
Ini hari ke empat Nadila berada di villa itu. matahari sudah mulai keluar dari persembunyiannya perlahan Nadila membuka matanya perlahan, dia mendapati pemandangan wajah tampan milik suaminya. Menggerakkan jari kecilnya menelusuri bentuk wajah suaminya perlahan berharap pria itu tidak terusik.
"bagaimana aku menanggapi perasaanmu tuan muda suamiku? aku mulai merasa nyaman berada di sampingmu, mungkinkah aku jatuh cinta padamu lalu bagaimana caraku memberitahu tentang perasaanku ini?" Nadila masih tetap pada aktivitas paginya yang meraba-raba wajah suaminya.
"apa kamu belum puas, sayang" suara tuan Liam mengejutkan Nadila, ternyata tuan Liam bangun lebih dulu darinya. tuan Liam hanya pura-pura tidur saat menyadari pergerakan istrinya.
Tuan Liam dengan cepat membalikan badannya dan menahan Nadila dengan kakinya, sangat cepat membaca situasi kalau istrinya akan melarikan diri.
"apa kamu sudah mencintaiku?" tuan Liam menatap mata istrinya mencari jawaban disana, ternyata istrinya masih diam dan tidak menanggapinya.
perlahan tangan tuan Liam menyusuri setiap garis wajah istrinya dan jari itu perlahan berhenti dibibir indah istrinya, mereka bertatapan sangat lama tuan Liam takut istrinya menolak.
"boleh kah?" tuan Liam meminta izin Nadila, istrinya itu sepertinya terhipnotis dengan tatapan itu kemudian mengangguk. Tuan Liam tersenyum istrinya memberi izin untuk menciumnya. Tanpa membuang waktu tuan Liam mewujudkan keinginan nya, memberi ciuman lembut di pagi hari. Nadila memejamkan matanya tubuhnya menegang saat sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Ciuman yang berlangsung lama dan sangat dalam dilakukan tuan Liam, disudahi setelah dirasa istrinya hampir kehabisan nafas.
"bernafas lah sayang" tuan Liam heran dengan istrinya yang sangat kaku dalam berciuman. Nadila terengah engah saat suaminya melepaskannya.
"maaf, a...aku tidak perna melakukan ciuman sebelumnya" Nadila merasa malu, wajahnya memerah karena dirinya masih dalam Kungkungan suaminya. alhasil tubuhnya tidak menolak.
"jadi aku yang pertama berciuman denganmu, Dila sayang." betapa bahagianya tuan Liam mendengar pengakuan itu, Nadila hanya mengangguk dalam malu. Hal itu sangat menggemaskan, ciuman kedua dimulai kembali tuan Liam tidak menyia-nyiakannya mencoba menikmati ciuman istrinya lagi.
"suamiku" Nadila berbicara disela sela ciuman mereka, tubuhnya sudah panas dingin sekarang dia takut suaminya lepas kendali.
"ada apa hmm?" tuan Liam sepertinya sangat menikmati, bahkan ciumannya sudah turun ke leher istrinya dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.
"apa ini tidak diluar batas?" Nadila berbicara dengan suara pelan takut menyinggung perasaan suaminya. "maafkan aku suamiku, tapi kumohon mengertilah aku belum siap untuk hal ini" Nadila memejamkan matanya berharap suaminya berhenti sejenak.
tuan Liam berhenti setelah mendengar perkataan pelan dari istrinya, mungkinkah dia terlalu terburu buru? dia kembali menatap wajah istrinya tatapannya membuat jantung Nadila melompat dari tempatnya.
"apa aku belum bisa melakukannya?" dengan raut wajah kecewa tuan Liam bertanya pada istrinya.
"maaf, a...aku belum siap suamiku. kumohon jangan marah" Nadila merasa bersalah karena melihat wajah suaminya yang memerah menahan hasratnya.
"Dila sayang, aku ini suamimu kita sudah lama menikah. aku mengerti perasaanmu saat ini sayang, tapi kuharap kamu juga mengerti posisi ku. Dila, aku pria normal dan mungkin tidak bisa tahan jika berlama lama, mungkin ini terlalu cepat aku tidak akan memaksamu hmm" tuan Liam mengangkat tubuhnya dan duduk di sisi ranjang. Ada rasa kecewa dan juga rasa bersalah karena sulit mengontrol dirinya akhir akhir ini saat bersama istrinya. Nadila ikut terbangun dan perlahan memegang tangan suaminya bagaimana pun ini kewajibannya.
__ADS_1
"aku hanya takut, suamiku" kata Nadila tertunduk. Tuan Liam menatap istrinya kembali dan menggenggam tangannya erat.
"aku mengerti" menghadiahi istrinya dengan kecupan di kening. Tuan Liam menenangkan istrinya agar tidak terlalu tegang.
"suamiku, aku tidak tahu perasaanku seperti apa saat ini maaf jika belum bisa menanggapi perasaanmu. aku tidak bermaksud menolak hakmu bagaimana pun kamu adalah suamiku. Aku hanya takut saja" Nadila mengutarakan maksudnya dengan wajah tertunduk dan jari-jari tangan nya saling meremas. Tidak disangka perkataan itu memberi lampu hijau pada tuan Liam.
"jadi boleh aku melakukannya?" tuan Liam masih mencari kepastian. Nadila hanya mengangguk. "suamiku punya hak melakukannya"
Tuan Liam sangat senang istrinya mau menerimanya dan memberi haknya, bibir itu perlahan bertaut kembali perlahan dan lembut menuntun Nadila berbaring. Memberi beberapa sentuhan ironis untuk merilekskan tubuh istrinya.
"kamu yakin sayang?" pertanyaan untuk kesekian kalinya.
"tapi pelan pelan ya, aku takut" Nadila kali ini tidak menolak. Entah sejak kapan baju tidur itu lolos dari tubuh mereka, nadila menutup matanya dia sangat malu.
"tatap mataku sayang" suara parau itu membuat jantung Nadila berdetak cepat dengan nafas yang naik turun.
"a...ku malu" Nadila masih enggan membuka matanya, dengan sedikit paksaan tuan Liam menarik tangan istrinya dan menguncinya di kedua sisi. kemudian memberi kecupan lembut agar istrinya fokus padanya
"aku ini suamimu sayang, kamu pasti terbiasa nantinya. kamu mau kan melakukannya?" tuan Liam bertanya dengan harapan.
Tuan Liam mulai menegakkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman untuk istrinya, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya setelah mereka menikah.
"aku akan pelan-pelan sayang" tuan Liam mulai melakukan tugasnya secara perlahan mengarahkan miliknya menggoda istrinya dibawah sana dan perlahan mencoba menekannya.
"sakit" Cici nadila, Sangat sulit untuk tuan Liam masuk. Baru di ujung istrinya sudah mengeluhkan sakitnya. kembali tuan Liam memberikan ciuman untuk menenangkan istrinya.
Di meja makan sekretaris Ken dan Loi duduk menunggu tuan mereka. Loi tidak sabaran dan mondar mandir, ini sudah jam 8 pagi sepasang kekasih itu belum keluar dari kamar.
"apa mereka pingsan berjamaah Ken?" Loi mengeluarkan banyak praduga sedari tadi.
"diam lah Loi, aku penasaran apa gender mu sebenarnya" sekretaris Ken menikmati sarapannya dengan tenang.
"hei, pria gila ini. Aku hanya merasa ada yang tidak beres dengan mereka pagi ini yang sangat lama keluar kamar, apa mereka tidak kelaparan?" Entah sejak kapan Loi jadi cerewet sekretaris Ken bahkan tergelitik akan hal itu dan mulai menggoda Loi lagi.
__ADS_1
"aku tidak yakin kau benar seorang pria itu saja" sekretaris Ken mancing lagi, lebih baik berdebat dengan Loi dari pada memikirkan apa yang sedang dilakukan tuannya di dalam kamar.
"apa kau ingin melihatnya Ken, kau bisa ngiler kalau melihat milikku" Loi membanggakan harta berharganya.
"aku akan memotongnya sebagai menu makan malam nanti hahaha" pikiran jahat sekretaris Ken membuat ngilu saja. Loi terdiam dan memegang miliknya, tidak berselang lama dia teringat kembali dengan pasutri yang belum keluar kamar itu. Dia baru bisa menghilang setelah bertemu dengan tuan mudanya.
"memangnya apa yang mereka lakukan sekarang" Loi harus memastikan semua baik baik saja baru bisa memercayai sekretaris Ken menjaga tuan muda dan pergi beristirahat.
"menurutmu?" tanya Ken Menaik turun kan alisnya dan itu berhasil mengantarkan otak sadar Loi pada jawabannya, Loi membanting sendoknya karena sudah mengerti yang sebenarnya terjadi. "sial, tuan muda mengeksekusi nona di pagi hari yang benar saja."
Tuan Liam memulai lagi dari awal mereka tidak mungkin menyudahi begitu saja apa yang sudah di mulai.
"ini adalah pertama kali sayang, akan sedikit sakit. Cobalah menahannya, setelah ini tidak akan sakit lagi. percayalah hanya sebentar" Nadila mengangguk.
Tuan Liam menempatkan diri dengan perlahan lalu melakukan hentakan kuat yang membuat istrinya menjerit saat setengah darinya sudah masuk.
"sakit" air mata Nadila mengalir di sudut matanya dan meremas bagian mana saja dari tubuh suaminya saat tuan Liam memaksa diri untuk masuk seluruhnya, bahkan menggigit lengan suaminya itu.
"maaf sayang, maaf" Dia berhenti memberi ruang pada istrinya untuk menyesuaikan diri. Memberi kecupan di seluruh wajah istrinya agar melupakan rasa sakitnya, dan perlahan mulai bergerak menyalurkan hasrat yang mendalam. Pagi itu tuan Liam membawa istrinya menikmati indahnya surga percintaan.
Pencinta itu berlangsung sangat lama hingga tubuh tuan Liam bergetar mencapai puncak kenikmatan merasakan hatinya yang dingin saat sesuatu dari tubuhnya keluar, dia menekan dirinya lebih dalam dan menggenggam erat tangan istrinya. Tuan Liam ambruk diatas tubuh istrinya.
"aku mencintaimu Dila, ku harap kamu selalu mengingat cinta ini. Terimakasih sayang" tuan Liam sangat bahagia bisa memiliki istrinya seutuhnya pagi itu. Dia membiarkan istrinya tertidur setelah kelelahan, ketika meninggalkan tempat tidur matanya tertuju pada noda d*r*h di tempat tidur. Tidak disangka sebuah senyum terukir di wajahnya.
Setelah tubuhnya merasa segar tuan Liam keluar kamar meninggalkan istrinya yang terlelap, dia yakin sekretaris Ken menunggu di sana.
"selamat pagi tuan" sekretaris Ken bisa gila sekarang tuan muda yang terhormat baru keluar jam 11 siang. Loi melirik tuan muda itu dan menepuk kepalanya sendiri.
"ada apa denganmu Loi?" tuan Liam penasaran dengan Loi yang masih setia menunggunya dan belum pergi ketempat persembunyian nya.
"saya harap nona muda baik baik saja tuan" Loi berfikir kemana-mana "aku berfikir nona sudah pingsan sekarang".
sekretaris Ken menahan tawanya karena bisa membaca pikiran Loi. Tuan Liam tidak menanggapi Loi yang penasaran dan mengusir Loi dari hadapannya menghilang saja katanya. Hari ini tuan Liam tidak akan kemana-mana dan sekretaris Ken dikirim mengurus perusahaan.
__ADS_1
"baiklah tuan muda ini bulan madu anda yang tertunda, selamat untuk malam pertama alias pagi pertama kalian" sungguh tidak sesuai ekspektasi melakukan olahraga itu di pagi hari.