Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 23 marah


__ADS_3

Presdir kembali ke perusahaan kedatangannya tidak membuat orang heran, bos bebas datang dan pergi bahkan menghilang sesuka hatinya tapi Nadila bukan lah orang penting di sana. Berbagai cercaan dari karyawan menyirami dirinya setiap hari.


"apa kau merasa hebat sekarang" kata Erina


"sangat jelas bahwa kau memang ******" cecar Klara.


mereka menarik rambut nadila ke dalam kamar mandi.


"kau tidak layak berada di dekat tuan Liam. dasar gembel! saya tau keluargamu sangat miskin. pasti barang mahal yang kamu pakai hasil dari pekerjaan diatas kasur hidung belang kan!"


"saya tidak seburuk itu kak Erina" jawab Nadila berusaha melepas diri.


"saya ini bukan kakak mu panggil nona mengerti!"


mereka meninggalkan Nadila yang berantakan.


Nadila merapikan dirinya dan bersikap tidak terjadi apa apa, di sepanjang perjalanan Bahakan seluruh karyawan membicarakannya di mana mana.


"Nadila, kau dari mana saja? menjadi asisten Presdir seperti nya kau sangat sibuk."


"bel, apa kabar? yah maaf kan aku tidak bisa bergabung dengan kalian."


"aku merindukanmu kawan" Belinda datang memeluk Nadila.


"tidak usah pelukan juga kali malu dilihat orang"


dari kejauhan Bagas terlihat berjalan ke arah mereka.


"hai Nadila, lama tidak bertemu." sapa Bagas.


"hai Bagas kau sangat menikmati pekerjaanmu" puji Nadila.


"ya, agar aku bisa melamar mu" ucapan serius Bagas yang di tanggapi becanda oleh kedua gadis itu.


"jangan terlalu banyak menghayal Bagas" ejek Belinda.


s dangkan Nadila merasa canggung menanggapi perkataan Bagas yang tiba tiba memandanginya dengan sangat dalam.


Nadila mencoba menghindar.


"baik lah aku harus kembali sebelum tuan Presdir mengamuk, haha"


"tentu saja nad titip salam untuk tuan Liam haha" sahut Belinda.


Bagas hanya terdiam menatap punggung Nadila yang semakin berlalu itu.


Belinda mencium aroma ke bucinan disana


"jadi kau menyukai Nadila"


"hah, yang benar saja bel aku harus pergi masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan."


Bagas sekarang sudah pindah ke divisi keuangan mengisi kekosongan jabatan.


"nona muda, sebentar lagi jam makan siang"


"berhenti memanggil saya dengan sebutan mengerikan itu sekretaris Ken "


"anda tidak punya hak memerintah saya!" sekretaris Ken dengan wajah datarnya membuat Nadila kesal.


Nadila menerobos masuk ke dalam ruang Presdir untung klien tuan Liam sudah ingin pergi.


"sampai jumpa kembali tuan muda, saya harap hubungan perusahaan kita baik kedepannya"


"tentu saja tuan Herman " pria itu berlalu bersamaan Nadila yang mendekati tuan liam


"saya tidak memanggil mu"


"saya ingin berhenti!"


"apa yang ada di otak kecilmu itu" menuding kepala nadila.


"saya tidak ingin pekerjaan seperti ini" kata Nadila mengelus keningnya.


tuan Liam menatap Nadila lekat.


"apa gadis ini bodoh atau tidak normal. semua wanita berlomba lomba untuk sekedar menyapaku, tapi kenapa dia berbeda " Liam


"saya tidak ingin menjadi asisten anda tuan, saya hanya pegawai biasa yg ang bekerja beberapa bulan dan sudah menjadi asisten anda. ini sangat mengejutkan bagi saya"


" gajimu tidak sedikit seharusnya kamu berterimakasih akan hal itu. jika kamu ingin gaji tambahan Ken akan mengurusnya."


"saya tidak ingin orang orang beranggapan bahwa saya melempar tubuh saya keranjang anda tuan!"


sekretaris Ken sedang menerka neraka apa yang ada di pikiran gadis dihadapannya.


"baiklah seperti nya kamu lebih senang berdiam di rumah. Ken antar dia pulang jangan biarkan dia keluar dari rumah" perintah liam


"saya ingin pulang ke rumahku yang dulu"


"jangan lupa akan status anda sekarang nona!" peringatan dari sekretaris Ken.

__ADS_1


tidak lama sekretaris wanita yang di depan ruangan itu mengetuk pintu sekretaris Ken keluar


"ada apa?"


"makan siang anda tuan"


"berikan, ingat jangan biarkan orang masuk!"


"baik tuan"


sekretaris Ken kembali kedalam ruangan membawa makan siang.


makanan mewah itu sudah di sajikan di atas meja tapi tidak ada satupun yang menarik perhatian Nadila.


"sebaiknya aku mencari makanan di pinggir jalan" Nadila menuju pintu keluar.


"mau kemana kau!" suara tuan Liam yang menyeramkan disusul tatapan tajamnya, seakan mengatakan kau berani keluar mati kau!


"saya tidak selera makan.!"


Nadila satu satunya wanita yang sangat berani terhadap tuan Liam


entah mengapa tuan Liam membiarkan Nadila pergi mungkin dia mulai memahami sedikit demi sedikit tentang Nadila.


"apa dia membawa bekal, tapi dia tidak pernah memasak lagi" Liam


sekretaris Ken seperti biasa menemani tuan Liam makan siang sebuah notifikasi di hp sekretaris Ken menarik perhatian tuan Liam itu pasti orang suruhan Ken pikirnya.


"nona muda sedang mencari makanan dipinggir jalan tuan muda"


"biarkan dia" " dia bilang tidak selera makan, ada apa sebenarnya?"


selesai makan siang tuan Liam terdiam menunggu sebuah penjelasan.


"katakan Ken!"


tuan Liam cukup serius kali ini.


"tidak terjadi apa apa tuan muda"


tuan Liam geram menendang tuang kering sekretaris Ken, tapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"mengapa kau meninggalkan ku Ken!!!"


"itu sudah berlalu tuan muda" sekretaris Ken terus mengelak


"ch kau pikir aku melupakannya, berikan aku alasan sebelum aku menghajar mu!"


Tuan Liam tidak bisa menahannya lagi sekretaris Ken benar benar tutup mulut, dia melayangkan pukulan berkali kali tapi sekretaris Ken tidak menghindar atau berekspresi.


"ch mengapa tangan ku yang sakit! " merasa kesal


"apa anda baik baik saja tuan" sekretaris Ken khawatir.


"apa kau sedang mengejekku!"


tuan Liam kembali memukul Ken dia tidak berhenti sepertinya dia meluapkan kekesalan yang disimpannya kepada Ken.


Tuan Liam tidak menyerah terus memukul hingga pukulan terakhir telak di luka sekretaris Ken, sekretaris Ken mengerang luka nya sepertinya terbuka.


Tuan Liam berhenti saat sekretaris Ken memegang lukanya ada bercak darah di kemeja putih sekretaris Ken


"darah, kau berdarah Ken!" Tuan Liam


mendekat dan merobek kemeja Ken untuk memeriksa


"maafkan saya tuan muda"


"aku akan membunuhmu Ken!" katanya mengambil Kotak obat.


sekretaris Ken tersenyum hatinya menghangat dengan kepedulian tuan mudanya.


"mengapa menyembunyikannya padaku Ken?"


tuan Liam tahu luka itu bukan luka biasa.


"ini adalah tugas saya tuan muda"


tuan Liam menekan luka Ken.


"auwhhh" keluh Ken


"beraninya kau meninggalkanku Ken!"


sekretaris Ken mengerti hal itu, dia meninggalkan tuan mudanya tanpa pengawal saat itu dan tanpa pamit.


"maafkan saya tuan muda"


"jangan ulangi"


lama mereka terdiam tuan Liam menyadari dirinya dalam bahaya malam itu tapi sekretaris Ken dengan senang hati menggantikannya.

__ADS_1


"istirahatlah Ken di kamarku"


tanpa bicara sekretaris Ken menuju ruangan istirahat itu, sepertinya kesadarannya menghilang namun dia harus bisa menyembunyikannya.


pintu ruangan Presdir terbuka tanpa di ketuk.


Berani sekali orang itu.


"Tuan dimana sekretaris Ken?" tanya Nadila.


"apa kau merindukannya?"


"saya habis dari ruangannya, saya ingin bertanya pekerjaan saya selanjutnya apa?"


"duduklah" menepuk sofa disampingnya


"hm... saya berdiri saja tuan" tolak Nadila.


"apa perlu saya ulangi!"


suaranya sudah meninggi saja. Nadila menyeret kakinya untuk duduk di samping tuan Liam.


"mengapa dia marah, bagaimana kalau ada yang masuk dan melihat posisi ini. Mereka akan beranggapan aku merayu Presdir gila ini." Nadila


"berhenti mengatakan"


"tuan, ayo kita bekerja saja" Nadila berusaha menjauh


"mendekatkan saya hanya ingin duduk denganmu"


"tuan" Nadila hendak melakukan penolakan lagi tapi tangan tuan Liam lebih cepat meraih pinggang Nadila dan melekatkannya padanya sehingga jarak mereka terkikis.


jantung Nadila berdetak cepat tuan Liam bahkan mendengarnya, seulas senyum tipis itu terukir hati tuan Liam merasa tenang saat ini. kegundahan hatinya mengetahui kejadian yg ang menimpa Ken luruh oleh Nadila dan entah sejak kapan kepala tuan Liam mendarat di pundak Nadila terasa nyaman hingga dia tertidur pulas.


"mengapa dia bertindak sesukanya, ini sangat canggung tuan muda"


Nadila dapat melihat wajah tuan Liam yang tertidur dengan damai, selama ini dia tidak pernah memperhatikannya walau mereka tidur seranjang.


"ternyata dia tampan saat tidur, dia memang tampan hah aku bahkan belum percaya kalau dia suami ku kami seperti orang asing."


benar mereka memang tinggal dalam ruangan yang sama setiap saat. Bangun tidur, bekerja dan segalanya tapi selalu menjaga jarak. Tidak seperti saat ini, biasanya tuan Liam selalu membentaknya dan menatapnya tajam.


Ternyata Nadila telah satu jam bertahan menemani Presdir yang tidur tidak tahu tempat. tuan Liam membuka matanya


"apa yang kau bawa?"


"tidak ada"


"ayo kita lihat ini" tuan Liam memperbaiki posisinya dan mulai membuka plastik kresek itu.


"apa kau baru saja memakan makanan aneh ini, bentuknya jelek sekali"


"itu bakso tusuk apa anda mau coba" kata Nadila bersemangat menyuapi tuan Liam.


"tidak"


"saya membeli lebih untuk anda juga"


tuan Liam merasa senang dengan perhatian kecil Nadila.


"baiklah karena kau sudah berusaha saya akan membantumu memakannya."


makanan itu habis tidak tersisa.


"jangan perna membeli makanan aneh itu lagi!"


"tapi saya menyukainya"


"mulai sekarang kamu hanya boleh memakan makanan yang saya makan!"


"tidak mau!" Nadila kembali kesal.


"saya akan menutup penjualan makanan aneh itu"


"hei, mengapa begitu? iya-iya tidak akan memakan bakso itu lagi!"


Nadila mulai cemberut tidak ada makanan yang menggugah selera di rumah tuan Liam baginya rasanya jauh berbeda.


"kau ingin mengatakan sesuatu?"


"tidak"


"kau bisa menggunakan dapur di rumah sesukamu itu adalah rumahmu sekarang, milikku adalah milikmu juga. Bersikaplah seperti nona muda dirumah itu dan berhenti menundukkan kepala, kau menginjak harga diriku jika melakukan itu. "


Nadila terpaku.


"mengapa anda tiba tiba baik pada saya jangan bilang anda akan menendang saya setelah ini!"


"sepertinya akan lebih menyenangkan jika mencabik cabik tubuhmu" tuan Liam begitu menghayati perannya seakan akan membayangkan apa yang sedang iya pikirkan.


"tidak!!!" teriak Nadila histeris.

__ADS_1


sekretaris Ken yang belum sepenuhnya tertidur merasa geli dengan suara di balik dinding itu.


__ADS_2