
Tuan Liam sudah mendapatkan pertolongan pertama dan melewati masa kritis. Pintu ruangan VVIP terbuka semua yang didalam ruangan terkejut termaksud Ken kedatangan istri tuan Liam tidak terduga. Nadila menangis histeris melihat suaminya yang penuh dengan perban.
"kenapa begini, hiks" Nadila tidak menghiraukan sekitar dia hanya memeluk suaminya yang masih terbaring di atas branka Sekretaris Ken dan Matteo saling melirik heran.
"bagaimana kakak ipar bisa tahu kalau si gila ini sedang sekarat" Matteo mengintip luar ruangan dia merasa ada yang tidak beres. Dia keluar menghubungi anggota nya untuk memeriksa keadaan disekitar rumah sakit sambil berjalan menjauhi ruangan rawat.
"ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba begini? pak man bilang kamu sedang bekerja, pekerjaan apa yang sedang kamu lakukan hah jawab aku tuan Liam. Buka matamu kalau tidak aku akan meninggalkanmu, aku akan pergi jauh darimu, kamu sungguh menyebalkan berhentilah berpura-pura" Seketika tangan Nadila menekan luka di pinggang suaminya, jahitannya terbuka dan mengeluarkan banyak darah. Nadila terkejut saat merasakan tangannya yang basah.
"darah" dia menyibakkan baju suaminya dan melihat ada luka di sana, Nadila menjadi khawatir luka suaminya bukan luka biasa dia terjatuh pingsan. Beruntung Aditia sigap menangkap tubuh Nadila sehingga tidak terjatuh, Segera dia mengangkatnya tapi lebih mengejutkan tuan Liam sudah berdiri di sebelahnya.
"sialan! kau mengejutkanku" kata dokter Aditia yang hampir saja melepaskan pegangannya pada istri sahabatnya.
"berikan padaku" tuan Liam mengambil alih meletakkan istrinya di branka yang di tempatinya tadi, Aditia geleng-geleng kepala dia merasa tidak waras.
Aditia mulai memeriksa Nadila yang pingsan, berharap semua baik baik saja tidak ada yang harus di khawatir kan. Setelah memeriksa Aditia menatap tajam kearah sahabatnya, sebuah pukulan mendarat diwajah tuan Liam.
"akh apa kamu ingin membunuhku dokter?" Liam tidak sempat menghindari pukulan dokter aditia karena dirinya masih menahan sakit di pinggangnya, Matteo yang mendengar erangan Liam langsung berlari kedalam ruangan.
Matteo membantu tuan Liam berbaring di sofa tanpa bertanya Matteo sudah yakin Aditia pelakunya. Matteo membantu tuan Liam mengobati lukanya dengan sangat telaten.
"ya obati saja lukanya!" Aditia sangat kesal pada sahabatnya itu. Aditia terus mengomeli Liam yang tidak memperhatikan istrinya, Nadila pingsan karena kekurangan asupan makan. kekayaan tuan Liam tidak bisa membuat Nadila kenyang dan terawat.
Nadila belum makan karena terlalu memikirkan keberadaan suaminya, jadi dia melupakan makan siangnya dan karena rasa shock saat mengetahui keadaan suaminya menyebabkan dia kehilangan kesadarannya.
Selesai dengan tugas mulianya Matteo menarik besi pembatas ranjang rumah sakit sambil memeriksa keadaan ruangan yang mereka tempati. Matteo berjalan kearah tuan Liam dengan sebuah besi membuat suasana semakin menegangkan. Sekretaris Ken mengikuti pergerakan Matteo untuk melindungi tuannya jika hal terjadi gila untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"kau pikir aku akan memukulnya hahaha" Matteo memukul pelan bahu sekretaris Ken dengan besi ditangannya, dia yakin Ken sedang bersiap mematahkan tulangnya saat ini. Sikap santai yang selalu dimiliki oleh seorang Matteo, Sekretaris Ken mengetahui hal itu ia menatap meminta penjelasan dari besi di tangan Matteo.
"si gila yang satu ini merusak fasilitas rumah sakit" Aditia frustasi dengan kelakuan sahabatnya, namun Matteo menyuruh mereka untuk tidak bersuara. Semua terdiam mengerti kode bahaya dari bahasa tubuh Matteo.
Matteo membantu tuan Liam berdiri untuk merilekskan otot nya setelah itu matanya tertuju pada Nadila yang masih belum sadar, Aditia yang mengerti langsung menjawab kalau sebentar lagi mungkin akan membuka matanya.
"Dengarkan aku, Liam aku memasang obat penahan nyeri di tubuhmu, itu akan bertahan dalam waktu 1 jam. Diluar berbahaya, Aditia kamu tahu jalan rahasia keluar dari rumah sakit ini, jadi lakukan apapun caranya bawa Liam dan istrinya ke tempat yang aman" Matteo ingin melindungi orang yang dia sayangi. Aditia bingung tapi tetap menganggukkan kepalanya dan sebuah ledakkan di luar rumah sakit terdengar, hal itu berhasil membangunkan Nadila.
Nadila ketakutan dan berteriak dengan cepat tuan Liam memeluk dan menutup mulut istrinya. Tuan Liam yakin Matteo menemukan sesuatu diluar sana dan yang terpenting baginya adalah melindungi istrinya.
Pintu ruangan itu terbuka, beberapa orang pria bertopeng masuk dan menyerang, Matteo berhasil melumpuhkan sebagian dengan besi di tangannya. Pria bertopeng itu melepas tembakan ke arah punggung tuan Liam yang sedang memeluk istrinya.
"dorrr" tuan Liam tidak terluka, Matteo merelakan lengannya menjadi sarang peluru. Sejak tadi Ken sudah keluar menghalangi pria bertopeng masuk kedalam ruang rawat.
"aku percaya padamu Aditia" kata Matteo menaruh harapan pada dokter Aditia untuk membawa tuan Liam dan istrinya keluar dari rumah sakit secepatnya sebelum terlambat. Aditia ingin sekali membantu Matteo dan Ken tapi tanggung jawabnya lebih besar, dia membawa Liam dan istrinya keluar dan Ken melakukan gerakan menangkis peluru untuk melindungi mereka.
"pergilah bawa istriku, aku akan menyusul nanti" tuan Liam menyerahkan istrinya pada Aditia dengan meninggal kode, Aditia menarik tangan Nadila ikut bersamanya.
mereka menghadapi musuh dengan tangan kosong, tuan Liam melihat darah mengalir dari bahu kirinya.
"darah, dari mana darah ini?" Liam kebingungan dia tidak merasakan sakit di bahunya tapi dia mengeluarkan darah. Matteo datang dengan seribu kekesalan.
"apa yang kamu lakukan disini! pergi susul Aditia sialan. seperti yang ku katakan tetap bersama mereka Aditia akan mengobati mu setelah jauh dari tempat ini" Matteo mengusir sahabatnya yang belum pulih sepenuhnya.
Musuh tidak berhenti mengincar mangsanya. Di dalam mobil Aditia mengambil alih kemudi berusaha menghindari kejaran musuh yang belum diketahui siapa dalangnya. Suara tembakan terdengar di belakang mereka, Nadila hanya bisa memeluk suaminya bayangan tentang penyerangan beberapa bulan lalu terlintas di kepalanya tangannya bahkan gemetaran.
__ADS_1
"tenanglah sayang aku disini, maafkan aku membawamu dalam kekacauan ini" tuan Liam mencium pucuk kepalanya untuk menenangkan istrinya tanpa menghiraukan jomblo yang ada di belakang kemudi.
"sempat sempatnya bermesraan di depanku" Aditia membanting setir melampiaskan kekesalannya, Nadila berteriak mengungkapkan ketakutannya yang sampai saat ini belum mendapat penjelasan tentang orang-orang bersenjata yang selalu datang menyerang suaminya.
"ku harap kamu sedang tidak mabuk dokter!" tuan Liam geram dengan kelakuan jomblo itu, sedangkan Aditia hanya menyeringai dan terus menambah kecepatan mobil karena musuh sudah mulai mendekati mobil mereka.
Mobil mereka mulai melewati daerah sepi, tuan Liam melihat jam yang melingkar di lengan istrinya dan mulai memperhatikan sekitarnya.
"mobil siapa yang kamu pakai ini, mengapa seperti tidak asing" Dari kecepatan mobilnya Liam dapat menebak mobil itu sudah di modifikasi dengan sangat baik.
"mobilku sedang di bengkel, jadi aku mencuri mobil Matteo" jawab Aditia tanpa rasa bersalah sambil tertawa membayangkan wajah Matteo saat melihat kehancuran mobilnya.
Tuan Liam hanya menangkap nama Matteo sudah paham segalanya, dia menemukan pistol di bawah kursi yang diduduki istrinya.
"sayang aku harus membunuh mereka demi dirimu, kumohon jangan takut" tuan Liam masih sempat-sempatnya menciptakan drama yang membuat Aditia bisa gila menyaksikannya. Setelah Nadila mengangguk tuan Liam membuka jendela mobil dan mulai menembak.
"dorrr dorrr dorrr" terdengar ledakan besar di dibelakang mereka. Tiga tembakan sudah menyebabkan ledakan, ternyata itu bukan pistol berisi peluru tetapi bom penghancur brankas ciptaan Matteo.
"wow pistol amunisi bom" Aditia terkagum kagum dan semakin bersemangat. Tanpa diduga mereka melewati jembatan dan terjebak di antara musuh.
"sial!" Aditia sudah kehabisan ide tidak ada jalan selain terjun kelaut. Dikedua ujung jembatan sudah dikepung dan musuh mulai maju mendekat. Aditia menatap Liam menunggu perintah, tapi Liam masih terdiam hanya tangannya yang bergerak mengikat tangannya dengan tangan istrinya dengan robekan kain. Musuh semakin mendekat dengan jarak dua puluh meter dari mereka Nadila menutup matanya takut. Aditia mengeratkan sabuk pengamannya dia yakin akan ada perintah gila dari sahabatnya.
"lempar setir ke laut dengan kecepatan tinggi Aditia, sekarang!" Aditia tidak sempat berpikir dia hanya menjalankan perintah dengan penyesalan karena sabuk pengamannya sangat kuat dan sulit dilepaskan untuk keluar dalam mobil jika rencananya akan berenang.
"sialan, ku pikir kau menyuruhku menabrak mereka jadi ku kencangkan sabuk pengaman ku" Aditia masih sempat memaki tuan Liam yang diluar dugaannya. Bukannya jatuh kelaut tubuh Aditia melayang di udara, terbang dengan cepat seperti roket.
__ADS_1
"aku mencintaimu istriku Nadila Keith, aku mencintaimu" kata tuan Liam memeluk istrinya erat saat mobil mereka masuk kedalam air. Para pria bertopeng mengejar Aditia yang entah mendarat dimana dan sebagian menembaki air laut hingga mobil itu meledak dalam air.