
Kakek memiliki kebiasaan baru di mana tuanya, hal gila yang dilakukan oleh orang kaya yang satu ini adalah mempersulit hidup. Dimasa tua bukannya duduk dan bersantai di dalam ruma menantikan kelahiran cicitnya, tapi kakek malah mencari cara untuk menghabiskan uangnya.
" saya ingin jalan itu di buat seperti jalan tol, bagaimana pemerintah mengabaikan masyarakat di pedalaman yang jauh dari kota?" kata kakek
"pembangunan dari pemerintah masih belum sampai di kampung itu tuan besar, mungkin beberapa bulan lagi karena pengajuan baru di lakukan mereka" jelas Giorgi tidak ingin jika tuannya salah paham dan melakukan demo seorang diri di istana negara akan sangat merepotkan nantinya.
"apa yang kamu pikirkan di kepalamu, terserah apa alasannya besok jalan itu sudah mulai di perbaiki!" kata kakek sambil meluruskan punggungnya di kursi pijat. Perjalanan menuju rumah besannya di tunda di tengah jalan di karena tulang punggungnya sudah mulai retak akibat goncangan di jalan.
Hari ini kakek memilih kegiatan mengunjungi rumah keluarga Nadila menantunya, jika di bayangkan akan sangat menyenangkan bekerja di kebun cabe pak Hasim. Kakek menjadikan alasan ingin berolahraga di bawah panas matahari. Di sisi lain Nadila merasa aneh dengan kakek yang senang menghilang dan muncul tiba-tiba. Namun setelah mendapat pencerahan dari suami manjanya dia pun mengerti.
"kakek punya kesibukan sendiri sayang" kata tuan Liam.
Tuan Liam harus berangkat kekantor atas perintah dari nyonya rumah utama, sudah semakin besar kepala saja kamu Nadila berani memerintah dan mengatur tuan Liam yang berkuasa sesuka hati mu tapi kamu yang di cintai tuan Liam jadi terserah padamu saja. Walau berat untuk pergi tuan Liam tetap melangkah meninggalkan rumah.
Hari pun berlalu hari kelahiran akan sangat dekat. Nadila yang merasakan pembengkakan di kakinya tidak mengeluh dia sangat bahagia mendapatkan peran yang di impikan semua wanita di muka bumi. Nadila melalui masa kehamilan dengan bahagia, inilah yang meluluhkan hati tuan Liam padanya.
Kakek sudah mulai kuat lagi dan hendak melakukan perjalanan berpetualang, kali ini kakek melewati dengan baik, mereka sampai di perkampungan yang memiliki udara sejuk dan menyegarkan di pagi hari tanpa polisi udara. Pak Hasim yang menyadari ada tamu yang berkunjung tergesa-gesa menyambut.
"tuan, apa yang anda lakukan disini" pak Hasim merasa ini sudah tidak sewajarnya.
__ADS_1
"tentu saja ingin bertemu dengan besanku, kamu pikir hanya kalian yang bisa datang ke rumah Dewantara, Haha saya juga bisa pak Hasim ayo masuk" nah siapa tuan rumah yang sebenarnya kenapa malah kakek yang mempersilakan masuk, lucu sekali.
Pak Hasim masih segan dengan kakek, dilihat dari yang dia punya sudah jauh jika di sandingkan dengan kekayaan dan rumah Dewantara. Rumahnya saja hanya sebesar kamar tamu rumah utama di kota bagaimana bisa kakek dengan sampai memutuskan menginap di rumah kecil itu.
"tuan, maafkan kami jika membuat anda kurang nyaman, tapi inilah kondisi rumah kami" pak Hasim takut menyinggung perasaan kakek yang sudah sangat senang.
"ada apa dengan mu pak Hasim? bahkan tinggal di dalam goa di hutan tidak masalah bagi saya, rumahmu ini sudah sangat elit di kampung ini" benar saja yang di katakan kakek perkembangan usaha pak Hasim semakin meningkat dan rumah keluarganya lah yang paling mewah dan besar di kampung itu.
Kakek menjalani misi tinggal di rumah pak Hasim dan bekerja di kebun cabe untuk memetik cabe setiap hari yang di ikuti oleh Giorgi, ya Giorgi lah yang mengangkat beban cabe sedangkan kakek hanya memetik saja.
"tuan besar jika kolega bisnis anda melihat hal ini mereka akan beranggapan kalau anda sedang bangkrut" Giorgi.
"ah baik lah tuan, tapi gaji pekerja di sini delapan puluh ribu per hari tuan, saya merasa tidak enak jika menghargai anda seperti itu " kata pak Hasim malu, bagaimana bisa dia mempekerjakan sultan dunia. sekaligus merasa hebat akan posisinya yang menjadi bos.
"ah begitu rupanya, baiklah berikan upah segitu saja, saya akan bekerja dengan baik" kata kakek bersemangat memetik cabe yang sudah matang berwarna merah.
"permainan apa ini tuan besar?" Giorgi mengusap wajahnya.
Sepanjang hari butuh tani dadakan bekerja, dia sangat menghayati perannya sebagai seorang pekerja di bawah pimpinan bos pemilik kebun. Gaji akan di dapat setelah bekerja satu Minggu di hari pekan, begitulah pak Hasim memberi gaji karyawan nya.
__ADS_1
Awalnya kakek merasa punggungnya mau patah karena setengah membungkuk sepanjang hari, tinggi pohon cabe sangat lah tanggung membuatnya harus berdiri seharian.
"tuan jika anda melanjutkan pekerjaan ini, saya bisa pastikan anda akan kesulitan menyaksikan kelahiran cicit anda" kata Giorgi yang sudah khawatir dengan kondisi tuan besarnya.
"apa kamu mendoakan saya mati?" kakek melempar pisau ke arah Giorgi.
"hati-hati dengan benda tajam tuan" Giorgi beralih memijat bahu dan punggung kakek hingga sang kakek yang kelelahan tertidur.
Berita tentang kelakuan kakek sampai pada kangsan di restoran pinggir kota, pak Hasim menelpon putranya untuk mencari solusi yang tepat akan kelakuan kakek. Alhasil kangsan terkejut bukan main.
"apa kakek tua itu ingin umurnya pendek, jika iya seharusnya jangan mempersulit diri cukup minum sianida saja" kangsan terheran-heran.
kakek akan berada di kampung sampai pembangunan jalan selesai, dia ingin menjadi orang pertama yang melakukan perjalanan menuju kota sebagai uji coba.
"Pastikan jalan itu selesai sebelum kelahiran cicitku Giorgi" perintah kakek.
"baiklah tuan akan saya usahakan yang terbaik, besok pembangunan jalan akan dilakukan oleh pekerja profesional. Saya juga berharap anda tidak keberatan jika saya membuka lapangan pekerjaan untuk warga desa tuan, mereka menawarkan jasa untuk ikut membantu perbaikan jalan sebagai ungkapan suka cita" lanjut Giorgi yang menurutnya itu harus dilaporkan.
"berikan upah dua kali lipat bagi mereka" kata kakek.
__ADS_1
Pembangunan akan cepat selesai jika banyak pekerja yang melakukannya, Biaya miliyaran rupiah yg Idak berhasil mengikis kekayaan kakek Umbara yang memiliki cabang perusahaan di segala penjuru. Belum lagi gajinya untuk memetik cabe akan menambah kekayaannya.