
Seperti yang sudah di jadwalkan sekretaris Ken, hari ini tuan Liam dan istrinya pulang. Menghabiskan waktu bersama selama tiga hari bagi tuan Liam sudah cukup.
"apa kita akan pulang?" Nadila tidak rela meninggalkan villa itu.
"iya sayang. Suami tampanmu ini harus bekerja" kata tuan Liam memeluk mesra istrinya dan meluncurkan ciuman hangat di kepala istrinya.
"tapi, aku senang berada disini. Lagian kita belum pergi jalan jalan berkeliling bersama" Tanpa sadar Nadila sudah lebih akrab dengan suaminya. Mereka terlihat seperti pasangan bahagia.
"hmm kita bisa datang lain waktu" tuan Liam makin gemes, memilih untuk memeriksa laptop yang ada di atas tempat tidur kalau tidak rencana kepulangan mereka bisa tertunda.
Nadila tidak ingin cepat pulang, mengingat pekerjaan yang menumpuk di kantor membuat kepalanya meledak. Dia masih ingin libur. Melihat suaminya yang fokus dengan pekerjaan di laptopnya membuatnya tersenyum betapa dia terpesona, tuan Liam memergoki Nadila yang senyum senyum sendiri dan dia berencana menggoda istrinya.
"aku bisa saja menunda kepulangan kita sayang, asal kamu tidak menolak ku tiap malam. Rasanya akan betah berada disini bersamamu di tempat tidur" senyum penuh arti membuat Nadila merinding.
"hah, sudah gila ya. bahkan yang kemaren masih sakit" Nadila langsung cengengesan dan mendekati suaminya di tempat tidur.
"suamiku, kita pulang saja ya liburannya lain kali saja" perkataan itu membuat tuan Liam semakin tidak tahan, segala sesuatu tentang istrinya terlihat sangat menggemaskan.
" baiklah kalau mau melakukannya di rumah, itu tidak buruk" tuan Liam menarik istrinya turun menemui sekretaris Ken, tidak ingin mendengar protes di bibir manyun istrinya.
kepulangan mereka diatur dengan baik oleh sekretaris Ken dengan beberapa pengawal. jarak antara villa dengan rumah utama memakan waktu lima jam membuat Nadila menguap beberapa kali.
"kamu bisa meminjam pangkuanku sayang" tuan Liam menepuk pahanya memberi tempat untuk istrinya yang sudah mengantuk. Nadila yang sudah tidak tahan pun menjatuhkan kepalanya disana, dia tidur seperti seorang bayi yang ada dalam pelukan ibunya sangat tenang dan nyaman.
perjalanan pulang berjalan dengan lancar tanpa hambatan. lima jam terasa sangat singkat kali ini, mobil memasuki kawasan rumah elit itu melewati pepohonan rindang yang mengelilingi taman halaman rumah. Pak Man sudah berjaga di depan pintu rumah utama menyambut tuannya yang baru pulang dari misi menjemput nona muda selama tiga hari.
"anda kembali tuan" pak man mengikuti langkah tuan Liam yang menggendong istrinya yang tertidur tanpa terusik Sama sekali, berlari membukakan pintu kamar untuk tuan muda.
"terimakasih pak man" tuan Liam menunjukkan wajah yang cerah memamerkan kebahagiaan yang ada dihatinya.
"sudah tugas saya melayani anda tuan muda. Bagaimana keadaan nona tuan muda?" pak man khawatir karena Nadila tidur seperti sedang pingsan.
"dia baik baik saja pak, hanya sedikit kelelahan dan juga mengantuk karena harus lembur bersamaku selama beberapa hari ini " penuturan tuan muda itu sulit di cerna pak man, lembur seperti apa versi kali ini? pak man meninggalkan kamar utama dan beralih menemui sekretaris Ken.
sekretaris Ken sedang menikmati secangkir kopi buatannya sendiri duduk bersama pak man dan membahas beberapa hal tentang rumah utama. Sangat banyak yang perlu di perhatikan kedepannya.
"bagaimana keadaan tuan muda tuan Ken? apa sesuatu telah terjadi?" pak man perlu tahu sesuatu yang mungkin telah terlewatkan, sekretaris Ken mengangguk sebagai jawaban.
"saya melihat kebahagiaan di wajah tuan muda sama seperti dulu saat nyonya masih ada." pak man masih melanjutkan perkataannya, menyampaikan alasan dari pertanyaan barusan.
Sekretaris Ken menerawang, terbesit di kepalanya potongan cerita hangat dimasa lalu bahkan tidak bisa menyembunyikan fakta itu. Sekretaris Ken juga merindukan ibu dari tuan Liam yang menyayanginya seperti seorang anak.
"andai waktu bisa di ulang pak man" Sekretaris Ken juga sulit menerima kejadian dimasa lalu, namun tetap kuat demi tuan mudanya yang dia sayangi seperti adiknya itu.
__ADS_1
"terimakasih sudah bekerja keras tuan Ken" perkataan pak man menghibur sekretaris Ken, dia saksi betapa besar usaha Ken dan jasa Ken untuk keluarga Dewantara dan seberapa dalam kesedihan yang tidak terungkap itu. sekretaris Ken mengangguk seraya bangga pada dirinya selama ini.
"pak man, Hanya nona Nadila lah yang tuan muda bawah ke ranjangnya dan juga wanita pertama yang masuk kerumah utama, bahkan nona Jennie tidak perna diperlakukan sejauh ini. Tuan muda mengakui telah melabuhkan hatinya untuk istrinya" jelas Ken
"baiklah tuan Ken anda telah bekerja dengan sangat keras, saya sudah mengerti semuanya" pak man juga bahagia dengan fakta yang ada.
"nona Nadila adalah nona muda keluarga Dewantara satu satunya pak man." sekretaris Ken memperjelas status Nadila di dalam rumah, itu artinya posisi Nadila tidak bisa di ganggu gugat siapa pun.
"saya akan menyerahkan kunci rumah utama pada nona" pak man berlalu pergi setelah di rasa sudah cukup dengan informasi yang didengarnya.
Hari ini ada meeting penting yang harus dihadiri langsung oleh pimpinan perusahaan, tuan Liam meliburkan istrinya yang belum terbangun sejak diperjalanan tadi. Sekretaris Ken mengerti mobil membelah keramaian jalan ibu kota. Di dalam kursi penumpang tuan Liam memeriksa beberapa laporan yang menjadi topik pembahasan nantinya, ada beberapa hal di dilewatkan selama tiga hari ini.
sekretaris Ken melihat keseriusan tuan mudanya setiap berurusan dengan dokumen perusahaan dia tidak pernah heran.
"Ken, kau sudah membeli hp baru untukku?" setelah penyerangan beberapa hari lalu tuan Liam memutuskan mengganti hp nya dengan yang baru.
"sudah tuan muda" sekretaris Ken tidak mungkin melewatkan hal penting dari tuan mudanya.
"pastikan hanya nomor mu dan istriku yang berada disana" tuan Liam tidak membutuhkan yang lain bahkan nomor telepon rumah pun tidak disimpannya, segala sesuatu dipercayakannya pada sekretaris Ken. kalaupun teman teman tuan Liam menghubungi itu pasti melalui sekretaris Ken lebih dulu.
setelah melalui keramaian di jalan mereka sampai di kantor, berjalan melewati lobi kantor seperti biasanya dengan wajahnya yang tampan dan berkharisma tidak ditinggalkannya wajah dinginnya yang tidak memperdulikan sekitarnya. sayup sayup tuan Liam mendengar pembicaraan beberapa karyawan yang dilewatinya, yang mengeluarkan ekspektasi tentang Nadila yang tidak berjalan di samping Presdir kali ini.
Tuan Liam masuk ke ruangannya diikuti sekretaris Ken, tidak lama ketukan pintu sekretaris wanita di luar pintu terdengar.
"pergilah" tuan Liam membutuhkan waktu untuk menandatangani surat yang menumpuk itu.
Merasa meeting penting akan segera dimulai tuan Liam segera menuju ruang meeting bersama sekretaris Ken yang disambut hangat oleh petinggi petinggi lainnya.
Sedangkan rumah dalam kamar utama tubuh kecil dibawah selimut mulai menggeliat mencari kesadarannya saat dering hp nya berbunyi.
"hallo, Belinda" yang menelepon adalah Belinda yang sudah penasaran setengah mati.
"apa kamu masih hidup? kenapa tidak muncul beberapa hari ini?" pertanyaan dengan suara keras dari Belinda.
"apa kamu sedang menyumpahi ku?" Nadila masih mengantuk saat ini rasa jengkelnya membuat suaranya meninggi juga.
"aku serius kau ada dimana saja, hah?" Belinda tidak sabaran.
"dirumah, aku baru bangun. eh, maksudku a...aku sedang cuti, aku tidak enak badan karena terlalu banyak lembur kerja " Nadila mencari alasan yang bisa menyembunyikan kebenaran.
"oh ku pikir kamu pergi bulan madu dengan tuan presdir hahaha" Belinda sudah menghayal sesuatu yang mungkin terjadi.
"apa kau gila? tidak mungkinlah" Nadila takut kalau hubungannya dengan presdir ketahuan.
__ADS_1
"tentu saja tuan Liam kan punya kekasih yang dicintainya, jadi kurasa kesempatanmu sangat kecil untuk berada di sisinya" Belinda berkata asal. Tidak disangka perkataannya telah memunculkan perasaan tidak menentu dari Nadila, sepersekian kemudian Nadila menghiraukan bualan temannya itu. Nadila membuat janji untuk bertemu Belinda dia butuh refreshing setelah tidur selama setengah hari, temannya sangat senang dan langsung menyetujuinya.
Sore hari Nadila keluar kamar sudah rapi dengan setelan yang menurutnya cocok untuk dipakai nongkrong. Sempat membuatnya heran semua isi lemari di ruang ganti adalah gaun yang mahal, bahkan masih berlebel.
"aku heran, ruang ganti itu penuh dengan baju berlebel seperti mol saja. kenapa pula isinya gaun semua tidak ada yang bisa ku pakai di sana. setidaknya sediakan celana jeans misalnya" Nadila menggerutu sepanjang menuruni tangga, baginya memakai gaun untuk nongkrong di kafe sangat menonjol. Mulai menelusuri semua ruangan, melihat hal itu pak man mendekat.
"apa nona membutuhkan sesuatu?" pak man tidak percaya nona mudanya baru keluar kamar.
"paman mana tuan Liam ?"
"tuan muda sudah berangkat ke kantor nona. Ada pertemuan penting hari ini" pak man memberikan jawaban dari pertanyaan nona mudanya dengan sangat sopan.
"kenapa tidak mengajakku" Nadila merasa buruk menjadi asisten Presdir "pria gila itu pasti menyuruh ku membayar kerugian karena tidak bekerja dengan baik" Nadila berfikir keras saat ini.
"tuan muda meliburkan anda hari ini nona, jadi anda bisa beristirahat tidak perlu memikirkan untuk bekerja" pak man tahu kegundahan nona muda itu yang masih bekerja sebagai asisten pribadi terlepas status istri.
Nadila terdiam sangat lama, sedang menimbang-nimbang sesuatu. Pak man yang melihat penampilan gadis di depannya membuatnya yakin nona mudanya akan pergi ke suatu tempat.
"anda bisa menggunakan salah satu mobil di garasi nona, saya akan menyuruh salah satu sopir mengeluarkan mobilnya" pak man sangat cepat membaca keadaan.
"bukan itu paman, aku... aku sebenarnya akan pergi keluar sebentar. aku ingin meminta izin pada tuan Liam bagaimana pun dia suami ku"
Nadila berbicara sedikit segan, entah mengapa dia merasa tidak lebih bebas jika mendapat izin suaminya. Pada hal dia bebas melakukan apapun tuan Liam tidak perna membuat aturan yang mengekang dirinya. Penuturan Nadila membuat hati pak man senang dan langsung memberikan nomor sekretaris Ken.
"mungkin tuan Ken bisa membantu nona" menyerahkan kartu nama sekretaris Ken pada Nadila.
Nadila dengan semangat mencoba menghubungi nomor itu, sekali dua kali belum ada jawaban sepertinya yang dituju mengabaikan panggilannya. Dengan cepat jemarinya mengetik
"sekretaris yang terhormat, sampaikan pada suami saya seperti ini, 'suamiku aku mau izin keluar rumah mau bertemu dengan teman saya yang bernama Belinda. Di kafe xy.' cepat katakan padanya dan jangan lupa membalas pesanku" 📱notifikasi itu lebih menarik perhatian tuan Liam dari pada dering panggilan beruntun tadi, karena sekretaris Ken menyempatkan diri untuk menahan tawa saat membaca pesan itu.
"siapa Ken?" tuan Liam mengalihkan perhatiannya dari meeting karena penasaran dengan hp sekretaris Ken yang terus berbunyi.
"anda bisa membacanya sendiri tuan" segera hp itu berpindah tangan dan ada kesenangan dalam hati tuan Liam saat membaca pesan itu, untuk pertama kali Nadila meminta izin padanya walau lewat pesan.
"biarkan dia Ken" memberi izin pada istrinya. Setelah pesan itu, sekretaris Ken dapat melihat pikiran tuan Liam tidak lagi tertuju pada pembahasan di depannya.
"nikmati perjalanan anda nona" 📱pesan singkat dari Ken tersampaikan. Nadila kegirangan di izinkan pergi dan satu menit setelahnya notifikasi kembali masuk, membuat Nadila terkejut seseorang mengirim uang ke rekening nya.
"tuan muda mengirim sedikit uang untuk segelas kopi nona" 📱Ken.
Nadila terkejut melihat nominal yang masuk kerekening nya.
"seratus juta, apa dia kira aku matre, ch ini bukan segelas kopi namanya. tapi terserah lah."
__ADS_1