Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 30 perasaan tuan muda


__ADS_3

tuan Liam sudah sehat kembali keberadaan Nadila sangat berpengaruh baginya.


"tuan kenapa dari kemarin saya tidak melihat kakek?" tanya Nadila yang tidak melihat keberadaan kakek mertuanya sejak tuan Liam sakit.


"aku tidak tahu" tuan Liam sudah terbiasa berbahasa tidak formal dengan Nadila.


"waktu anda sakit kakek juga tidak kelihatan"


"habiskan sarapanmu Keith sayang"


"berhentilah memanggil saya seperti itu tuan" "saya merinding mendengarnya" lanjutnya dalam hati.


"aku tahu kau senang dengan panggilan itu iya kan?" kata tuan Liam Menaik turunkan alisnya.


Nadila memakan sarapannya dengan cepat sepertinya tuan Liam tidak waras akhir akhir ini, setelah selesai sarapan nadila dengan cepat keluar rumah dan masuk kedalam mobil.


"sepertinya semangat kerjamu meningkat sayang" panggilan itu lagi.


"berhentilah memanggil saya dengan sebutan yang aneh itu tuan"


"apa panggilan itu aneh Ken?"


"tidak tuan muda, nona Nadila adalah istri anda itu panggilan yang bagus" kata sekretaris Ken yang bahkan ingin muntah dengan perkataannya sendiri.


"hei, sekretaris sialan ini saya tidak suka dipanggil seperti itu. Apa yang dipikirkan orang kalau mereka mendengarnya" Nadila sudah tidak tahan lagi dengan drama ini.


"memangnya apa yang orang lain pikirkan? kamu adalah istri ku Presdir Dewantara group mereka pasti berpikir begitu" kata tuan Liam.


Nadila memilih diam dua lawan satu mana bisa menang pikirnya.


setelah melewati ramainya kendaraan dijalan mereka akhirnya sampai di lobi perusahaan. Nadila masuk ke dalam lift yang sama dengan suami dan sekretaris Ken dengan pandangan yang menunduk karena sangat banyak karyawan yang menatapnya.


"angkat kepalamu!" perintah tuan Liam


"tidak mau" Nadila menggeleng.


"Keith angkat kepalamu"


"tuan biarlah seperti ini saja kumohon "


tuan Liam melihat sekelilingnya sepanjang perjalanan memasuki kantor sangat banyak mata yang memandang tidak suka dengan Nadila. tuan Liam menarik Nadila kedalam ruangannya, melihat hal itu sekretaris Ken pun mengerti dan memilih berjaga di depan pintu ruangan tuan Liam.


di dalam ruangan tuan Liam Nadila mengangkat kembali wajahnya


"ada apa denganmu!"


"tidak apa apa tuan"


"Nadila Keith, kamu itu istri ku saat ini tidak seharusnya kamu takut pada tatapan mata karyawan itu, lagian kamu itu asisten pribadi tuan Liam mereka semua adalah bawahanmu jadi jangan pernah menunduk pada mereka"


"saya baru tahu tingkat kearoganan anda"


kata Nadila yang sulit untuk melakukan seperti yang diinginkan suaminya.


"kemari lah"


tuan Liam menjentikkan jari nya agar Nadila mau mendekatinya, tapi kaki Nadila enggan untuk berjalan terpaksa tuan Liam menarik nya hingga Nadila jatuh di pelukan tuan Liam.


"tuan apa yang anda lakukan?"


"menurutmu?" Taka tuan Liam yang mulai membelai wajah halus Nadila.


"tuan jangan begini" nadila sangat takut kalau ada orang yang tiba-tiba masuk termasuk sekretaris Ken.


"kenapa? bukankah ini wajar kamu adalah istri ku"


Nadila berusaha melepas diri dari genggaman tuan Liam walau dia tahu itu sia-sia


"berjanjilah kamu tidak akan menunduk lagi"


"kalau begitu berhentilah mengubah nama panggil saya tuan"


"tidak" jawab tuan Liam cepat.

__ADS_1


"tuan saya merasa tidak nyaman dengan panggilan itu"


"yang mana?"


"panggil nama saya seperti biasa NADILA"


"itu terlalu biasa di pakai orang dan aku tidak suka"


"tapi panggilan Keith itu terlalu asing bagi saya tuan karena nama itu tidak pernah digunakan selama ini"


negosiasi yang tidak berhenti itu membawa tuan Liam duduk dikursi kebesarannya dan mendudukkan Nadila di pangkuannya


"tuan biarkan saya berdiri" Nadila merasa tidak nyaman.


"aku belum selesai Dila berjanjilah dulu"


"Dila ?" tanya Nadila.


"bukan kah kamu yang meminta nama panggil mu diubah?"


"Nadila saja tuan"


"itu sangat jelek panggilan Dila lebih keren dan itu tidak akan diubah lagi! mulai sekarang namamu akan ku panggil Dila sayang" perkataan tuan Liam di akhiri dengan sebuah kecupan di pipi Nadila.


"ch, dasar mesum!"


"jangan sok jual mahal Dila sayang" tuan Liam masih berusaha menggodanya.


setelah dua jam berlalu sekretaris Ken merasa kakinya sudah mulai kesemutan di luar sana


"tuan muda mengapa sangat lama, ini sudah mau jam 10.00 sebentar lagi akan ada banyak pekerjaan. apa aku masuk saja tapi bagaimana kalau waktunya kurang tepat"


setelah menimbang nimbang sekretaris Ken akhirnya masuk ke dalam ruangan itu, dia memperhatikan kedua orang dalam ruangan itu


"kenapa nona Nadila berantakan sekali, apa yang terjadi tuan?" sorot mata sekretaris Ken Mencoba melemparkan pertanyaan itu pada tuan mudanya. Nadila pergi kekamar mandi untuk merapikan diri.


"aku malu sekali, sekretaris Ken melihat bentukku yang berantakan" Nadila


"maaf tuan muda jika saya mengganggu anda" kata sekretaris Ken santai


sekretaris Ken hanya bisa menggaruk kepalanya.


"seharusnya anda memesan hotel tadi tuan" saran sekretaris Ken


"apa kau sudah gila!"


sekretaris Ken melihat kekecewaan Dimata tuan mudanya


"tuan muda, maafkan saya kalau ini terlalu lancang. apakah anda sudah mulai mencintai nona?" sekretaris Ken ingin memastikan


helaan nafas tuan Liam yang terdiam cukup lama


"dia tidak menyukaiku Ken"


"bersabarlah tuan"


"apa dia tidak merasakan sesuatu saat bersamaku? Ken, bahkan aku merubah pola hidupku untuknya bahkan hari ini aku menyetujui mengubah panggilanku padanya. padahal aku memanggilnya dengan nama yang berbeda karena dia istimewa bagiku Ken." jelas tuan Liam


"jadi anda berhenti memanggil nona dengan sebutan 'Keith sayang'?" kata Ken menyeringai


"beraninya kau!"


"saya hanya bertanya tuan muda"


"hmm, aku mengubah menjadi DILA panggilan Nadila terlalu jelek jadi, DILA saja apa itu bagus Ken? "


" tentu saja tuan"


mulai saat itu panggilan dila untuk Nadila mulai berlaku oleh tuan Liam di selingi embel embel kata sayang.


perkejaan hari ini tidak terlalu padat karena tidak ada meeting penting yang harus di hadiri, Nadila pun punya banyak waktu untuk bergabung dengan temannya belinda


"sepertinya kamu sudah melupakan ku nadila" kata Belinda yang merindukan Nadila.

__ADS_1


"ayolah bel maafkan aku"


"kamu terlalu sibuk Nadila" Belinda cemberut.


"aku juga tidak tahu harus bagaimana bal, tiba-tiba aku menjadi asisten tuan Liam pada hal aku tidak menginginkan itu" kata Nadila


"bukankah seharusnya kamu bersyukur bisa dekat dengan tuan Liam, bahkan menghirup udara yang sama dengannya semua wanita sangat iri denganmu Nadila"


"apa yang kamu bicarakan Belinda sinting " Nadila merasa kata kata temannya itu sangat lebay


"ku dengar tuan Presdir belum punya kekasih, bagaimana kalau kalian berjodoh aku akan sangat bangga telah berteman dengan mu" kata Belinda memeluk tubuh Nadila.


"dia memberiku sangat banyak pekerjaan aku sangat lelah" keluh Nadila.


"kalau kamu jadi istrinya maka kamu akan di perlakukan seperti Ratu, aku bahkan mau pingsan memikirkannya" lanjut Belinda, membuat wajah Nadila memerah malu


"sepertinya saya khayal mu sangat tinggi"


"khayalan mu sudah terlambat Belinda, bahkan aku sudah sah menjadi istri presdir itu sekarang, bukan hanya menghirup udara yang sama bahkan lebih dari itu telah terjadi. yah, belum ke intinya sih sekedar ciuman dan pelukan yang kadang membuatku mati rasa"


Nadila berbicara dalam hati.


tanpa mereka sadari ada seseorang yang kurang kerjaan memperhatikan mereka.


"Ken"


"ada yang anda perlukan tuan" jawab Ken


"siapa gadis yang berteman dengan istri ku itu" memperlihatkan layar monitor dimana Nadila dan Belinda sedang berbincang


"itu nona Belinda tuan muda, satu divisi dengan nona Nadila di bagian pemasaran" jelas Ken


"seperti apa pertemanan mereka?"


"nona Belinda sangat ramah dan baik hati, nona Nadila sangat cepat akrab dengan nya tuan selama ini nona Belinda selalu ada untuk nona muda "


"kau yakin Ken" kata tuan Liam memastikan


"saya sudah memeriksanya tuan"


"hmm, kalau begitu beri dia bonus bulanan"


"Baik tuan muda"


sudah mulai sore tapi Nadila belum kembali keruangan Presdir, tiba-tiba tuan Liam teringat sesuatu


"Ken, dimana kakek sekarang?" tanya tuan Liam


"apa anda ingin menemui tuan besar?"


"tidak, hanya saja tadi pagi istriku menanyakannya"


"tuan besar menjaga jarak dengan anda untuk sementara waktu tuan"


"sejauh apa Ken?"


"orang suruhan tuan Geronimo berada di kota ini tuan muda"


"maksudmu Deorsa?" yg enak tuan Liam


"benar tuan, kakek anda sedang mencoba mengalihkan perhatian mereka, saya rasa ini demi nona muda juga."


"ada apa dengan istriku?"


"nona muda bisa terancam jika sampai diketahui oleh Geronimo "


"sepertinya aku terlalu lama berdiam diri Ken, tidak akan ku biarkan siapapun menyentuh istriku" tuan Liam merasa kelakuan Geronimo terlalu berlebihan. Banyak hal yang mereka bicarakan diruangan itu.


pembicaraan mereka terhenti saat pintu ruangan itu terbuka


"kau bersenang senang?" tanya tuan Liam


"hmm iya" jawab Nadila menunjukkan kesenangannya

__ADS_1


"baiklah ayo kita pulang"


Mulai sekarang tuan Liam memutuskan untuk tidak berlama lama berada di luar rumah bersama istrinya.


__ADS_2