
Kini ridho dan angel sudah mengajukan kasus kejahatan aditia dan delia pada pengadilan, dan kini tinggal menunggu beberapa hari lagi sampai kasusnya di sidangkan.
..
Sementara kini imelda sudah berada di jakarta, dan dia langsung datang ke rumah pak wijoyono dan memberitahukan tentang kedua orang yang tengah menyelidiki kejahatan aditia.
Kini di kediaman pak wijoyono tengah kebingungan karena surat dari pengadilan sudah datang, dan kini aditia dan delia akan di adili atas kejahatan mereka.
Di dalam kamar...
Nampak delia bersama aditia tengah mengobrol.
"Aditia."
"Iyah."
"Aku tak ingin menyewa pengacara."
"Kenapa."
"Aku sadar yang ku lakukan sebuah kejahatan dan aku harus bertanggung jawab untuk semua itu."
Aditia terdiam saat mendengar ucapan delia.
__ADS_1
"Jika kau tak mau, maka aku juga tak akan." Ucap aditia sambil membelai pipi delia.
"Meski kita di hukum mati."
"Aku tak peduli jika aku di hukum mati sekali pun."
"Aku pun, yang penting kita tetap bersama meski dalam kematian."
Aditia terharu karena mendengar perkataan delia dengan tangan kekarnya aditia langsung memeluk delia.
"Aku sangat mencintaimu delia."
"Aku juga aditia, hiks, hiks, hiks."
Terlihat delia menangis di pelukan aditia, dan dari sela pintu terlihat bagas mengintip kedua orang tuanya yang tengah berpelukan. Air matanya mengalir saat melihat kedua orang tuanya.
Krekkk...
Suara pintu terbuka, dan seketika aditia dan delia langsung melihat ke arah pintu.
"Bagas." Ucap delia.
"Mamih, papih." Teriak bagas sambil berlari menuju ayah dan ibunya.
__ADS_1
Delia dan aditia langsung memeluk erat tubuh mungil putranya.
"Bagas gak mau berpisah sama papih dan mamih. Hiks, hiks, hiks.." Ucap bagas sambil terus menangis.
Delia tak bisa membalas ucapan putranya, dia tak kuasa menahan tangisannya. Delia juga seorang ibu dia tak mau jika harus berpisah dengan putra kecilnya itu tapi apa boleh buat takdir berkata lain.
"Bagas." Panggil aditi.
"Iyah papih." Jawab bagas.
"Kamu anak papih dan mamih, jadi anak papih gak boleh nangis, kamu harus kuat meski nanti papih dan mamih gak ada di sisi kamu lagi." Ucap aditia sambil mata berkaca-kaca.
"Tapi bagas gak mau pisah sama papih dan mamih." Ucap bagas sambil terus berusaha menahan tangisannya.
"Kita gak berpisah sayang, mamih sama papih akan selalu ada di hati bagas, kenangan kita bertiga akan terus terkenang di hati bagas." Ucap delia.
"Mamih, papih. Bagas sayang kalian, bagas gak mau berpisah sama kalian. Dan baru beberapa hari bagas bisa bersama papih kenapa sekarang kita harus di pisahin." Ucap bagas.
Aditia tak bisa menjawab perkataan bagas, iyah baru beberapa hari mereka di pertemuakan dan kini mereka akan di pisahkan lagi. Bahkan mungkin dia dan delia tak akan pernah bisa lagi melihat senyum putra mereka.
"Kenapa mami papih. Kenapa tuhan tak adil pada bagas. Hiks, hiks, hiks.." Ucap bagas.
"Kamu gak boleh biaca begitu bagas." Ucap delia.
__ADS_1
"Tapi tuhan merenggut kebahagian bagas mamih, Tuhan tak adil pada bagas." Ucap bagas sambil terus menangis.
Bagas merasa Tuhan tak adil padanya, ketika anak seusianya mereka bersama dengan orang tuanya berbeda dengan bags dia harus berpisah dengan kedua orang tuanya di saat usia masih kecil.