Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 82 masalah keuangan


__ADS_3

"jelaskan bagaimana bisa kalian menjadi bodoh!" tuan Liam membanting map biru yang di genggamnya, dia tidak percaya karyawan nya berulah saat dia sedang bersikap lembut.


Pemeriksaan keuangan perusahaan Dewantara yang ditangani oleh Ken ternyata memperlihatkan hasil yang tidak memuaskan. Keuangan perusahaan telah di rekayasa dengan sangat apik, bahkan butuh waktu dua hari bagi Ken mendapati angka bolong dalam berlapis lembaran yang dia terima di setiap penanggung jawab.


"apa kalian tidak punya mulut untuk berbicara" suara tuan Liam terdengar menyeramkan bersamaan dengan tatapan pembunuh yang di pancarkan nya. Semua yang berada di ruangan itu ketakutan bahkan gemetaran.


"Ken!" panggilan nama Ken membuat lutut orang-orang lemas dan berlutut di lantai. Mereka sangat tahu bahwa hidup mereka akan sia-sia.


"tuan maafkan kami, kami sunggu tidak mengetahui apapun. Anda sudah bermurah hati pada kami tuan tidak mungkin kami berani menentang anda, ampuni kami tuan." bahkan karyawan di bawah kakinya bersujud.


Tuan Liam dapat melihat kejujuran karyawan nya tapi pasti ada otak di balik kekacauan keuangan perusahaan. Menginterogasi mereka yang bertanggung jawab adalah jalan pertama yang dilakukan.


"potong saja lidah mereka Ken" Tuan Liam merasa mual melihat wajah pengkhianat.


Satu-satunya karakter yang dia benci di dunia ini. Dia tidak percaya kebaikannya di balas dengan abu oleh mereka. Kali ini dia pulang lebih awal meninggalkan Ken untuk menyelesaikan masalah yang memuncak ini.


Proses penyelidikan yang sebenarnya barulah di mulai saat Ken mengambil alih permainan, Ken seperti pembunuh bayaran yang sedang mengintai targetnya. Semua karyawan di divisi keuangan di kumpulkan, keuangan yang bolong ini terjadi di kantor pusat Dewantara group itu berarti pelakunya ada di sekitar mereka. Tidak mungkin orang luar yang melakukannya karena berdiri di depan gerbang perusahaan saja pasti sudah di tendang oleh ketatnya penjagaan kantor pusat.


"saya tidak keberatan jika harus menjalankan perintah presdir Dewantara group" bukankah itu sangat menakutkan? di tangan sekretaris Ken tiba-tiba muncul pisau, entah dari mana pisau yang berkilau itu muncul tapi bukan itu yang menjadi masalah utamanya. Semua yang berkumpul dalam ruangan itu ketakutan bahkan ada yang pingsan karena shock.

__ADS_1


Deretan pria berjas hitam masuk memenuhi sisi ruangan yang semakin mengintimidasi karyawan dan penanggung jawab keuangan. Ken menatap mata mereka satu per satu, salah satu diantaranya ada Bagas. Ken berhenti di hadapan Bagas dan menunjuk kearahnya dengan pisau.


"katakan" Ken menggertak lawan bicaranya.


"tu...tuan" Bagas terbata-bat, keterkejutannya membuatnya kehilangan darah Tanpa terluka dia merasa darah yang mengalir di tubuhnya mengering.


"bukan kamu! tapi yang di belakangmu" kata Ken kemudian, nyawa Bagas kembali menyatu dengan tubuhnya saat menyadari bukanlah dirinya yang di tuju


Pria yang di tunjuk tidak bicara, dia hanya menunjukkan ketakutan yang mencurigakan dengan tanpa ragu Ken menjatuhkan pisau tepat di atas kaki pria itu menemui sepatu kilat yang di pakainya. Suasana semakin mencekam, sudah dua jam belum ada titik terang terpaksa Ken memilih beberapa yang diduganya sebagai tersangka. Sepertinya Ken tertarik dengan Bagas yang tidak lain pria yang pernah berani menyapanya demi menanyakan seorang karyawati yang di kenalnya. Selebihnya dipulangkan begitu juga dengan Bagas, pria itu lolos bersama karyawan lainnya.


Interogasi berikutnya akan menjadi maut, orang-orang yang telah menjadi tikus di perusahaan di pindahkan ke tempat khusus untuk membasminya di muka bumi begitulah kata Ken. Ken sedang melakukan penyelidikan yang sulit sedangkan tuan Liam baru sampai di rumah utama dan segera melepas rindu pada istrinya. Tuan Liam memeluk istrinya yang sedang bersandar di sofa sambil menonton TV kesukaannya.


"apa putraku makan banyak hari ini sayang?" perhatian tuan Liam yang tidak pernah absen setiap hari mengundang senyum seribu wath istinya.


Tuan Liam tidak berdaya menepis keinginannya untuk memberi hadiah ciuman pada istrinya. Semangat nya kembali setelah melihat senyum lebar Nadila, hatinya sejuk bagai di basahi embun pagi.


"apa suamiku yang tampan ini sedang kelelahan?"


"lelahku akan hilang saat bersama kalian sayang, kalian adalah duniaku dan rumahku" bukankah kata-kata itu cukup romantis, percayalah pipi Nadila bersemu sangat jarang dia mendapati kata-kata mutiara romantis dari suaminya.

__ADS_1


Kemesraan mereka tidak berlangsung lama setelah sekretaris Ken muncul di ruang tamu, dasar Ken pengganggu keromantisan sangat mencolok dirimu adalah jomblo sejati. Lebih tepatnya perjaka sejati! terpaksa tuan Liam membiarkan istrinya tidur lebih dulu dan beralih ke ruang kerja.


"siapa pelakunya Ken?" tanpa basa-basi langsung ke intinya. Otak dari semuanya belum di temukan tuan muda tapi beberapa yang terlibat telah berada di markas.


"baiklah, ayo bahas hal lain saja. Menurut analisa dokter istri ku akan melahirkan Minggu depan Ken" pengalihan pembicaraan yang drastis.


Ken dapat merasakan kegundahan hati tuan Liam, namun apa daya mungkin Ken bisa melakukan hal yang ekstrim di sepanjang sejarah dunia tapi jika di hadapkan dengan wanita terutama yang akan lahiran, dia angkat tangan. Itu bukan jurusan saya tuan, jawaban yang lebih lucu jika sempat terucapkan.


"semua pasti akan baik-baik saja tuan" Ken


"tentu Ken, kalau tidak maka tidak ada satupun manusia yang bisa berdiam diri di bumi ini" kata tuan Liam dengan tegas.


"apa anda sedang berencana menambah misi saya untuk memindahkan seluruh manusia ke planet mars?" hati Ken berkata jangan sampai terjadi demikian, jarak bumi dan mars lumayan jauh jika bolak balik mengantar manusia ke sana bisa-bisa dia akan tua di perjalanan.


"huh, bagaimana kabar kakek?" tuan Liam penasaran


"tuan besar baik baik saja, anda jangan khawatir Giorgi selalu setia menemaninya" Ken.


"pulanglah Ken, jika ada yang mencurigakan musnahkan saja mereka. Kali ini tidak ada ampun lakukan dengan bersih" kata tuan Liam dengan tegas.

__ADS_1


Ken mengangguk mengerti kemudian mengantar tuan mudanya sampai depan pintu kamar dan mengambil langkah meninggalkan rumah utama setelah di pastikan tuan muda Liam masuk ke kamar nya. Ken juga butuh istirahat karena besok akan sangat melelahkan.


Sepanjang perjalanan pulang Ken merutuki dirinya yang kecolongan terlalu banyak yang dia lewatkan selama ini. Dia yakin masalah ini tidak akan mudah di selesaikan karena waktunya terbagi menjelang kelahiran cicit keluarga Dewantara yang akan segera tiba. Di perjalanan pulang dia menelepon seseorang yang dia andalkan agar pelaku dari korupsi itu bisa terungkap lebih cepat.


__ADS_2