
sang kakek sudah berada di rumah utama, menikmati malam dengan memandangi taburan bintang di langit.
"tuan saya harap anda mau berbagi sesuatu dengan saya" suara Giorgi membawa sebuah bayangan di pikiran kakek
"saya melihatnya berbincang dengan Geronimo disebuah restoran beberapa hari lalu. Wanita itu sangat bodoh, urus dia Giorgi jangan sampai ada yang menyentuh menantuku" sang kakek hanya mengkhawatirkan Nadila menantunya, dia yakin kabar pernikahan cucunya lamban laut akan terbongkar dan diketahui banyak orang.
sangat lama kakek larut dalam pikirannya, Giorgi tidak meninggalkannya sama sekali. Banyak hal yang dibicarakan di taman itu, bahkan kaki Giorgi mulai meleleh karena sangat lama berdiri menemani tuannya.
"apa kaki anda mati rasa tuan? entah mengapa kakiku kebas terlalu lama berdiri tuan, ini lebih menyakitkan dari pada seribu kali tusukan pisau di tubuhku" Giorgi tidak ingin mengeluh pada tuannya, dia tidak ingin dipandang lemah.
"bagaimana menantuku Giorgi?" pertanyaan yang mengharapkan kabar bahagia terlontarkan untuk Giorgi.
" mungkin Loi lebih tahu dari saya tuan karena Loi selalu disisi mereka dari jauh" menjawab begitu saja agar kakek tidak kecewa. kakek tersenyum dan menepuk pundak Giorgi, sudah saatnya beristirahat begitulah akhir perbincangan itu.
Di tempat yang jauh dari keramaian kota keluarga Nadila sedang melakukan sidang meja bundar dimana tersangkanya adalah Nadila. Tuan Liam sedang pergi bersama Ken entah kemana jadi keluarga heboh itu memiliki waktu mewawancarai narapidana di hadapan mereka.
"Nadila, anak kurangajar!" teriakan sang ibunda ratu, mengguncangkan rumah kecil itu yang disusul dengan suara tidak percaya dari ayahnya.
"kamu menikah! kau bahkan menyembunyikan pernikahanmu!" Kekecewaan keluarga Nadila terutama kangsan yang merasa dibohongi.
__ADS_1
Nadila bingung menjelaskan semua yang terjadi, lebih baik memilih diam untuk menyelamatkan diri.
"kamu bahkan tidak berniat menjelaskan tentang pernikahanmu!" suara ibu semakin meninggi membuat Nadila kaget dan jantungnya berdetak kuat, ketakutan dan juga rasa bersalah muncul bersamaan saat sorot mata ayahnya yang kecewa padanya.
Nadila tidak dapat menahan air mata sangat jelas air mukanya menggambarkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Ayahnya berdiri dan mulai berbicara dengan nada yang menakutkan ditelinga Nadila.
"bercerai lah" perkataan ayah membuat Nadila gemetar, keluarganya belum sepenuhnya memberi restu. Benar saja ayahnya sedang menunggu tuan Liam pergi dan mendapat waktu yang banyak untuk memperjelas hubungan putrinya. Nadila berlari dan memeluk ayahnya erat, kata-kata cerai dari ayahnya seperti jarum yang menusuk hatinya, rasa sakitnya sulit di jelaskan.
"ayah, maafkan Nadila ayah. Nadila salah maafkan putrimu ayah" Nadila menangis sesenggukan di pelukan ayahnya. pak Hasim ayahnya Nadila mulai mengeluarkan emosinya dia menunjukkan penyesalannya karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik dan mendampingi pernikahan putrinya.
pak Hasim membawa Nadila duduk disampingnya dia yakin kata cerai yang dilontarkannya menyakiti putri tercintanya. Nadila mulai tenang dan mendapat kekuatan untuk menjelaskan pernikahannya.
"apa aku mesti besar kepala memiliki kakak ipar yang kaya raya di seluruh penjuru bumi, seorang presdir Dewantara group?" kangsan tidak bisa mengekspresikan dirinya setelah mendengar penjelasan kakaknya.
Sekarang beralih topik tentang perasaan Nadila, pak Hasim yakin putrinya tidak nyaman berada di samping tuan Liam. walau kangsan bisa membaca perasaan kakaknya tapi dia tetap menunggu jawaban darinya.
"aku tidak tahu seperti apa perasaan yang kumiliki, tapi ayah ketika ayah menyuruh bercerai hatiku tersayat sangat sakit. Bahkan aku merasa tak bernyawa, ibu bagaimana ini?" Nadila bingung menyimpulkan semua yang dia rasakan. Keluarganya mulai mengerti dan seketika pak Hasim dan ibunya merestui pernikahan itu dengan tulus, bukan karena takut atau sekedar menghargai tuan Liam yang berstatus suami dari putrinya.
Sekarang wajah kecewa itu berubah menjadi bahagia, pak Hasim yakin putrinya telah dewasa walau dia melewatkan acara penyerahan pengantin seperti yang di impikan olehnya bukan masalah besar baginya.
__ADS_1
"ayah akan mendukung kebahagiaanmu nak" haru bahagia diruangan itu tercipta begitu saja.
Hingga larut malam Nadila duduk di sofa ruang tamu menunggu suaminya yang belum pulang, Nadila merasa sangat khawatir tuan Liam belum memberi kabar sedari tadi bahkan hp nya tidak aktif.
"kenapa lama sekali, sebenarnya dia pergi kemana" Nadila terus mondar mandir sambil menggigit kuku hatinya sangat cemas.
"tidurlah lebih dulu nak, tuan Ken baru saja menelpon ayah, katanya suamimu akan pulang terlambat. Tidurlah lebih dulu besok kalian akan kembali ke kota" pak Hasim mengantar putrinya ke kamarnya dan kemudian berlalu meninggalkan Nadila.
Sudah mencoba untuk tidur namun sangat sulit bahkan posisi manapun tidak nyaman selain pelukan suaminya. Nadila tetap terjaga di tempat tidur, dia merasa ada yang kurang saat suaminya tidak disisinya. Tengah malam Nadila terlelap dengan bersandar di ranjang, rasa lelah mengundang kantuknya.
Entah urusan apa yang dilakukan tuan Liam sehingga pulang selarut itu. Belum sampai didepan pintu rumah suara seseorang menghentikan langkahnya.
"bagaimana bisa anda tidak pulang selarut ini" suara kangsan yang duduk di bawah tiang rumah yang meluangkan waktu menanti kedatangan tuan Liam. Tuan Liam sangat santai pulang larut malam sudah biasa, yang dipikiran ya saat ini adalah istrinya yang dirindukannya.
"bagaimana bisa kakakku menolak berpisah dengan mu!" kangsan menyeret tuan Liam untuk berbicara jauh dari rumah, sekretaris Ken ingin menengahi tapi tuan Liam melarang.
kangsan masih belum menerima kenyataan tentang kakaknya. Mereka terdiam sangat lama setelah tuan Liam mengatakan beberapa hal, air mata kangsan menetes belum rela melepaskan kakaknya yg ang disayanginya.
"kak Nadila, dulu pernah mendirikan rumah makan bubur untuk sarapan pagi, dia sangat pekerja keras hingga suatu hari ada pesaing yang membuat rumah makan bubur itu sepi. Aku berharap bisa memberinya hadiah dihari pernikahannya tapi sepertinya anda terlalu terburu-buru hahaha. Kami bukan orang berada tuan, tapi anda harus tahu kakakku sangat senang menyajikan makanan yang dibuatnya sendiri. Jangan ambil kebebasan kakakku berikan dia seluruh cinta yang anda miliki" kata kangsan pada akhirnya, mengingat kenangannya bersama Nadila yang sempat terpikir untuk mengulangnya setelah mendapat pekerjaan yang layak.
__ADS_1
setelah pembicaraan yang haru dari kangsan tuan Liam yakin kangsan telah merestui mereka sepenuhnya dan percaya pada cintanya. Tuan Liam menemui istrinya dan mulai bergabung dalam mimpi yang di awali dengan ciuman selamat malam di keningnya.