
Di sebuah vila di kaki gunung yang sejuk dan pemandangan pantai yang indah itu adalah tujuan utama tuan Liam setelah mendapatkan notifikasi di email nya. Sekretaris Ken mengemudi sambil mengutuk seseorang yang membuatnya jengkel setengah jiwa.
"menyetir lah dengan benar ken tidak baik melontarkan sumpah serapah saat melakukan perjalanan jauh" suara sumbang dari kursi belakang semakin membuat telinga sekretaris Ken memerah.
"maaf kalau sudah membuat anda merasa tidak nyaman tuan muda" sahut Ken.
Mobil mulai memasuki area vila yang luas dengan tiupan angin segar dari pegunungan, tuan Liam menarik nafas dalam dia tidak dapat melewatkan sesuatu yang menyegarkan itu. Dia memandangi tempat dia berada saat ini yang bahkan setelah puluhan tahun belum ada perubahan, masih sama seperti dulu. Ada senyum kegetiran di wajahnya, dia tidak dapat menyembunyikan kerinduannya.
"saya berjalan lebih dulu tuan muda" kata Ken menepuk pundak tuan Liam dan pergi mencari sesuatu yang mengganggu tidurnya sejak semalam.
Sekretaris Ken memilah Milah setiap ruangan namun tidak kunjung menemukan seseorang yang dia cari, hingga suara dari arah belakang mengagetkannya. "anda mencari saya?" suara lirih itu.
Ken membalikkan badannya dan dia peluru di lepaskan kearah lawan. peluru pertama berhasil di hindari namun tidak dengan yang kedua, peluru itu menembus lengan kiri pria yang menyapa Ken. "Lois" geram Ken.
"selamat datang tuan maaf sudah merepotkan anda" sambut Lois tanpa merasa kesakitan dengan peluruh yang sudah bersarang di lengannya.
"saya harap anda masih memberi saya waktu bernegosiasi Haha" lanjutnya dengan santai.
Ken mendekati Lois dan memberikan pukulan mematikan berturut-turut sedangkan Lois hanya menahan tanpa perlawanan " balas aku bodoh!" kata Ken mendorong Lois hingga tersungkur ke lantai.
"saya harap ini dapat membuat anda merasa puas" katanya lalu kembali berdiri menghadap Ken. Posisinya yang sama tinggi dengan Ken tidak berarti dia melawan Ken, walau dirinya dikenal memiliki jabatan yang setara di Dewantara group namun Lois akan selalu tunduk dan menghormati Ken sebagai pelindung utama tuan Liam.
Dimana tuan Liam? seharusnya tuan Liam sudah menyusul sedari tadi bukan, namun belum ada pertanda kehadiran tuan Liam dari pintu depan Ken merasa terheran. Dia ingin berbalik menuju tempat dia meninggalkan tuan Liam beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Anda merasakan kekhawatiran?" suara Lois menahan langkah Ken seakan menantang Ken tentang sesuatu.
"apa maksudmu?" tanya Ken curiga.
"tuan muda mu sedang tidak disana" Lois dengan senyum menggoda.
Sekretaris Ken menghampiri Lois dan mencekik lehernya, Lois tanpa persiapan harus pasrah di pojokkan ke dinding. Bukannya takut Lois tersenyum senang melihat reaksi Ken jika persoalan menyangkut tuan Liam, Lois mencengkram tangan Ken dan mendorongnya. Kekuatan yang seimbang antara mereka berdua tersalurkan. Mereka bertarung dengan serius tanpa di ketahui alasannya, hanya tatapan mata yang berbicara Andara mereka berdua.
"apa yang sedang kamu rencanakan Lois?" geram Ken sambil menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah.
"menurutmu, hm" Lois belum berencana menjawab.
Tuan Liam sudah sampai di taman vila, pandangannya tertuju pada sebuah balkon yang disana dia di suguhi pemandangan yang indah dan di rindukannya, dia melihat bayangan ibunya yang tersenyum mekar kearahnya dan perlahan menghilang bersama hembusan angin yang sejuk.
"tuan muda" Ken berhenti dengan kegiatannya dan beralih fokus pada tuan Liam yang berlari. Sedangkan Lois tersenyum puas karena berhasil mengerjai Ken habis-habisan.
Tuan Liam mendobrak pintu kamar "sayang, Dila. Itulah kamu?" katanya dengan suara lemah seakan belum percaya dengan penglihatannya dan ragu untuk melangkah.
Wanita itu menoleh dengan tatapan yang juga saling merindu, air mata wanita itu luruh tidak tertahan. "kamu datang, hiks" kata Nadila menahan haru.
Tuan Liam memeluk erat istrinya tanpa bisa berkata-kata, dia hanya memeluk dan tidak berniat melepaskan. Dia tidak berhenti bersyukur untuk kesekian kali terpisah dengan istrinya namun selalu di pertemukan kembali.
"mengapa sangat lama datang?" kata Nadila yang lelah menunggu.
__ADS_1
"maaf sayang, maaf" ya kata itu sudah mewakili segalanya.
Drama hari itu tidak berlangsung lama karena kedatangan Ken yang tergesa-gesa, tidak dapat di bohongi Nadila terkejut dengan kehadiran Ken yang juga menambak pintu.
"nona muda" kata Ken dengan kelegaan.
"hai sekretaris Ken" sapa Nadila menetralkan ekspresi nya.
Seorang baby sitter membawa baby Rans masuk, melihat semua itu hati sekretaris Ken lega ternyata semua baik-baik saja. Namun ketika Lois datang dia menatap dengan tajam mengatakan "urusan kita belum selesai" menerjemahkan hal itu Lois tertawa kecil, bukankah itu terlalu kekanak-kanakan sekretaris Ken.
Tuan Liam tidak menduga telah melupakan keberadaan Lois, dia berutang pada pengawal Dewantara yang selalu menjadi bayangannya itu. Keluarga tuan Liam kembali bersama setelah melewati banyak persoalan hidup.
Malam sudah tiba, hari ini akan di awali dengan kehidupan baru tanpa ada pengacau lagi, tanpa sengaja tuan Liam melihat perubahan di wajah Ken yang segera di sadari oleh Ken "kamu tidak berencana menjelaskan!" katanya dengan penekanan
"ini hanya bekas gigitan nyamuk tuan muda" jawaban Ken yang mengundang tawa saja.
"oh nyamuknya pasti sangat besar dan kekar" sambil melirik Lois yang di sadarinya telah terjadi sesuatu sejak mereka sampai di villa "ku sarankan untuk segera mencari istri seorang dokter untukmu Ken, agar nyamuk besar tidak berani lagi menyentuhmu" lanjut tuan Liam yang tidak puas dengan Ken.
"akan saya pertimbangkan tuan muda" kata Ken ingin mengakhiri suara yang melantur itu. Sekretaris Ken meninggalkan perkumpulan orang-orang dan memilih memandangi bintang yang menghiasi langit malam ini.
Sekretaris Ken mengeluarkan pistol dari sakit jasnya, perlahan mengelap senjata api yang selalu setia di kantong jas nya. Ken membayangkan betapa banyak nyawa yang hilang karena senjata itu hanya untuk melindungi tuan Liam yang telah di percayakan kepadanya. Dia merasakan kebahagiaan saat melihat kebahagiaan tuan mudanya itu.
"lalu, sekarang apa? bagaimana untuk kedepannya?" sekretaris Ken teringat pada ayahnya yang memegang teguh kesetiaan "ayah sudah kah aku melakukan yang terbaik, aku hebat kan ayah? aku menjaga Liam dengan sangat baik, melindunginya dan selalu berada di belakangnya tanpa berpaling sedikitpun sampai saat ini" lanjutnya dengan kerinduan.
__ADS_1
Sangat lama sekretaris Ken termenung hingga dia menggerakkan pistol di tangannya dan "dorrr " suara tembakan terdengar sangat jelas di malam yang hening itu.