
sudah setengah jam berlalu belum ada tanda tanda dokter akan datang Nadila semakin khawatir dengan kondisi tuan Liam.
"apa anda mempermainkan saya tuan sekretaris?" Nadila benar benar marah
"bersabarlah nona dokter Aditia sedang dalam perjalanan" Ken.
"nyawa suami saya dalam bahaya panggil dokter yang lain saja!" untuk pertama kali Nadila mengakui tuan Liam sebagai suami
"maafkan saya nona"
Nadila terdiam dia tidak berdaya bagaimana bisa hanya ada satu dokter yang di perbolehkan untuk tuan Liam.
"ya Tuhan mengapa dokter sialan itu lama sekali sekretaris Ken!" semakin berteriak, dia naik ke tempat tidur dan memeluk tuan Liam erat menyalurkan kekuatan untuk suaminya
lima belas menit kemudian pak man datang membawa dokter Aditia, mata dokter itu membulat saat melihat adegan di hadapannya. Tuan Liam terbaring di tempat tidur dalam pelukan seorang gadis bahkan tas medis di tangannya terlepas dari tangannya itu sungguh mengejutkannya.
"katakan bahwa yang kulihat tidak nyata Ken" kata dokter Aditia yang masih terpaku.
"memangnya apa yang kamu lihat sialan" satu tendangan di tulang kering dokter Aditia pelakunya tentu saja Ken.
"kenapa menendang ku sialan!"
"apa kau menunggu tuan muda mati baru memeriksanya!"
dokter Aditia segera mendekati tempat tidur
Nadila yang menyadari kedatangannya melepas pelukannya dari tuan Liam.
"mengapa kau lama sekali" marah pada dokter
"maaf nona cantik tapi, saya tidak punya waktu untuk itu izinkan saya memeriksa psikopat ini"
Nadila mengangguk dengan terus menggenggam tangan tuan Liam.
"siapa gadis ini? apa aku melewatkan sesuatu akhir akhir ini" Aditia melirik Ken seakan menyalurkan rasa penasarannya.
sekretaris Ken menatapnya sorot mata itu menjelaskan.
"lakukan saja tugas mu dokter lalu pergilah"
dokter Aditia memeriksa kondisi tuan Liam dan tidak lupa menyuntikkan obat penenang padanya agar tuan Liam bisa beristirahat. kemudian, memperhatikan Nadila dari atas sampai bawah
"sepertinya aku pernah melihat gadis ini tapi dimana ya"
"saya harap anda benar-benar seorang dokter tuan. mengapa anda hanya memeriksa sebentar lalu terdiam katakan dia sakit apa lalu berikan obatnya" Nadila sudah tidak sabar
"Ken, siapa gadis ini?" dokter Aditia
"istri tuan muda" jawab sekretaris Ken singkat.
stetoskop yang ada ditangan dokter Aditia terjatuh ini sungguh mengejutkannya.
"Ken, kau berutang penjelasan tentang apa yang kulihat ini"
nadila geram dengan dokter yang mengabaikan suaminya dia memberi sebuah pukulan keras di bahu dokter liam
"aow..." keluh dokter Aditia
"pasien anda sedang sekarat tapi anda malah bergosip dengan sekretaris gila ini, bagaiman keadaannya dokter"
"nona tenanglah psikopat itu akan baik baik saja" jelas dokter Aditia kemudian.
__ADS_1
"apa maksud anda dokter"
"tuan Liam tidak butuh obat nona, saya sudah sering menangani ini. anda istri nya kan? maka tetaplah bersamanya dia pasti akan sembuh" jelas dokter Aditia sambil mengedipkan sebelah matanya.
"dan kau Ken, ayo bicara di ruang kerja Liam" dokter itu pergi dia yakin sekretaris Ken akan menyusulnya.
di kamar itu tinggallah Ken, Nadila dan tuan Liam yang sudah tertidur
"nona"
"sekretaris Ken sebenarnya apa yang terjadi padanya kenapa dokter itu tidak memberi tahu saya"
"nona, saya tidak tahu apa yang terjadi semalam tapi untuk kedepannya saya harap agar anda tetap disisi tuan muda dan tidak perna meninggalkannya"
"saya tidak mengerti" Nadila bingung
"mungkin hanya tuan muda yang bisa menjelaskannya pada anda, saya permisi nona" sekretaris Ken menunduk lalu pergi
sekretaris Ken teringat dengan dokter Aditia yang menunggu nya diruang kerja tuan Liam dia pun masuk kedalam ruangan itu.
Dokter Aditia berdiri dan menatap sekretaris Ken dengan intens.
"berhenti menatap saya dokter anda bisa jatuh cinta nantinya " sekretaris Ken membuyarkan tatapan dokter itu.
"sudah berapa lama Ken"
"apa yang ingin anda ketahui dokter"
Liam menikah Ken! bagaimana bisa!" teriak dokter aditia
"anda bisa memprediksi sendiri tuan"
"dia gadis baik baik tuan"
sekretaris Ken mulai bercerita duduk permasalahan tuan Liam dan Nadila bisa menikah. dokter Aditia mulai memahami situasi yang terjadi.
"sepertinya mereka bertengkar semalam" yg enak dokter aditia
"mereka memang selalu bertengkar"
"Ken, sepertinya trauma Liam kembali dan jika benar keadaannya seperti ini bisa di simpulkan trauma itu kembali karena Liam telah mencintai istri nya sendiri. Dia takut istri nya meninggalkannya Ken"
"jika tuan muda mencintai gadis itu maka tidak ada jalan baginya untuk pergi" tegas Ken dia akan menghalalkan berbagai cara untuk hal itu.
perbincangan mereka sangat panjang dan sepertinya dokter Aditia memiliki banyak jadwal kosong hari ini, jadi dia bisa lebih bersantai.
sekretaris Ken memutuskan untuk bekerja di ruang kerja tuan Liam ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"pak man"
"saya menyiapkan kopi untuk anda tuan"
"terimakasih pak"
"bagaimana keadaan tuan muda ?"
"tuan muda akan baik baik saja pak.
oh iya dimana kakek dan asistennya?"
"tuan besar pindah ke apartemen tuan, sepertinya tadi malam ada sedikit kejadian yang membuat tuan besar menjauh dari rumah utama untuk sementara"
__ADS_1
laporan pak man membuat sekretaris Ken semakin waspada.
sekretaris Ken menghubungi seseorang cukup lama dia berbicara lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
sedangkan didalam kamar Nadila tidak pernah beranjak di samping suaminya.
hari sudah sore efek obat penenang mulai menghilang tuan Liam berusaha mencari kesadarannya, ketika membuka mata pandangannya tertuju pada Nadila yang tidak melepaskan genggaman tangannya.
"anda sudah bangun tuan" kelegaan hati Nadila.
"hmm, air"
dengan cepat Nadila mengambil air di meja makan.
"apa kamu menangis?" tuan Liam bisa melihat dari mata Nadila yang bengkak dan khawatir.
"tidak"
"apa kau mengkhawatirkan aku sakit?"
"tidak!" Nadila terus mengelak
"haha lalu kenapa kamu tidak melepas genggaman mu nona"
Nadila dengan cepat menarik tangannya.
"anda demam dan mengigau, saya hanya mencoba menenangkan anda"
"hhmm benarkah? akui saya itu tidak akan membuatmu rugi, kamu takut kalau suamimu sakitkan"
"ya itu.... saya hanya tidak mau menjadi janda secepat itu, kalau saya sudah punya pacar barulah saya mau menjadi janda"
tuan Liam marah lagi
"katakan sekali lagi!" menatap Nadila tajam
"saya hanya becanda tuan, istirahatlah saya akan menemani anda"
Nadila mengurus tuan Liam yang sakit, tidak benar-benar sakit tapi sepertinya tuan Liam melebih lebihkan sakitnya kali ini agar bisa menggoda istrinya.
"kau berencana mencari pacar, baiklah kita akan berada di dalam kamar saja mulai sekarang."
ternyata fokus tuan Liam hanya pada mencari pacar jadi, dia mengusahakan segala cara agar Nadila selalu berada bersamanya.
"makan malam anda tuan" Nadila membawa nampan
"hmm"
"makanlah tuan agar anda cepat pulih"
"suapi" tuan Liam yang masih sakit
"ch, tangan anda masih bisa bergerak kan"
"kalau begitu kembalikan saja makanan itu ke dapur"
Nadila terpaksa menyuapi pasien yang banyak maunya itu
"apakah seperti ini cara orang kaya sakit?"
nadila merasa geram tapi tetap mengikuti keinginan tuan muda itu
__ADS_1