Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 11 perdebatan


__ADS_3

"saya heran apakah bayanganmu tidak mencari mu" kata Nadila


"hei, apa yang sedang kau bicarakan"


"tentu saja makhluk yang sejenis denganmu yang selalu berjalan satu meter darimu"


"makhluk? apa otakmu bermasalah?" kata tuan Liam tidak mengerti.


"tuan Presdir, yang saya maksud itu adalah sekretaris Ken yang sama mengerikannya denganmu."


"jadi kau menganggap aku makhluk? beraninya kau!" sudah mulai marah.


"sekarang saya tahu dari mana otak sempit mu itu berasal hahahha "


" yak..!!"


"tempat yang sempit ini telah membuat otakmu mengecil sehingga kau sangat bodoh"


"apa? tuan Liam aku tidak bodoh mengerti!" suara Nadila membuat jantung tuan Liam hampir copot.


"pulanglah" kata Nadila mengusir


"beraninya kau mengusir ku !"


"ya ! saya mengusir anda"


"kau mau mati ya!"


perdebatan itu tak kunjung selesai.


"tidurlah diluar tuan "


"tidak mau! aku mau tidur disini dan kau juga jangan coba coba pergi tidur di sebelah sana" menunjuk sisi lain ranjang.


"tidak mau !" tolak Nadila tidak lucu jika mereka tidur seranjang


"jadi kau setuju pindah ke rumahku"


"cih" Nadila terpaksa tidur di sisi lain ranjang itu bisa di bilang mereka tidur seranjang karena kamar kontrakan hanya satu.


di belahan bumi lain, semua orang menjadi gila karena mencari seseorang yang menghilang tiba-tiba sedangkan orang yang di cari tanpa rasa bersalah dan seakan tidak peduli dengan dunianya yang lain itu.


ya, benar sekali tuan Liam baik-baik saja.


*flashback *


tuan liam berjalan ke sisi jalan setelah keluar dari supermarket dia naik bus dan turun di perempatan jalan. Entah dengan cara apa tuan muda itu sudah sampai di lingkungan rumah yang sederhana, dia bahkan rela berjalan kaki sepanjang 50 kaki dari jalan umum.


"tok tok... tok.." suara ketukan sekaligus gedoran pintu.


"siapa?" dan terkejut pemilik rumah itu adalah Nadila.


"menyingkir lah" katanya menerobos masuk kerumah kecil itu.


ini sungguh sebuah kejutan bukan


"apa yang anda lakukan disini tuan" kata Nadila merasa tidak senang.


"cih.. kau bahkan tidak menawarkan duduk pada tamu mu " katanya kesal


"anda bukan tamu saya! tapi tunggu dari mana anda tau rumah saya" pikir Nadila lagi


"apa kau lupa saya ini siapa?" kesombongannya tiada lawan

__ADS_1


"aku menginap disini." tuan Liam mengutarakan keinginannya


"hah, menginap? tidak tidak!" tolak Nadila cepat tapi penolakannya sepertinya tidak dihiraukan.


Nadila tidak punya baju ganti untuk laki laki tapi tamu tidak diundang ingin ganti baju. Nadila kan bukan sekretaris Ken yang bisa menghalalkan berbagai cara untuk tuan mudanya. Akhirnya pilihan jatuh pada baju pink piyama tidur oversize milik Nadila.


"sepertinya ini muat, badannya aja yang kebesaran Dasar pria gila"


"apa itu?" tanya tuan Liam


" menurut anda?"


" apa IQ mu serendah itu?" matanya sakit melihat warna mencolok itu


Nadila menghela nafas


"aku ini perempuan tuan hanya ini baju yang saya punya kalau tidak mau bukan masalah"


"hei" menarik baju di tangan Nadila.


"apa!"


"kau sudah memberikan pada saya tidak sopan mengambil kembali"


Nadira diam membiarkan tuan arogan ganti baju.


Dan lihatlah tampilan piyama pink itu sangat pas di tubuhnya, hanya saja itu terlihat lucu


Nadila ingin sekali mengabadikannya.


tuan muda yang sangat berkelas itu tidur dirumah sederhana baginya itu sangat menyenangkan seperti piknik. pagi harinya dia terbangun dengan badan yang kaku


"sial! badanku seakan mau patah" meregangkan otot nya dan berjalan ke kamar mandi.


"kamar mandinya sempit sekali" lagi lagi dia menggerutu


"diam lah, mana makanannya aku sangat lapar"


"hah" Nadila hanya punya nasi goreng.


satu piring nasi goreng itu habis tidak tersisa bahkan piringnya licin.


"sungguh tidak enak berhentilah memasak."


"Anda bahkan menjilat piringnya " kata Nadila tidak terima


"aku heran, apa pria gila ini tidak pernah makan."


Nadila sudah siap siap.


"mau kemana kau?"


"belanja ke pasar"


"pasar? maksudmu ke mall "


"cih, berhentilah berlaku aneh tuan Presdir aku tidak punya waktu meladeni mu."


Nadila pergi dengan berjalan kaki.


"hei, tunggu aku ikut"


orang yang melihat kejadian ini pasti akan gila dan berharap hal itu tidak diketahui oleh Matteo dan Aditia, bisa jatuh harga diri Presdir Dewantara. mereka berjalan kaki menuju pasar tradisional, tuan Liam sempat mengeluh tapi dia tidak mau di tinggalkan jadi tetap berjalan.

__ADS_1


"mengapa kau belanja sangat banyak?"


"saya tidak seperti anda tuan yang hanya menjentikkan jari atau membaca mantra segala sesuatu akan ada."


"ternyata hidupmu sangat menyedihkan"


" berhenti merendahkan saya" kesal nadila


"biar saya yang bayar anggap saja saya sedang berbaik hati"


Nadila pasrah sangat lucu jika berdebat di tengah keramaian seperti itu, Hitung-hitung isi kantong nya tidak berkurang.


kegiatan hari ini lebih dari lari maraton sekarang tuan Liam mengerti bahwa sangat sulit menjalani hidup.


"ini seperti berkemah saja" katanya merasa lucu.


hari pun berlalu dan sepertinya kucing dan tikus di rumah kontrakan itu mulai mengurangi perdebatan tuan Liam sudah membeli baju gantinya, karena trauma dengan piyama pink itu. hari Minggu adalah hari tenang bagi mereka walau kadang beda pendapat tapi Nadila sudah tidak mengusir tuan Liam lagi. Mungkin dia lelah menghadapi tuan Liam yang keras kepala.


"biarkan saja dia Nadia, tidak lucu jika penghuni bumi mengetahui Presdir tinggal serumah denganmu. jangan sampai ada yang tau hal memalukan ini"


begitulah akhirnya Nadila sangat canggung dalam keadaannya saat ini.


*flash off*


tuan Liam sangat betah tinggal di sana


"tuan apa anda tidak kekantor?" tanya Nadila.


"apa perlu saya kekantor?"


"aisss anda selalu membalikan pertanyaan."


Nadila mengerucutkan bibirnya.


"aku masih ingin tinggal di sini pergilah bekerja jangan jadi pemalas."


"mengapa anda ingin tinggal di rumah saya tuan?"


"dasar bodoh! bukankah kau sudah menginap dirumah saya sekarang gantian"


"apa!!!" mulut Nadila mangap mendengar jawaban sinting itu, tuan muda yang terhormat berhak mendapatkan penghargaan.


"pergilah kekantor aku masih ingin tidur."


"terserah"


Nadila pergi ke kantor dengan berusaha bersikap biasa saja.


Kegiatan di perusahaan berjalan seperti biasanya, Nadila bekerja dengan semangat bahkan lupa dengan tamu tidak diundang yang ada di rumah kontrakan nya.


sekretaris Ken menghandle perusahaan dengan baik seakan tidak terjadi apa apa selama dua hari terakhir.


"Liam, sialan kamu dimana."


sekretaris Ken menggerakkan giginya melihat setiap berkas di atas mejanya.


sekretaris Ken juga pergi menghadiri beberapa pertemuan penting menggantikan tuan Liam.


"baiklah tuan Bakara, saya harap kerja sama ini tetap berjalan dengan baik"


"tentu saja sekretaris Ken saya berharap bisa bertemu dengan tuan Liam "


mereka berjabat tangan.

__ADS_1


Tuan Bakara melakukan pertemuan dengan membawa putrinya berharap bisa memperkenalkan putrinya pada tuan Liam, tetapi keadaan tidak memihak padanya.


"Kelicikan memang diperlukan dalam berbisnis" kata Ken memandang kepergian keduanya, sekretaris Ken merasa jijik melihat putri tuan Bakara yang seperti wanita penggoda.


__ADS_2