Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 34 bulan madu


__ADS_3

Nadila menggeliat dalam tidurnya melepaskan diri dari tubuh besar yang menimpanya selama satu malam.


"mau kemana sayang?" suara berat tuan Liam di pagi hari membuat hati Nadila meleleh.


"astaga bagaimana bisa dia memiliki suara yang mendebarkan ini, aku bisa gila mendengarnya" Nadila lama terdiam suaranya seakan tertahan.


"kenapa diam hmm" suara itu kembali terdengar bersamaan dengan pelukan yang semakin erat melarangnya untuk pergi. Nadila menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menguasai dirinya.


"ini sudah pagi tuan, saya lapar" jawaban itu bagaikan alarm bagi tuan Liam, pria itu langsung membuka matanya dan menatap istrinya lekat. Tuan Liam pergi ke kamar mandi entah apa yang dilakukannya disana dan keluar dengan tubuh yang segar, bergantian dengan Nadila.


mereka keluar kamar menuju meja makan, disana sudah ada sekretaris Ken dan Loi menunggu d Ngan setia.


"selamat pagi tuan muda, selamat pagi nona muda" hormat sekretaris Ken menundukkan kepala di ikuti oleh Loi. Saat Nadila melihat Loi dia segera bersembunyi dibelakang tuan Liam suaminya. Gerakan refleks Nadila mengundang tawa Loi kelakuan nona mudanya sangat menggemaskan.


"kenapa?" tuan Liam merasa heran dengan tingkah istrinya.


"tuan pria itu kenapa masih disini" perkataan Nadila membuat tuan Liam bingung dan memperhatikan sekelilingnya, mencari pria yang dimaksud istri nya kemudian matanya tertuju pada Loi yang menahan tawa itu.


"Loi, jadi istri ku takut pada Loi. sial sebenarnya apa yang pria jelek ini lakukan sehingga Dila sayang ku tidak menyukainya" tuan Liam berfikir keras lalu menyuruh Loi menghadap tembok agar tidak berpapasan dengan istrinya.


"makanlah dulu Dila sayang" di pikiran tuan Liam selanjutnya hanya memberi makan istrinya yang mengeluh lapar. Nadila makan seperti orang yang kelaparan menghabiskan semua hidangan tanpa tersisa bahkan untuk Loi pun tidak di sisa nya.


"sekarang aku tau kriteria wanita yang anda sukai tuan muda, wanita dengan porsi makan yang banyak " kata Loi dalam hati karena Nadila memakan jatah sarapannya.


selesai sarapan tuan Liam membawa Nadila bersantai di taman villa, sedikit bermanja dengan istri bukan masalah. Tuan Liam memiliki kebiasaan tidur di pangkuan istrinya disana dia menemukan kenyamanan yang sudah lama hilang dari hidupnya.


"apa kau punya masalah dengan Loi?" pertanyaan mendadak tuan Liam menyadarkan Nadila dari lamunannya.


"Loi?" Nadila merasa asing dengan nama yang di sebut tuan Liam.

__ADS_1


"pria yang kamu takuti tadi Dila sayang" tuan Liam sangat gemes dengan Nadila yang memiliki otak sempit. Dia bangun dari pangkuan istrinya dan beralih memeluk tubuh itu mengekspresikan cinta yang dia miliki.


"dia yang membawa saya kesini tuan, itu sangat aneh dan kenapa anda tidak mengusirnya atau menembaknya? kenapa kita masih disini? rumah siapa ini tuan? kenapa pria asing itu mengikuti perintah anda? " Nadila memberi sepaket pertanyaan.


"Dila sayang, pertanyaan mu terlalu banyak dan semuanya tidak penting. Ayo bahas tentang kita saja jangan membicarakan orang lain" tuan Liam merasa istrinya sedang menjalankan tugas sebagai reporter melakukan wawancara dengan sepaket pertanyaan. kemudian, mendaratkan beberapa kecupan di segala sisi yang dapat dijangkau olehnya.


"bahkan anda mengabaikan pertanyaan saya sama seperti pria asing itu!" Nadila ngambek merasa tidak di pedulikan.


sangat lama mereka larut dalam keheningan, keadaan itu membuat Nadila bosan dan hendak beranjak dari duduknya yang dihentikan oleh tuan Liam.


"dia Loi, posisinya sama seperti Ken. apa dia mengganggumu?" tuan Liam mulai menceritakan posisi Loi pria yang membuat Nadila kebingungan selama beberapa hari di dalam villa itu.


"tidak, hanya saja dia membuat saya jengkel. muncul dan menghilang tiba tiba dan juga tidak mau memperkenalkan diri pada saya. Membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang, saya takut dia berbuat jahat pada saya tuan." Nadila curhat pada tuan Liam tentang keadaannya selama berada di villa itu. tuan Liam tidak habis pikir dengan kelakuan Loi yang menjahili istrinya yang masih polos itu.


"maaf ya kalau aku terlambat datang dan soal Loi, aku juga baru mengenal Loi akhir akhir ini Dila sayangku. Dia ternyata sudah lama berada di sekitarku dan baru menampakan dirinya sekarang jadi aku tidak tahu menahu tentang dia. Suamimu ini hanya mengetahui namanya saja dan pekerjaannya melindungi ku dan mungkin akan melindungi istriku juga. Dia perna ada dirumah utama bersama kakek tapi ku rasa kamu tidak menghiraukannya karena kamu selalu menunduk." tuan Liam memberitahu tentang Loi.


"aku baik baik saja sayang, sudahlah lebih baik kita bahas tentang bualan madu kita saja" tuan Liam mulai mengutarakan maksudnya yang sebenarnya membuat Nadila mematung dia belum siap akan hal itu. Nadila memutar otak untuk mengalihkan pembicaraan tentang topik memalukan itu.


"anda belum menjawab kita ada dimana tuan" Nadila jengkel karena tuan Liam mengabaikan pertanyaannya.


"itu bukan sesuatu yang harus di jawab Dila sayang" tuan Liam menggendong Nadila masuk kedalam villa dan membawanya kedalam kamar dan menidurkannya di atas ranjang oversize yang lembut itu. Nadila tersentak kaget dengan situasi saat ini.


"astaga bagaimana ini, dia benar-benar ingin melakukannya aku belum siap, tidak aku belum mencintainya bagaimana aku menolak" otak Nadila semakin buntut.


"Dila, aku tahu kamu belum siap dan belum mencintaiku. Aku akan melakukannya setelah kamu benar-benar siap tapi bisa kah kamu membuka hatimu untukku mulai sekarang, selayaknya suami istri pada umumnya. Rasanya hambar jika aku melakukannya sepihak." Ternyata Nadila sudah berfikir jauh tuan Liam tidak mungkin melakukan tanpa persetujuan istrinya.


"maksud anda, tuan?" Nadila merasa lega


"bisakah kamu berhenti bersikap formal padaku Dila? kita tidak di kantor dan kamu istriku bukan orang asing atau klien kontrak mu" tuan Liam memulai pendekatan dengan mengubah status yang menciptakan jarak antara mereka.

__ADS_1


"saya kurang terbiasa dengan itu tuan" Nadila masih segan dan tidak nyaman jika harus mengubah panggilannya.


"mulailah membiasakan diri, hmm" tuan Liam melebarkan senyumnya. "kamu akan jatuh cinta secara perlahan padaku kamu satu satunya belahan jiwaku."


Nadila hanya mengangguk dan mulai bungkam suasana dalam kamar itu terasa canggung baginya hanya tuan Liam yang berbicara dan bercerita panjang lebar.


"kamu tahu kenapa bisa berakhir di villa ini Dila sayang?" Nadila menatap suaminya dan kemudian menggeleng, tuan Liam pun mulai bercerita tentang kejadian itu.


"flashback*


sebelum tuan Liam turun menyusun sekretaris Ken untuk bertarung dan meninggalkan Nadila dalam mobil, Tuan Liam melakukan panggilan darurat dengan sebuah pesan pada Loi dan menyalakan lokasi keberadaannya. Saat itu hanya Loi yang dia percaya untuk menyelamatkan istrinya. Saat itu Loi baru saja keluar dari parkiran bandara pulang dari Italia untuk memeriksa anak perusahaan disana. Pesan darurat dari tuan Liam membuat Loi bergegas menuju lokasi menggunakan keahlian mengemudinya. Di pikiran Loi hanya pesan dari tuan Liam dan perintah yang harus diutamakan.


"Loi dimanapun kau berada datanglah temukan lokasi ini dengan cara apapun. kami diserang di tengah perjalanan dan istriku ada bersamaku. Aku mencintai istriku dia adalah hidupku lindungi dia untukku, aku percaya padamu Loi jangan kecewakan aku" pesan dari tuan Liam membuat Loi yakin sesuatu yang besar telah terjadi.


Loi sampai di lokasi di perbelokan jalan Dian memarkirkan mobilnya saat mendengar suar tembakan beruntun dimana mana dan menyiapkan senjatanya. Hatinya bimbang saat melihat tuan mudanya yang terluka ingin sekali menggantikan posisi tuan mudanya. Dia mendekati mobil tuan Liam dan berusaha menghancurkannya perintah tuan muda lebih penting. Loi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi mengelak dari beberapa mobil yang mengejarnya dan kemudian menyelip di jalan umum hingga musuh sulit menemukan keberadaannya.


Di perjalanan Loi bingung harus membawa kemana istri yang dicintai tuan mudanya yang tengah pingsan karenanya. Hingga pilihannya jatuh pada villa di kaki gunung yang bersebelahan dengan pantai jauh di ujung kota. villa yang di ketahui milik Dewantara group.


" gadis ini sangat beruntung karena tuan muda lebih dulu mencintainya dan ku rasa dia akan sedikit menyusahkan nanti" Loi tersenyum melihat istri tuan mudanya yang belum sadarkan diri. Loi meletakkan ponsel tuan Liam ke laci meja kamar itu agar tuan Liam bisa menyusul mereka dengan bantuan lokasi itu kemudian berlalu pergi membiarkan nona mudanya beristirahat.


*flash off*


"jadi ini milik anda, eh maksudnya milikmu" kata Nadila mulai mengerti seluk beluk dia sampai ditempat itu tidaklah muda Loi pasti sangat kesulitan membawanya pergi dan menghindari kejaran musuh.


"hmm" jawab tuan Liam singkat karena sudah mulai mengantuk.


"boleh a...aku bertanya lagi?" Nadila masih ingin mengetahui lebih banyak.


"biarkan aku tidur Dila sayang, jangan membuat hari ini menjadi lebih panjang" tuan Liam menatap Nadila dengan penuh arti mencoba untuk menggodanya. Nadila merinding melihat itu kemudian memilih Diam dan menemani tidur suaminya.

__ADS_1


__ADS_2