Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 45 rumah kosong


__ADS_3

Dirumah utama sang kakek bertamu, rumah itu tidak berpenghuni. dia sangat kesal dengan cucunya yang tidak bisa dia temui dalam kekhawatiran.


"pak man, dimana cucuku?" kakek bertanya.


"tuan muda Sudak pergi sejak kemarin tuan besar, mungkin kembali dalam waktu yang tidak di tentukan bersama nona muda" pak man mengaku tidak tahu pergi kemana.


kakek butuh wine sekarang, cucunya meninggalkan perusahaan begitu saja. Bahkan tidak mengabarinya, sungguh sangat di banggakan.


"apa mereka pergi bulan madu? kuharap kamu sependapat denganku Giorgi" kakek mencoba menebak. Tebakannya dipatahkan oleh Giorgi karena dia sudah mengetahui malam pertama saat bulan madu tuan mudanya dari Loi.


"tuan muda sudah melewatkan momen itu tuan besar" Giorgi merasa tuan besarnya sudah mulai pikun melupakan hal penting itu.


Giorgi belum mendapat kabar dari Loi tentang lokasi tuan mudanya tapi dia sangat yakin keadaan terkendali. pergerakan yang dilakukan Geronimo sempat membuat mereka mengibarkan bendera perang. Namun, yang utama mencari keberadaan tuan Liam lebih dulu agar aman.


"apa yang harus ku lakukan dalam rumah kosong ini Giorgi!" kakek merasa kesepian dalam rumah kosong itu, terlihat besar tapi tidak berpenghuni.


"bersabarlah tuan besar cicit anda akan meramaikan rumah ini, kedepan" Giorgi menghibur tuan besar umbara dengan sangat bijak dan itu berhasil perkara rumah kosong selesai dan berganti topik dengan agenda perusahaan. selama tuan Liam pergi atau menghilang tuan Umbara yang akan menggantikan. Memimpin perusahaan dewantara group mengantikan cucunya yang diduga sedang menghabiskan waktu bersama istrinya.


Sang kakek yang pengertian, membiarkan cucunya beristirahat setelah hampir sepuluh tahun menghabiskan waktu dengan tumpukan kertas dengan tinta hitam di meja kantor.


sedangkan di dalam kamar yang sempit ada mulut yang komat Kamit karena tidak nyaman dengan ruangan yang ditempatinya.


"mengapa rumahmu sangat kecil? aku jadi mulai berpikir dimana asal mula tubuhmu yang kecil ini" memandangi tubuh istrinya dari atas sampai bawah, tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Nadila sudah berhenti menanggapi dan memberi pengertian, dia berdiam di sisi tempat tidur yang kecil ukuran satu orang yang sekarang di tempati berdua. Tuan Liam melihat ada tetesan bening terjatuh, istrinya sedang menangis. Tuan Liam panik dia merasa terlalu berlebihan menanggapi kekurangan keluarga istrinya, dengan cepat datang memeluk istrinya dan memberi sejuta kata maaf. menghapus air mata yang berharga itu.


"tidak baik air mata ini berkeliaran" tidak lupa memberi kecupan. Nadila malah memeluk suaminya erat, situasi itu berhasil menghangatkan hati tuan Liam istrinya memeluknya lebih dulu.


"Terimakasih. Terimakasih suamiku" Nadila hanya mengatakan kata singkat yang sudah bisa di artikan oleh pria sempurna itu. Tuan Liam membalas pelukan erat yang diberikan istri ya secara sadar terasa lebih hangat dari sebelumnya.


"bagaimana kamu bisa tahu aku mau pergi kesini?" tempat yang dituju Nadila jika suaminya mengizinkan adalah kampung yang tidak pernah dikunjunginya rumah orangtuanya yang berpisah darinya untuk mengadu nasib.


Nadila bahkan tidak bisa mengatakan seberapa besar kebahagiaannya saat bertemu keluarganya, hanya air mata bahagia yang bisa melukiskannya.


"apa yang tidak ku ketahui tentang istriku hmm?" tuan Liam menunjukkan seberapa hebat dirinya, tidak ada opini yang dapat mematahkan fakta yang nyata tersebut.


kini Nadila mengerti sejauh mana tuan Liam meraih segalanya. Suaminya meluangkan waktu memikirkan kebahagiaannya yang sebagian besar campur tangan Ken. Dia sangat terharu tidak ada alasan untuk tidak mencintai pria sempurna di pelukannya.


Tuan Liam terganggu dengan pembicaraan yang tidak penting sedari tadi, yang membahas istrinya yang menyedihkan.


"apa kamu sudah mencintaiku?" tuan Liam masih menunggu.


"hmm" Nadila tidak mau menjawab.


"katakan sayang" tuan Liam menunggu kata-kata mahal itu.


"aku mengantuk" Nadila melarikan diri dari pertanyaan horor yang mendebarkan itu.

__ADS_1


"baiklah, kamu punya waktu seumur hidup untuk mengatakannya tidurlah" tuan Liam sangat sabar dan tuan Liam terlelap dalam kamar sempit dan tempat tidur sempit bersama istrinya. Jangan tanya keberadaan sekretaris Ken, dia sudah pergi entah kemana saat tuan mudanya mesum kedalam kamar. Seperti hantu saja, suka menghilang dan datang saat dibutuhkan, mungkinkah dia tidur di atap rumah atau diatas pohon terdekat? hanya Ken yang tahu.


Tidur yang nyaman itu sangat cepat berlalu, tuan Liam terjaga dia merasa tenggorokannya kering, terpaksa berjalan mencari keberadaan dapur. sebuah pintu belakang rumah menarik perhatiannya, rasa penasaran menuntunnya membuka pintu itu. Ada cahaya bulan di langit, dia menghirup udara segar sangat berbeda dengan kota yang dia tinggali.


"saya harap udara dimalam hari tidak menyebabkan anda keracunan" suara dari remang remang gelap sampai ke telinga Liam. Dengan otak pintar yang dimilikinya dia sangat mudah mengetahui pemilik suara itu. Dia menghiraukan, sungguh menyebalkan bagi siapa saja yang berada di posisi keduanya.


"apa anda berpikir dengan kekayaan anda saya menerima pernikahan yang seperti bom atom ini?" suara itu dari kangsan yang menaruh keraguan dihatinya, dia bisa membayangkan seperti apa kehidupan kakaknya dengan jelas.


"apa saya mengganggu anda? dasar bocah, pergilah tidur" Tuan Liam mulai masuk dalam perdebatan yang diciptakan oleh kangsan adik kesayangan istrinya. Dia ingin tahu sejauh mana adik istrinya berani meluapkan kemarahan.


sangat lama tuan Liam mendengarkan Omelan kangsan yang entah kemana mana, tuan Liam semakin merasa lucu dengan kelakuan anak laki-laki yang baru menginjak dewasa dihadapannya, tingkahnya sangat menggemaskan membuat tuan Liam rindu memiliki seorang adik.


"ch, anda bahkan tidak mau bicara arogan s kali" kangsan sudah lelah bicara dan mengungkap segala perasaan dan juga ke khawatiran di dalam dirinya, tapi tuan Liam hanya membisu. Bukankah sangat menyebalkan diacuhkan begitu?


Tuan Liam menarik nafas dalam-dalam membuang kantuk yang sempat hadir saat mendengar ocehan kangsan yang terlalu banyak sama dengan satu jilid skripsi penelitian yang memerlukan beberapa tanggapan untuk di luruskan kebenarannya.


"dengarkan kata-kata ini, karena saya tidak akan mengulanginya." tuan Liam harus meluluhkan kangsan yang labil.


"yah katakan, anda tidak bisa seharusnya bicara sedari tadi!" kekesalan itu masih ada.


"Yang harus kamu ingat hanya satu, saya mencintai Nadila Keith! itu saja, ini sudah malam pergilah tidur tidak baik berkeliaran diluar malam-malam " tuan Liam pergi tidak menghiraukan makian kangsan yang masih belum puas. dia berbicara dari Sabang sampai Merauke tapi tuan Liam menanggapi dengan satu kalimat, Tuan Liam memang tidak ada lawannya.


Disinilah sekretaris Ken berada, dia menyewa rumah kecil tepat diseberang rumah keluarga Nadila, dia menyaksikan tuan mudanya yang meluangkan waktu mendengarkan ocehan anak labil. Sekretaris Ken sangat terhibur mendengar makian kangsan yang mencakar dan memukul udara melampiaskan kekesalan yang menggunung dihatinya.

__ADS_1


"aku bisa tidur dengan damai di rumah pondok ini" Ken.


__ADS_2