
mobil biasa yang sudah dimodifikasi dengan baik untuk menyamankan penumpang yang tidak biasa, itu memasuki jalan yang sempit dan tidak mulus membuat penumpang dikursi belakang terganggu dengan hal itu. Dia menunjukkan kekesalan yang sangat jelas dengan ekspresi wajah datarnya. Ide gila dari sekretaris Ken yang mengganti mobil dengan harga murah dan kualitas yang terlihat murah bagi seorang presdir itu, membuat hati tuan Liam resah.
"ku harap kau tidak salah memilih jalan Ken!" tuan Liam merasa kesal, dia mulai berargumen di kepalanya, mengutuk jalan yang tidak layak dilewati versi tuan Liam.
"maafkan saya tuan muda" sekretaris Ken dapat melihat ketidak nyamanan tuannya ada rasa bersalah dihatinya.
Entah sejak kapan mereka sampai di suatu perkampungan, kedatangan mereka mengundang perhatian banyak warga desa yang baru pertama kali melihat mobil yang sederhana itu yang ternyata terlihat mewah dan mahal Dimata rakyat miskin. Mobil berhenti di depan rumah yang tidak dapat di sandingkan dengan istana tuan Liam, ukuran rumah itu masih sangat minim dimatanya. Jika di bandingkan dengan kamarnya masih kalah besar.
"apa kau sedang mengajakku bercanda Ken?" tuan Liam tidak yakin dengan yang di temukannya, rumah itu akan menjepit tubuhnya, itulah yang terbayang dipikirannya.
"ini rumah keluarga nona muda tuan, saya sudah memastikannya" sekretaris Ken menguatkan informasi yang didapatkannya jauh dari kesalahan. sekretaris Ken keluar lebih dulu memeriksa situasi terlihat banyak masyarakat kelas bawah berkumpul seakan menyambut kedatangan mereka.
"permisi nyonya" sekretaris Ken mendekati warga dan mulai berkomunikasi.
"tuan anda pasti orang kaya, jangan memanggil kami seperti itu, saya merasa segan pada anda" seorang warga merasa tidak pantas dipanggil begitu.
"saya hanya ingin bertanya ibu-ibu, ini rumah pak Hasim?" sekretaris Ken bertanya dengan sangat sopan, dia berhati-hati agar tidak menyinggung warga desa.
warga desa itu mengiyakan dan setelah tanya jawab itu, ken sedikit berbincang untuk memberi pemahaman pada warga yang mengamati mereka. Demi kenyamanan tuan mudanya. Entah darimana seorang pria berjalan mengetuk pintu rumah pak Hasim dan pemilik rumah itu membukakan pintu, pemilik rumah itu membukakan pintu dan terdiam diluar rumah. pak Hasim sedang keheranan.
Mendengar keributan suara warga Nadila tersadar dari tidur panjangnya, melihat sekitar tempat mereka berada sangat asing.
"kita ada dimana suamiku?" pertanyaan bingung istrinya itu membuat tuan Liam tidak tahan melihat keterkejutannya.
"kenapa tidak keluar untuk melihat kita sedang ada dimana?" Nadila merasa suaminya tidak perna bisa membantu dengan benar selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Nadila keluar dari mobil mendekati sekretaris Ken yang entah sedang berbincang dengan siapa, memukul bahu kekar sekretaris Ken dengan kekuatan yang dia miliki melampiaskan kekesalannya pada suaminya.
Sekretaris Ken menatap nona mudanya, seakan bertanya apa yang anda lakukan nona?
__ADS_1
"apa anda baik-baik saja nona?" sekretaris Ken merasakan nyeri di bahunya dia yakin telapak tangan nona mudanya kebas saat memukulnya.
"kau sudah gila, mengapa berhenti ditempat ok ni! kukira kita akan rekreasi, berkemah misalnya atau menaiki gunung diatas awan atau pegunungan cinta!" Nadila sangat kesal sekarang, dia sangat memimpikan berlibur di suatu tempat, tapi nyatanya tidak. Nadila tidak peduli dengan orang yang ada di dekatnya, pria itu mendekati Nadila yang seperti seorang tuan Putri itu yang mirip dengan wajah putrinya.
"Nadila, apakah ini kamu nak?" suara pak Hasim membuat Nadila mematung, dia sangat mengenal suara itu. Perlahan dia menoleh dan memandang wajah pria yang sudah tidak muda itu, kerinduan itu tidak bisa dia sembunyikan.
"ayah" Nadila berharap ini bukan mimpi dengan cepat dia mencari kesadaran dan memeluk erat ayahnya, bersamaan dengan itu ibu dan adiknya kangsan pulang dari pasar. Mereka terheran melihat kedatangan mobil yang terlihat mahal di halaman rumah mereka dan seketika mata sang ibu berkaca-kaca saat melihat putrinya.
keluarga yang saling merindukan itu berpelukan melepas semua rasa di hati masing masing, Nadila sangat bahagia bahkan lupa dengan tuan muda yang ikut serta bersamanya dan juga sekretaris Ken yang berada disana diabaikan.
"apa kamu senang?" suara tuan Liam mengalihkan perhatian mereka dan keluarga kecil itu mematung dengan kedatangan tuan Liam yang masih sangat mencolok.
"ah iya, ayah ibu kita masuk kedalam rumah dulu Nadila akan memperkenalkannya didalam" sekarang mereka berada diruangan sempit yg ang di sebut ruang tamu bagi rakyat jelata. Nadila bingung menjelaskan tentang pria yang tidak ada sisi sederhananya itu yg selalu sempurna. Dari arah dapur ibunya Nadila membawakan minuman untuk tamu yang asing itu, sekretaris Ken tidak punya kuasa menolaknya untuk tuan mudanya. minuman itu terhidang di atas meja, pandangan tuan Liam tertuju pada minuman itu yang ragu mencicipinya.
"tuan terimakasih telah mengantar putri kami pulang, kami sangat bahagia bertemu dengan nya. Kerinduan kami terobati oleh kebaikan anda, namun boleh kah kami tahu anda siapa? kami yakin anda bukan dari kalangan bawah, maafkan kami jika sambutan kami kurang menyenangkan" pak Hasim ayahnya Nadila merasa tidak percaya diri dengan kedatangan beberapa pria asing itu yang enggan di kenalkan putrinya.
"tidak masalah tuan, anda tidak perlu khawatir" sekretaris Ken mewakili tuannya yang tidak berhenti menatap Nadila entah apa yang diharapkannya. Sekretaris Ken mengamati tuannya sangat lama dan untung pria itu cepat tanggap dan mengirim sebuah pesan singkat dengan hp nya. seketika Nadila berpindah posisi di tempat kosong samping suaminya, tindakannya membuat tuan Liam senang.
tuan Liam merangkul istrinya sebelum mengeluarkan suara, kangsan tidak terima kakaknya diperlakukan tidak baik oleh pria dihadapannya sedangkan ayah dan ibunya masih mengamati takut melakukan kesalahan.
"anda siapa sebenarnya kenapa memeluk kakak saya seperti itu, lepaskan tangan anda tuan!" kangsan merasa tidak berguna karena tuan Liam berbuat tidak sopan didepan mata mereka.
sedangkan yang diperingati tidak peduli dan semakin memeluk istrinya, menjelaskan kepemilikan dengan memperlihatkan yang sedang dilakukan olehnya, tapi sepertinya keluarga itu memiliki otak yang pas-pasan memaksa tuan Liam buka suara.
"tentu saja karena saya suaminya" kata-kata itu di selingi sebuah ciuman di pipi Nadila, keluarga Nadila membulatkan mata melihat itu. keadaan semakin tidak kondusif sekretaris Ken menengahi.
"tuan muda, adik dari nona muda ingin memukul wajah anda, ch" Ken.
__ADS_1
sekretaris Ken mulai mengambil alih pembicaraan dan memperkenalkan tuan Liam yang lebih tepatnya menantu tuan Hasim suami Nadila Keith saat ini yang diakui oleh hukum dan negara, tidak lupa sekretaris Ken meminta maaf mewakili tuan mudanya karena menikah tanpa sepengetahuan keluarga dari pihak wanita. ayahnya Nadila hanya diam mendengar, mereka sangat terkejut pria yang menikahi putrinya bukan orang biasa dia tidak bisa dibandingkan dengan apapun.
"jadi tuan Hasim tidak perlu segan, tuan muda Liam adalah menantu anda, dan tuan muda ingin berkunjung menemui keluarga istrinya. saya harap anda tidak keberatan tuan Hasim" kata-kata terakhir sekretaris Ken memberi isyarat agar keluarga Nadila tidak terlalu menyulitkan keadaan, terima saja begitulah sekretaris Ken mengakhiri.
Sekarang pak Hasim ayahnya Nadila sulit menanggapi, status yang sangat jauh membuatnya tidak percaya diri menyebut tuan Liam sebagai menantu.
"tuan kami tidak punya apa-apa untuk menyambut anda" pak Hasim berbicara dengan gugup, memilih kata-kata yg ang tepat agar tidak menyinggung tuan Liam yang nyaris tidak dikenalnya karena perubahan gaya tuan Liam yang biasanya tampil dengan setelan jas dan tidak pernah dilihat orang berpakaian santai. Terlebih kekuasaan tuan Liam membuat orang takut berurusan dengannya.
"istriku, mengapa diam saja tuan muda Dewantara, tuan muda Liam ingin tinggal siapkan kamar untuknya." tidak membuang waktu sang ibu bergegas kekamar mencoba menyiapkan tempat seadanya untuk menantu yang mengejutkan itu, bahkan sang ibu itu tidak sempat memutuskan apakah harus bahagia atau bagaimana?
Nadila melepas diri dari suaminya yang telah mengejutkan keluarganya dan menyusul ibunya didalam kamar, dia sangat khawatir ibunya mendapat serangan jantung atas dirinya yang tiba-tiba sudah menikah.
"apa pria gila ini sedang berencana memusnahkan keluargaku? tuan muda yang sempurna anda bisa membuat keluargaku mendapat serangan jantung." Nadila berjalan sambil menggigit jarinya, dia tidak memiliki kesiapan menemui keluarganya tapi tuan Liam yang berkuasa sudah melakukannya begitu saja.
Diruang tamu, tuan Liam mulai berbicara setelah melepas istrinya. Bagaimana pun pernikahan itu sangat cepat terjadi, dia yang terhormat dan berpendidikan memberikan pemahaman kepada keluarga istrinya dan tidak mempermasalahkan status derajat yang berbeda.
"pak...?" awalan kata yang gantung dari tuan Liam.
"pak Hasim, tuan muda" sekretaris Ken dengan cepat membantunya.
"hmm ya, pak Hasim panggilan itu terlalu menciptakan jarak antara kita, benarkan Ken?" meminta dukungan Ken, tuan Liam merasa jantungnya berdetak kencang apa itu karena kegugupan? hanya dia yang dapat memberi jawabannya.
"benar tuan muda, saran saya anda memanggil dengan lebih akrab" jawaban Ken memberikan semangat untuk tuan Liam. Tuan Liam harus bisa melawan egonya yang tinggi, dia harus merendahkan diri sedikit saja.
"istriku memanggil anda dengan sebutan ayah dan saya tidak keberatan memanggil anda dengan sebutan yang sama. Ayah mertua, mungkin anda melewatkan pernikahan putri anda tapi berilah kami restu anda. Saya mencintai putri anda" Kata-kata itu sudah mewakili segalanya ungkapan mencintai itu sangat mahal untuk keluar dari mulutnya.
"tentu saja tuan, semoga anda dan Nadila selalu berbahagia" ayahnya Nadila terhipnotis dan merestui sedangkan kangsan merasa kecewa dan juga perasaan nya campur aduk, dia pergi kedalam kamarnya dan berdiam disana.
__ADS_1
pak Hasim merasa tidak enak hari dengan cepat meminta maaf. banyak hal yang diperbincangkan di sana, hingga kegiatan beres beres kamar selesai kedua wanita itu bergabung ke ruang tamu bersamaan dengan seorang pria yang datang entah dari mana membawa menu makan malam.
pak Hasim dan keluarga sangat segan, dan tetap menikmati hidangan mahal itu, makanan yang tidak pernah mereka makan bahkan sekedar mencium baunya itu terpampang nyata dihadapan mereka untuk mengisi perut kosongnya.