hal itu berhasil mengusik Nadila hingga terbangun. "Dimana anakku" kata Nadila menyadari baby Rans tidak bersamanya dan sekejap kemudian dia melihat suaminya sudah di sampingnya.
"mengapa kamu disini! dimana anakku ha!" melempari bantal kearah tuan Liam.
"Ken memindahkannya"
"kamu puas menyakitiku! pergi saja aku tidak peduli atau aku yang pergi dari rumah ini agar kamu lebih bahagia menikmati hidup" kemarahan Nadila.
Tuan Liam mencoba menetralkan emosinya jangan sampai dia juga ikut tersulut emosi hingga kelepasan berbicara dan menyakiti istrinya. Nadila merasa gemes karena tuan Liam hanya diam saja, tidak ada niat menjelaskan apapun. Dia memukuli suaminya dengan tenaga yang dia miliki tanpa takut sedikitpun segala makian diberikannya.
Cukup lama hingga Nadila merasa lelah dan berhenti sendiri dan terduduk di lantai "bahkan kamu tidak menepis tanganku yang memukuli mu, hiks" sulit menggambarkan perasaan yang campur aduk itu.
Tanpa suara dia merangkul Nadila dan mengelap butiran bening yang berceceran di wajah mulus Nadila, sungguh tidak tega namun alangkah lebih baik jika Nadila sudah mengeluarkan kekesalannya.
"maaf, maaf karena sudah bersikap berbeda padamu sayang, percayalah kamu satu-satunya istri yang kumiliki. Semua yang ada di dalam pikiranmu apapun itu hanyalah berujung salah paham"
__ADS_1
"salah paham katamu! aku mendengar pembicaraan mu dengan Ken di ruangan kerjamu dan hari ini kamu benar-benar melakukannya bukan. Siapa wanita itu, aku akan menghisap darahnya" Nadila kamu sangat lucu. Bukannya menjawab istrinya tuan Liam tertawa mendengar penuturan istri yang sedang cemburu akut itu.
"sekarang istri ku bercita-cita menjadi vampir, sepertinya besok akan ku ubah interior rumah ini menjadi lebih wow" Liam
"kamu salah paham sayang waktu itu..."
*flashback*
Nadila tidak sengaja mendengar pembicaraan aneh antara suaminya dan sekretaris Ken di dalam ruangan kerja yang sedikit terbuka. Mereka membahas perjalanan tiga hari yang lalu di luar kota.
"Wanita itu meminta pertanggung jawaban tuan muda, seperti yang beredar anda menidurinya" kata Ken yang membuat telinga Nadila memanas.
"lakukan saja sesuai yang di minta" jawab tuan Liam
"anda akan menikahinya?" Ken memastikan
"hm"tuan Liam telah menyakiti perasaan istrinya.
"Dila sayang, aku ingin izin padamu" kata tuan Liam
"buat apa izin kamu bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan." kata-kata mulus dari Nadila yang tidak meminta penjelasan.
Hari yang ditunggu tiba hingga menghadiri acara di maksud "Pastika semua terungkap dengan jelas Ken, setelah ini aku tidak ingin ada masalah yang melibatkan namaku, aku yakin istri ku akan kecewa padaku"
"saya akan membicarakannya pada nona tuan muda" kata Ken yang bersedia menjamin Nadila.
Putri kolega bisnis yang terobsesi dengan tuan Liam membuat rekayasa seakan dirinya telah ditiduri oleh tuan Liam, ada beberapa bukti yang tidak dapat di tepis oleh tuan Liam namun berhasil di temukan oleh Ken.
*flash off*
"terlalu berbelit Belit" kata Nadila yang tidak terima dengan penjelasan aneh itu.
__ADS_1
"ceritanya belum selesai sayang, tapi kamu sudah mengelak. Pria yang meniduri wanita itu bukan aku dan Ken berhasil mengungkapkannya di depan semua orang, aku datang kesana dengan berdandan bukan untuk menikahi wanita itu tapi memberi pelajaran bagi mereka"
Nadila semakin merasa dirinya dibodohi sekarang "tebar pesona maksud mu!"
"tentu saja tidak. Hari ini hari pernikahan dokter Aditia setelah dari sana, aku dan Ken menghadiri pesta itu. Hadiah itu untuk Aditia bagaimanapun dia sebagai saudara bagiku dan aku menyayanginya" jelas tuan Liam menceritakan segalanya.
"aku akan tidur di kamar putraku" kata Nadila hendak pergi yang ternyata pintu kamar telah tertutup rapat. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Sekretaris tidak punya akhlak itu.
"maafkan aku dulu sayang" kata tuan Liam.
"berikan kuncinya padaku, kamu sengaja kan mengunci pintu!"
"pintu itu di kunci dari luar sayang" kata tuan Liam santai.
"sekretaris Ken sialan! aku akan mencekik lehermu" geram Nadila.
Sebelum tuan Liam mendapat maaf maka pintu itu akan enggan terbuka untuk Nadila. Nadila frustasi dengan kelakuan yang dianggapnya egois, bahkan Samapi tengah malam perdebatan di antara mereka tidak kunjung berakhir.
"bisakah kita berbaikan? " tuan Liam masih betah dengan posisinya bahkan sudah dini hari mereka belum tidur
"kamu pikir aku dapat percaya begitu saja?"
Tuan Liam mengambil remote control di laci meja dan pintu otomatis terbuka, terlihat sekretaris Ken yang masih setia berdiri di sana.
"aku penasaran terbuat dari apa sekretaris sialan ini, dia berada di depan pintu kamar orang sampai selarut ini" keheranan Nadila.
Ken masuk dan mulai menjelaskan detailnya dengan beberapa Vidio sebagai bukti bahwa tuan Liam hanya pergi untuk pekerjaan bisnis dan kembali tanpa ada masalah, yang terjadi hanya salah paham dan penyelesaian sudah ada.
"Maafkan saya nona, karena menutupi semua dari anda, ini demi kebaikan anda" Ken
Nadila hanya diam dengan pandangannya mengiringi langkah Ken yang tidak menunggu Nadila memaafkannya, bagi Ken kata maaf tidak penting. Tuan Liam merasa semua sudah berlalu, melihat Nadila yang mulai tenang dia membawa Nadila tidur di pelukannya.
__ADS_1
"hanya kamu yang ku cintai Dila. Kedepannya percayalah padaku, karena akan banyak yang seperti ini kedepannya. Kamu kelemahannya sayang ku mohon jangan salah paham seperti ini padaku" kata terakhir yang di dengar Nadila sebelum masuk di alam mimpi.