
Pergantian hari yang tidak bisa di hentikan oleh kuasa apapun karena sudah hukum alamnya seperti itu. Setiap orang menjalani hari dengan nasibnya masing-masing, di sertai dengan rasa syukur dan sabar. Tidak sedikit mengagumi keindahan semesta yang sulit di jelaskan.
Wanita hamil dengan usia kandungan empat bulan merasa lemas karena terus memuntahkan isi perutnya, tidak ada yang datang menghiburnya atau sekedar menyemangatinya. Anak tanpa ayah yang dia pertahankan sedang menyiksanya tapi dia tidak pernah menyerah. Jennie wanita tanggung dia masih memiliki akal sehat sehingga menanggung penderitaan demi bayinya.
"ayolah baby bekerjasama lah sedikit" kata Jennie mengelus pelan perutnya yang bergejolak seharian ini.
Jennie tampak lesu dan Pucak karena kekurangan nutrisi, bagaimana tidak kondisinya yang mual muntah sangat tidak mendukung berjalan pun dia kesulitan. Di tengah kelemasan nya ada gedoran pintu yang kuat, lebih tepatnya dobrakan.
"kenapa lama sekali! dasar wanita murahan!" kata wanita paruh baya yang berbadan menor dengan dua pria berbadan kekar di belakangnya.
"maaf Bu" Jennie hanya bisa minta maaf yang datang adalah menagih kontrakan yang di tempati nya, dia sudah menunggak dua bulan. Setiap di tagih Jennie selalu meminta kesempatan untuk mendapatkan uang dulu tapi nyatanya Jennie sangat tidak beruntung.
"alasan! cepat keluar dari sini, kamu kira ini rumah nenek moyangmu! sudah di beri tempat tinggal tapi tidak tahu diri" pemilik kontrakan itu menyeret tubuh Jennie ke luar rumah, sungguh kejam bahkan Jennie meringis menahan sakitnya kepalanya yang terbentuk di ujung kursi.
Jennie hanya pasrah dan menangis karena itu adalah kesalahannya, betapa tidak tahu dirinya dia seperti yang di katakan pemilik kontrakan tadi. Dia berdiri perlahan sambil menahan perutnya untuk dia lindungi, semua barang yang merupakan miliknya di lemparkan keluar. Jennie di perlakukan seperti sampah yang tidak ada nilainya.
"pergi jauh-jauh kamu membuat saya rugi saja" sentak pemilik kontrakan melempar kantong plastik yang berisi beberapa baju kearah Jennie, beruntung Jennie dapat menghindar sehingga tidak mengenai perutnya.
Selepas kepergian pemilik kontrakan, Jennie yang menyedihkan memungut barang-barang nya dalam kebingungan. Harus kemanakah dia pergi setelah ini, tidak ada tempat pulang untuknya seandainya dia memiliki suami maka dia punya harapan.
"mengapa sesulit ini cobaan yang kamu berikan tuhan, tidak kah ada keringanan untukku? " Jennie terduduk di tanah sambil memeluk lututnya.
Seseorang datang menghampirinya dan tanpa ragu membelai kepalanya. Jennie merasakan kehangatan di waktu yang sangat singkat dengan perlahan mengangkat wajahnya agar bisa melihat pemilik tangan itu. Setelah mengetahuinya dia kembali tertunduk, tidak seharusnya orang orang melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
__ADS_1
"apa kamu baik-baik saja?" tanya Hendra
mendengar pertanyaan itu, air mata Jennie tidak terbendung dia menangis tertahan, sangat sulit mengungkapkan penderitaan yang dia alami. Hendra tetangga lamanya merangkul Jennie di pelukannya, berharap dia bisa menggantikan posisi Jennie yang menyedihkan.
Setelah mengetahui bahwa Jennie tidak memiliki tempat tinggal Hendra dengan suka rela menawarkan agar Jennie tinggal bersamanya. Namun dia mendapat penolakan dari wanita hamil itu.
"ayolah, aku sangat mengkhawatirkan keadaan kalian. Kalau bukan demi dirimu setidaknya lakukan demi bayi dalam perutmu Jen, jangan sampai terjadi sesuatu padanya" Bujukan maut yang berhasil merenggut hati Jennie dia merasakan getaran di hatinya saat Hendra tetangga lamanya mengingatkannya akan bayinya. Suara dengan nada pelan di akhir kalimat Hendra mengandung makna yang kuat.
Hendra meraih tangan Jennie menuju mobil, mendapati Jennie yang menurut berarti dia setuju tinggal dengannya. Apapun alasannya Hendra sedang senang sekarang, dia menyetir dengan sangat pelan untuk menghindari goncangan di perut Jennie. Pria yang sangat pengertian, mobil yang melaju dengan sangat halus menciptakan kenyamanan sehingga penumpang di sebelahnya tertidur.
"apa kamu belum juga mengingatku? pada hal aku sudah sering muncul di hadapanmu, semoga kamu tidak membenciku Jennie kalau mengenali siapa diriku" Hendra berkata di hatinya sambil memandangi wajah tenang wanita di sebelahnya.
Setelah sampai di halaman rumah Hendra menggendong Jennie yang tertidur bahkan tidak terusik sama sekali, dengan perlahan Hendra meletakkannya di kasur oversize miliknya. Inilah rumah Hendra yang sebenarnya, berada di pinggiran kota yang tergolong sedikit ramai. Rumah berukuran sedang dan bisa tergolong mewah menurut beberapa pandangan orang.
"ah.. kyakkk" teriakan Jennie yang sangat keras.
"haaaaa" teriak lagi saat melihat pria di hadapannya.
Hendra bahkan terjungkal dari pinggir ranjang tempat dia duduk. Jennie sangat histeris mendapati dirinya sudah berada di kamar yang asing baginya, sebuah terkejut saat melihat Hendra si pria asing berada tepat di hadapannya.
"kamu berada di rumahku lebih tepatnya di kamar ku, ayo bangun dan bersihkan dirimu setelah itu turunlah ke bawah untuk makan malam." kata Hendra menetralkan keterkejutannya.
Jennie yang sudah segar menuruni tangga dengan perlahan, pemandangan yang sangat indah itu merebut pandangan Hendra. Wanita hamil ternyata terlihat seksi di balik balutan dasternya. Jennie menyadari tatapan Hendra yang tidak lepas darinya merasa malu terlebih dengan adanya makanan yang tersusun rapi di meja makan.
__ADS_1
"duduklah Ken, tidak usah malu ini semua untukmu" Hendra ternyata sangat pengertian.
"mengapa anda berbuat seperti ini pada saya" pertanyaan Jennie berhasil membuat Hendra gugup.
"apa Jennie mengenaliku?" jantungnya berdegup kencang bahkan telapak tangannya berair.
"kanapa anda sangat baik dan memperlakukan saya seperti ini, saya merasa anda terlalu berlebihan" lagi-lagi air mata Jennie menetes.
Hendra merasa hatinya teriris melihat kesehatan mental Jennie yang menurun, bukan seperti yang dia kenali selama ini, wanita yang selalu tampil memukau yang menarik perhatiannya sejak melihatnya. Ya, Hendra penggemar Jennie yang bergelar model saat itu.
"kedepannya bersikaplah seperti biasa Jen, aku harap kamu bisa nyaman tinggal disini"
"bukankah kamu tetanggaku?" Jennie ingat betul siapa pria di hadapannya, dia bertanya sambil melahap makanannya. makanan yang terasa pas di lidah nya bahkan tidak sadar sudah menghabiskan dua piring.
"ya, aku pindah karena pekerjaanku sudah selesai" jawaban Hendra di terima Jennie dengan oh riang. Tidak baik bertanya lebih jauh mereka bukan siapa-siapa.
Dan mulai saat itu Jennie tinggal di rumah orang asing yang sudah beberapa kali berpapasan dan bertamu dengannya dengan anggapan kebetulan selama ini. Entah bagaimana kedepannya tapi dia tidak memiliki pilihan lain, lagi pula pria itu tidaklah buruk bahkan setelah mendengar kisah pedih yang di ceritakan Jennie dia tidak merasa jijik. Bayi di perut Jennie ada karena peristiwa yang tidak di inginkan tapi pria itu tidak menghiraukannya, baginya Jennie tetap berada di sisi nya sesuai yang dia inginkan.
siapa pria yang bernama Hendra ini?
Hay Hay, sobat author up lagi yah.
jangan tinggalkan author dong 🤠yuk nikmati cerita disaat santai bersama author.
__ADS_1
Kiss Kiss Kiss 😘😘😘