
suara ketukan pintu mengalihkan perhatian tuan Liam.
"maafkan saya tuan, diluar tuan Aditia sedang menunggu" kata sekretaris wanita.
Ken keluar ruangan untuk menyambut dokter Aditia yang bertamu di jam kerja, sambil bertanya-tanya ada apa gerangan kedatangan jomblo ngenes yang satu ini.
"apa anda salah alamat dokter? perlu saya suruh pengawal mengantarkan anda ke rumah sakit" kata sambutan yang membuat dokter Aditia memutar bola mata malasnya.
"oh Ken, terimakasih sudah perhatian padaku, aku ingin menemui Liam ini darurat" Aditia berusaha menerobos masuk.
"temui lah tuan muda saat jam istirahat" Ken masih bersi keras menahan dokter Aditia yang mengganggu ke ketenangan.
Bukan Aditia namanya kalau tidak berhasil membuat sekretaris Ken kewalahan, dia masih memandangi pintu kerja tuan Liam untuk mencari cara menerobos masuk. Sekretaris Ken yang berdiri di depan pintu tidak bergeming, tatapannya membuat dokter Aditia gemes tidak urung untuk memukul Ken. Seret menyeret terjadi antara mereka berdua seperti bocah yang mengadu kekuatan fisik, beruntung sekretaris wanita sudah pergi untuk kontrol lapangan sehingga tidak ada orang di sana yang melihat kekanak-kanakan kedua pria dewasa itu.
Dimana tuan Liam, apa yang sedang dia lakukan? tuan Liam berada dalam ruangannya mengambil tempat ternyaman sambil menyaksikan pergulatan di luar pintu ruangan kantornya. Tuan Liam sudah lama merindukan hal seperti ini, seorang Aditia yang ada saja kelakuannya. Tuan Liam sudah menganggap Aditia sebagai adiknya sendiri sejak mereka bersama karena Aditia memilih tinggal berjauhan dengan keluarganya demi mendampingi kesendirian Liam.
"kenapa aku tidak boleh masuk sialan!" Aditia kehabisan tenaga, dia berteriak keras.
"karena saya tidak ingin, itu saja" Ken sedang mempersulit kunjungan dokter Aditia.
"jangan bilang Liam sedang bersama wanita didalam sana, ch wanita seksi kah. Awas kamu ya Liam" Aditia mulai berasumsi yang tidak benar
"Berhenti berpikir kotor dokter sebelum saya membawa anda ke psikiater untuk memeriksa otak b*d*h mu" Dasar Ken cenayang bahkan suara hati dokter Aditia bisa terdengar olehnya. Aditia sudah berkeringat Ken benar-benar berniat menghalanginya, dia terduduk dilantai memilih menunggu tuan Liam keluar sendiri.
__ADS_1
Tuan Liam pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, dia keluar dengan santai dan seketika berakting terkejut saat melihat kondisi dokter Aditia yang berantakan. Dia merasa puas dengan kerja keras Ken mengerjai tamu tidak di undang yang meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit hati ini.
"apa yang terjadi di kantorku, Ken?" nada bicara yang dibuat-buat seakan sedang marah.
"Dia menahan ku bertemu denganmu" Dokter Aditia mengadu pada yang mulia.
"saya hanya menertibkan para pekerja tuan muda, termaksud dokter liar ini yang sedang keluyuran di jam kerja" Ken mengeluarkan kata-kata pembelaan diri.
Unik sekali bukan, kelakuan kedua manusia yang berbeda karakter sangat menggelitik hati tuan Liam. Dan akhirnya setelah perjuangan yang menguras energi tamu di persilahkan masuk dan di suguhi segelas minuman bersoda. Dokter Aditia masih enggan berbicara karena kekesalan nya telah di halangi oleh Ken, seharusnya dia muncul dihadapan tuan Liam dengan wajah ceria tapi sekretaris Ken merusak moodnya.
"maafkan lah Ken, dia hanya menjalankan tugasnya" kata tuan Liam yang menyadari raut muka sahabatnya.
"ch, aku akan membencimu Ken" Dengan berani Aditia melempar bantal sofa kearah Ken yang langsung di tangkap oleh Ken tanpa marah sama sekali. Tentu saja tidak marah karena yang mulia raja ada di hadapan mereka, Aditia lah yang beruntung di izinkan melampiaskan kemarahannya pada Ken.
Aditia mulai gugup dengan perlahan membuka kantong jasnya dengan sebuah kartu di sana. Tuan Liam mengangkat sebelah alisnya merasa tertarik dengan topik baru yg ang di bawakan oleh Aditia. Kartu itu di letakan ya didepan meja tuan Liam. Bukan tuan Liam yang membukanya tapi sekretaris Ken yang memiliki tingkat penasaran lebih tinggi dari pasar tuan Liam.
"apa itu Ken?" tanya tuan Liam sambil memandang curiga pada Aditia
"undangan pernikahan tuan muda, tapi nama pengantin wanita sengaja disensor" Ken menyerahkan kartu undangan ke tangan tuan Liam.
Surat undangan yang misterius nama pengantin wanita sengaja disensor dan tanpa mendambakan foto prewedding, sangat misterius menambah ketertarikan tuan Liam. Lihatlah mimik wajah Aditia yang tersenyum mengejek Ken seakan bertanya, kapan nikah Ken?
"aku akan menikah dua bulan lagi Liam, hm aku sengaja memberikan undangan lebih awal agar kamu memiliki waktu untuk menghadirinya. Aku tidak mengharapkan yang lain cukup datang saja, wanita yang ku nikahi adalah yang sangat ku cintai. Dia adalah pilihanku semoga kamu juga bisa memberiku restumu. Pesta itu di adakan jauh sesudah kakak ipar lahiran, sengaja ku pilih tanggal itu agar kakak ipar bisa mendampingi mu nantinya" Pembicaraan serius dari Aditia.
__ADS_1
Tuan Liam berdiri dan menghampiri Aditia, sebuah pelukan hangat dia berikan sebagai restu untuk mendoakan kebahagiaan sahabatnya yang sudah seperti saudara baginya. Ken juga merasakan hal yang sama, merasakan haru saat dokter menjengkelkan itu mengutarakan niatnya untuk melanjutkan hari bahagia bersama wanita yang dia cintai.
"kamu menempati janjimu" perkataan yang menyambar telinga Aditia.
"ya, aku sudah bersumpah pada tuhan jika kamu kembali maka aku pasti akan melakukan permintaan terakhir mu Liam. Kamu harus datang karena wanita yang ku nikahi sangat ingin bertemu denganmu anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan ku, untuk membuat istriku mendapatkan keinginannya" penjelasan itu sedikit rancu.
"siapa dia Aditia?" pertanyaan Liam harus mendapatkan jawaban.
"kejutan kawan, aku sengaja menyensor namanya khusus untukmu saja agar kamu tidak melewatkannya, jangan mengecewakanku" kata Aditia.
Tuan Liam meminum habis air di gelasnya dia menerka-nerka wanita yang dekat dengan Aditia akhir akhir ini. Dia berpikir keras karena dokter Aditia memang tidak perna menaruh perhatian kepada wanita manapun, sekalipun mendapat godaan maut dia tidak akan terjebak dalam perangkap cinta.
"aku melihatmu beberapa kali bersamanya, jangan mengecewakanku Aditia. Jika benar dia orangnya aku akan menentangnya" Kata tuan Liam dengan nada dingin.
"Haha memangnya siapa yang kamu pikirkan Liam? tentu saja bukan dia orangnya, wanitaku adalah yang istimewa Liam bukan Jennie. Aku hanya simpati padanya sehingga membantunya untuk merawat kandungannya" Aditia yang mengetahui arah pembicaraan Liam. semua orang bisa saja salah paham dengan perlakuannya pada Jennie.
Perbincangan ringan pun terjadi setelahnya, tuan Liam menghabiskan waktunya untuk melayani tamu yang tidak memiliki pekerjaan, semua pekerjaan di bebankan di tangan Ken seperti pemeriksaan laporan keuangan perusahaan hari ini terpaksa Ken yang turun.
Sudah lama mereka bercengkrama hingga dering ponsel dokter Aditia berbunyi, itu adalah panggilan darurat rumah sakit. Aditia mendapatkan informasi tentang kecelakaan masal dan sangat banyak pasien yang membutuhkan pertolongan secepatnya.
"pergilah, Ken akan menyiapkan hadiah pernikahanmu" kata tuan Liam.
"benar kah, baiklah aku tidak akan menolak terimakasih" dokter tidak tahu diri tadi dia berkata tidak mengharapkan apapun selain kehadiran tuan Liam, namun dia malah kegirangan dan tidak ingin menolak hadiah tuan Liam. Dasar dokter random!
__ADS_1