Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 31 di serang


__ADS_3

sekretaris Ken seperti biasa membawa tuan dan nona mudanya pulang


"perasaanku sedang tidak enak dimana para pengawal?" Ken.


sekretaris Ken merasa ada yang aneh di perjalanan kali ini dia tidak melihat pengawalnya sama sekali.


"ada apa Ken?" tuan Liam merasa gerak gerik sekretaris Ken yang berubah.


"tidak ada tuan" sekretaris Ken melihat kuris penumpang belakang di kaca spionnya, orang yang dia bawa adalah yang sangat berarti baginya.


"apa anda ingin mampir ke suatu tempat nona?" tanya sekretaris Ken.


"bolehkah ke supermarket setelah persimpangan itu?" kata Nadila


"tentu saja nona"


tuan Liam hanya diam mengikuti keinginan istrinya masuk kedalam supermarket sedangkan Ken mengambil kesempatan untuk menghubungi pengawal yang di tugaskannya menjaga tuan mudanya, sangat di sayangkan orang suruhannya tidak bisa dihubungi itu pertanda bahaya.


"sial" sekretaris Ken mengumpat saat menyadari ada orang yang mencurigakan, bertepatan dengan tuan muda dan nona mudanya keluar dari supermarket setelah mereka masuk kedalam mobil dengan cepat sekretaris Ken menjalankan mobil itu.


Berharap tidak ada yang melihat nona mudanya yang berada dalam rangkulan tuan mudanya.


"ada lagi yang anda inginkan nona?"


"hmm apa saya bisa naik bus saja sekretaris Ken?"


"hei, coba saja kalau kamu berani" tuan Liam tidak setuju.


"untuk itu berhenti memeluk saya tuan" bisik Nadila yang masih bisa di dengar oleh sekretaris Ken


"aku berhak melakukannya" tuan Liam masih betah dengan aktivitasnya.


"benar nona, anda adalah istri tuan muda jadi saya tidak bisa mengabulkan keinginan anda mungkin ada yang lebih menarik dari itu seperti pergi ke mall atau tempat yang biasa di kunjungi lainnya ?"


"tidak ada, saya ingin Sampai dirumah dengan cepat"


pertanyaan untuk kedua kalinya itu membuat tuan Liam menyadari kalau ada yang tidak beres dan mulai memperhatikan sekelilingnya.


"apa yang membuatmu mencari tempat ramai sedari tadi Ken" tuan Liam mencoba mencari tahu. Tuan Liam menyadari Sebuah mobil hitam memutar arah mengikuti mereka dan di perbelokan jalan ada satu lagi mobil yang menyusul.


"Ken putar ke kiri" tuan Liam membawa ke arah berlawanan dari rumahnya. Sekretaris Ken dengan cepat melakukan perintah tuan mudanya dia yakin tuan mudanya sudah melihat sesuatu dan mobil hitam itu makin bertambah jumlahnya.


"Sepertinya ini bukan jalan ke rumah tuan" kata Nadila


"otakmu ternyata berfungsi dengan baik, Dila sayang" masih sangat tenang.


"anda pikir saya bodoh" Nadila tidak terima


"alangkah lebih baik kalau kamu merendahkan sedikit kursimu sayang"


sekarang Nadila sudah tidak terlihat dari jendela dan itu sangat membantu.


"tuan muda di saat seperti ini anda masih sempat ber soal dengan nona muda, saya harap anda tidak sedang membuat lelucon"


sekretaris Ken menambah kecepatan mobil.


menyadari kecepatan mobil mereka bertambah Nadila memeluk tuan Liam.


"kamu takut?" tanya tuan Liam


"tuan kenapa mobilnya cepat sekali?"


"dengarkan aku baik baik sayang, ini mungkin mengejutkanmu tapi tetaplah tenang. Tetaplah dengan posisimu dan jangan mengangkat kepalamu" kata tuan Liam mengatur posisi istrinya agar tidak terlihat oleh siapapun. Suara tembakan dari belakang mengejutkan Nadila bahkan gadis itu melihat banyak mobil yang mengejar mereka.


"aaaa tuan apa yang terjadi" kata Nadila menggenggam tangan suaminya.


"tidak ada waktu untuk menjelaskan sayang, tetaplah dalam posisimu mobil ini tidak akan di tembus oleh peluru" kata kata itu semakin mengejutkan Nadila.

__ADS_1


"peluru, jadi suara itu adalah tembakan" jantung Nadila berdetak cepat.


sekretaris Ken menaikkan kaca anti peluru berlapis yang memang sudah di setel di mobil tuan Liam secara khusus.


"saya takut tuan" Nadila gemetaran dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, lebih mengejutkan ketika tuan Liam mengeluarkan dua pistol dan diselipkan di kedua sisi pinggangnya dan sebuah pisau di pasangnya di sisi kanan kakinya.


"Ken apa kah tidak ada peluang?"


"tuan muda sepertinya ini sudah di atur dengan sangat baik, maaf kan saya yang terlambat menyadari tuan"


"jadi kita sendirian Ken! kalau begitu hentikan saja mobilnya!"


"maafkan saya tuan, nona muda sedang bersama kita" sekretaris Ken tidak yakin untuk melakukan perlawanan karena takut nona mudanya bisa saja terluka nantinya


"kalau begitu tambah kecepatannya Ken, kenapa kau lambat sekali!" tuan Liam langsung menyalahkan Ken.


aksi kejar kejaran terus berlangsung, Nadila merasa seperti berada di arena balapan.


"ini sudah sangat kencang tuan Liam, aku ragu sekretaris Ken dulu perna meraih berapa piala bagaimana bisa mengemudi secepat itu" Nadila.


tuan Liam melihat mobil yang mengejar mereka mulai dekat dia mengaktifkan sesuatu di hp nya lalu menyerahkannya pada istrinya.


"dengarkan aku baik baik Dila istri ku sayang. jangan keluar dari mobil jika dalam keadaan darurat buka jok kursi yang kamu duduki disitu ada pistol gunakanlah dengan baik. Dan jika terlalu bahaya berjanjilah kamu bisa lolos dari mereka" kata tuan Liam menatap dalam mata istrinya.


"apa maksud anda tuan?" Nadila tidak mengerti.


"bawa ponsel ini bersamamu jangan sampai ponsel ini menjauh darimu, aku mencintaimu"


Tuan Liam memberi hp nya di genggaman Nadila dan mencium kening istrinya itu.


tuan Liam sudah bersiap dengan senjatanya.


"kau siap Ken?"


penutup atas mobil itu terbuka memberi ruang pada tuan Liam untuk melakukan serangan. Bidikannya tidak meleset beberapa mobil di belakang telah di siramnya dengan peluru.


Di perbelokan jalan ternyata masih ada yang menghadang mereka tidak punya pilihan lain.


"tuan muda tetap bersama nona saya akan menghadapi mereka" kata sekretaris Ken menghentikan mobil yang mereka kendarai.


sekretaris Ken keluar tanpa memegang senjata, tetap santai itu adalah ciri khasnya dalam pertempuran. Tembakan beruntun yang menyerangnya bisa di hindari olehnya hingga dia berdiri di hadapan lawannya.


"gerakanmu lumayan cepat tuan Ken" kata pria yang sedang duduk tenang diatas mobil.


"apa kau terkejut?"


"tentu saja tidak! hahaha" pria itu adalah Deorsa, dia melepas samurai yang dia bawa.


"kau benar benar berniat, Deorsa. sekarang saya akui kesetiaan mu kepada tua Bangka itu" ejek sekretaris Ken


"sama sepertimu Ken"


"benarkah?"


Deorsa menyuruh anak buahnya menyerang sekretaris Ken. Deorsa sangat senang menyaksikan perlawanan yang sengit itu, Ken dapat melumpuhkan lawan dengan senjata api. Pertarungan kali ini sangat serius pasukan berperang mengelilingi sekretaris Ken, bahkan Deorsa juga ikut mengambil bagian mulai berjalan mendekati mobil tuan Liam.


"saya yakin anda berada di dalam sana tuan muda Liam" kata Deorsa.


melihat sekretaris Ken yang menghadapi pasukan berperang yang lebih dari sepuluh dia pun keluar dan berjalan meninggalkan mobilnya sejauh sepuluh meter.


"ternyata cucu dari kakek tua itu sangat tampan hahaha, sekarang saya tahu kenapa Ken begitu menjagamu. apa anda takut kulit anda tergores tuan?" olokan dari Deorsa.


"apa yang kau inginkan?" tuan Liam tidak mau menanggapi kata-kata Deorsa.


"hanya ingin menyelesaikan tugas saya tuan, memberi beberapa goresan pada wajah tampan anda" kata Deorsa melepas sabuk samurainya.


tuan Liam mengeluarkan pistolnya dengan gerakan cepat melepas satu tembakan tanpa suara peluru itu bersarang di lengan kiri Deorsa.

__ADS_1


"sialan" Deorsa menyerang tuan Liam serangannya berhasil di tepis oleh tuan Liam dengan tendangan. satu goresan berhasil diberikan Deorsa di lengan Liam.


"sekarang imbang bukan" kata Deorsa.


Ken dari kejauhan melihat tuan mudanya terluka kemarahannya memuncak memuncak, Ken berlari ke arah tuan mudanya untuk melindunginya hingga dia mengorbankan tangannya menahan samurai dari Deorsa kemudian menusuk pinggang Deorsa dengan pisaunya.


"tuan muda anda terluka, bawalah nona muda pergi jauh saya akan menghadapi mereka" kata Ken khawatir


"tidak Ken, aku tidak akan meninggalkanmu"


pertarungan terus berlanjut mereka menggunakan pistol untuk menangkis pedang lawan.


Di kejauhan kaca mobil tuan Liam di ketuk oleh seseorang.


"nona buka pintunya" suara dari luar mobil mengejutkan Nadila.


"buka pintunya nona, saya datang menjemput anda" kata pria itu lagi.


"tidak!" kata Nadila.


pria itu tidak punya pilihan lain selain memecahkan kaca mobil itu, Nadila yang terkejut kehilangan kesadarannya. Pria itu memindahkan Nadila kedalam mobil dan membawanya pergi.


Musuh tidak pernah habis terus saja berdatangan, membuat tuan Liam dan sekretaris Ken kewalahan tembakan ada dimana mana sepertinya memihak pada mereka. Ken terluka di bagian perutnya membuatnya kehabisan darah.


"tuan sebaiknya anda tinggalkan tempat ini" kata orang itu.


"hmm" tuan Liam membawa Ken kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu, yang terpenting baginya sekarang adalah menyelamatkan Ken.


Disisa kesadarannya sekretaris Ken teringat dengan nona mudanya.


"tuan dimana nona?"


"diamlah Ken, kita kerumah sakit dulu"


setelah 30 menit mereka sampai di rumah sakit, dokter Aditia mengenal mobil tuan Liam langsung berlari.


"apa yang terjadi Liam?" Aditia khawatir dengan baju bahkan tubuh sahabatnya yang penuh dengan darah.


" ken terluka" dengan cepat Aditia membawa Ken masuk kedalam di bantu oleh para perawat.


"dia kehabisan darah Aditia"


"tenanglah" dokter Aditia masuk kedalam ruangan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga Dewantara harus dia yang menangani. Tuan Liam menunggu diluar ruangan itu bahkan dia melupakan luka di tubuhnya.


Setelah dua jam dokter Aditia keluar.


"Ken akan di pindahkan ke ruang ICU"


"hmm"


Aditia menarik tuan Liam kesebuah ruang rawat dan kemudian membuka kemeja yang di kenakan Liam.


"kau mendapat banyak luka Liam, apa yang terjadi?" Aditia mulai mengobati luka itu walau tidak diminta oleh Liam.


"aku terluka" jawaban yang menyebalkan


"aku tahu kau terluka dan Ken sekarat, apa penyebabnya Liam apa kalian di serang"


"hmm" jawab tuan Liam memejamkan matanya


"dimana istrimu Liam? di sisa kesadaran Ken bilang istrimu bersama kalian." tanya Aditia lagi


"tidak tahu!"


"istirahatlah, akan ku hubungi Matteo untuk menggantikan Ken"


"kau pikir aku lemah?"

__ADS_1


Aditia tidak peduli langsung meninggalkan ruangan itu. Liam memilih beristirahat karena merasa kelelahan hari ini.


__ADS_2