
Setelah menyelesaikan misinya pria psikopat itu berubah menjadi pria biasa. Dia memasuki rumahnya dengan seribu kerinduan pada wanita yang berdiam di dalam rumahnya. Hal yang tidak terduga di dapati nya, wanita itu pingsan di lantai.
"Jennie, Jen bangun apa yang terjadi" pria itu adalah Hendra, tidak membuang waktu dia membawa Jennie ke rumah sakit terdekat.
Wajah pucat Jennie menimbulkan kekhawatiran yang mendalam bagi Hendra, dia tidak percaya hal ini jika akan kehilangan Jennie. Dokter langsung memberikan penanganan khusus untuknya entah sejak kapan air mata itu sudah luruh di mata Hendra.
"selamatkan dia apapun caranya dokter, aku mohon" katanya pada dokter dengan penuh harapan. Sangat lama dia menunggu di depan ruang ICU, menunggu kabar baik yang akan dia dengar tentang Jennie.
"maaf, maafkan aku Jen. Aku tidak seharusnya meninggalkan kalian" rasa bersalah yang terdalam.
"apa anda suami ibu Jennie? tolong untuk di tanda tangani" tanya suster dengan beberapa lembar surat yang akan di tanda tangani.
"bagaimana keadaannya sus dan bayi kami?" kata Hendra lagi.
"silahkan masuk tuan, permisi"
Hendra masuk kedalam ruang rawat Jennie, yang sedang di infus. Beruntung bayinya masih selamat dengan begitu Hendra dapat bernafas lega.
"istri anda sudah melewati masa kritis tuan, mungkin sebentar lagi akan sadar. Untuk kedepannya lebih berhati-hati lagi kondisi ibu hamil yang lemah rentan mengalami pingsan karena lelah dan gejala mual lainnya. Kami akan menambah vitamin agar bayinya tetap sehat." jelas dokter lalu meninggalkan ruangan itu.
Yang diketahui pihak rumah sakit Hendra adalah suami dari Jennie. Sekarang Hendra duduk terdiam sambil menggenggam erat tangan Jennie dan kadang mengelus perut Jennie sampai tertidur sambil bergumam. Semua yang di katakan ya ternyata di dengar oleh Jennie hingga Jennie menangis menahan sakit.
"Jen" Hendra terbangun mendengar tangisan Jennie yang memegang perutnya.
"kamu sudah bangun, mana yang sakit" Hendra mencoba menyentuh perut Jennie namun wanita itu menolaknya.
"pergi!" kata Jennie dalam tangisnya.
Hendra merasa ada yang tidak beres dengan sikap Jennie yang terlalu tiba-tiba, dia memilih mundur namun tidak berniat pergi walau di usir sekian kali. Jennie yang merasa kuat mencabut jarum di tangannya tidak perduli sakit di tangannya, dia mencoba berjalan menuju pintu. Mengetahui hal itu Hendra dengan cepat menahannya walau Jennie memberontak dalam genggamannya dia tidak melepasnya, dia membawa Jennie dalam pelukannya, memeluknya erat agar tidak pergi meninggalkannya.
"lepaskan aku hiks" Jennie memukul kuat dada bidang Hendra.
__ADS_1
"ada apa denganmu Jennie tolonglah tenang, jangan menyakiti dirimu sendiri" Hendra menghentikan tangan Jennie yang memerah karena memukulinya dan kembali memeluk nya.
"kenapa, kenapa membohongiku hah, apa ini caramu menilai diriku?"
Perkataan Jennie menyadarkan Hendra kalau ternyata rahasianya telah terbongkar, seribu maaf di ucapkan oleh Hendra. Dia bingung menjelaskannya mulai dari mana sekarang, sebelum dia mengungkapkan tentang dirinya Jennie sudah lebih tahu darinya. Merasa Jennie tidak berniat pergi lagi dia membawa Jennie di atas branka.
"maaf, maaf jika cara ku salah Jen." sesal Hendra.
" mengapa harus seperti ini, hiks. Mengapa kamu tega melakukannya padaku?" teriak Jennie berderai air mata.
"aku salah Jen, aku khilaf " kata Hendra
*flashback*
Hendra adalah pengawal terbaik dari kakek Umbara, namun hanya bergerak di dunia yang tidak di ketahui oleh orang-orang, hanya beberapa orang khusus yang mengenalinya. Saat itu dia kebetulan berada di markas yang disana Jennie di sandera karena hukuman dari kakek. Malam itu Hendra tidak mengenali dengan jelas siapa wanita yang mereka kurung karena mabuk Hendra tidak bisa mengendalikan dirinya
"kamu milikku malam ini sayang" kata Hendra
Hendra yang tertarik dengan tubuh seksi Jennie dengan cepat menyeret nya ke Atar ranjang dan mencumbui nya sangat dalam. Jennie mencoba meronta tapi mulut nya selalu di di tutup oleh ciuman panas.
"aku tidak akan berbuat kasar menurut lah, ini pengalaman pertamaku" kata Hendra
Entah angin apa yang membuat Jennie luluh malam itu hingga suasana panas itu di nikmati dengan penuh g**r** seakan Jennie membiarkannya melakukan kemauannya. Sangat lama bermain dengan menelusuri setiap inci tubuh Jennie yang membuatnya menggelinjang menahan diri. Tidak puas dengan jarinya, Hendra mengambil posisi santai untuk memasuki Jennie.
"jika sakit katakanlah, aku akan membuatmu senyaman mungkin akhhh" suara parau Hendra malam itu berhasil membuat Jennie kehilangan dirinya, dia bermesraan dengan orang asing yang memperlakukan dirinya bagai binatang.
"hah, akhh... hmm" suara ironis Jennie menambah kecepatan gerakan Hendra. Baru pertama melakukan tapi terasa menyenangkan.
"tahanlah sedikit lagi" kata Hendra semakin liar.
Jennie tidak percaya dengan kekuatan lawannya malam itu bahkan dia kehabisan ide untuk menolak orang asing yang datang ke kamarnya tengah malam itu. Mengetahui daerah intinya seakan penuh dia yakin Hendra mencapai puncaknya dengan sekuat tenaga Jennie menolak tubuh itu namun kekuatannya tidak sebanding.
__ADS_1
"tidak, jangan lakukan itu. Tidakkkk" teriak Jennie saat Hendra menekan dalam miliknya saat mencari puncak ******* yang menggairahkan.
"akhhh sssttt" Hendra memeluk tubuh Jennie erat saat itu.
Tidak sempat terpikir oleh Hendra bahwa dia telah menanam benihnya pada Jennie, setelah kejadian itu Hendra menghilang dan tidak ditemukan. Jennie hanya bisa gemetaran.
*flash off*
Jennie memeluk lututnya saat mengingat hari itu, ternyata Hendra sangat tega melakukannya saat itu. Dia baru mengingat semuanya, perubahan Hendra sangat sulit di kenali. Penampilan Hendra saat ini lebih rapi dan punya khas tersendiri kerapkali membuat orang tertipu saat melihat nya.
"terimakasih, terimakasih Jen sudah mempertahankan nya" kata Hendra menangis sambil berlutut.
"dia bukan anakmu!" kemarahan Jennie belum selesai.
"apa perutmu masih sakit?" seakan tidak mendengar penolakan Jennie, Hendra mendekati perut Jennie dan mengelusnya. Hatinya hangat saat menyadari Jennie yang tidak menolaknya walau masih marah padanya.
Setelah dokter memeriksa kondisi Jennie, akhirnya sudah bisa pulang dengan banyak bujukan dari Hendra Jennie pun menerima pulang kerumah Hendra dengan canggung. Begitu juga dengan Hendra yang sebenarnya tidak tahan dengan semua ini.
"bisa kah kita kembali seperti sebelumnya? s belum kamu mengenalku sebagai orang jahat Jen. Aku salah, tapi percayalah aku mencarimu setelah itu."
"kamu mencari ku tapi sebagai orang asing" Jennie kecewa.
"itu seperti cinta satu malam bagiku Jen, dan aku sangat menyesal untuk itu meninggalkanmu malam itu. Bagaimana kalau aku memberitahu mu pasti kamu tidak akan mau melihatku dan bayi kita" Hendra sangat sulit menjelaskannya, dia hanya bisa mengusap wajahnya saat membayangkan jika Jennie nekat berbuat hal buruk.
Tiba-tiba Jennie mual lagi, perutnya hendak mengeluarkan isinya dengan cepat dia berlari ke wastafel. Hendra tidak tinggal diam dia mencoba mengusap punggung wanita yang menjadi korbannya untuk meringankan walau hanya sedikit dari penderitaannya. Kehadiran Hendra ternyata dapat meredakan emosi Jen, rasa misalnya hilang saat berdekatan dengan Hendra bahkan tertidur nyaman di samping Hendra.
Mungkinkah mereka sudah berbaikan?
Hay, Hay, Hay.
sobat author sedikit melenceng nih. sudah bingung dan olengš¤
__ADS_1