Cinta Psychopath (S1 & S2)

Cinta Psychopath (S1 & S2)
#15 Gedung tua


__ADS_3

Lalu aditia beranjak pergi dan tak lupa dia mencium kening delia dan kemudian dia pergi meninggalkan rumah sakit untuk menjalankan rencana nya.


-----------------------------


Di sebuah bar, terlihat seorang wanita yang tengah minum wine.


"Kau jangan minum terlalu banyak." Ucap seorang pria.


"Tenang saja, aku bukan orang yang gampak mabuk hanya dengan minum sedikit saja." Ucap wanita itu yang tak lain adalah tari.


"Terserah kau saja." Ucap pria itu.


Terlihat tari terus meneguk minumannya, dan tak terasa dia sudah menghabiskan beberapa botol.


"Sudah-Sudah kau sudah cukup mabuk, ku antar kau pulang." Ucap pria itu yang namanya denis.


"Tak perlu aku bisa pulang sendiri." Ucap tari, sambil melenggang pergi meninggalkan denis.


Terlihat tari berjalan dengan sempoyongan, dia mencoba mencari taksi tapi tak ada satupun taksi yang lewat. Dan tak beberapa lama ada sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti di depan nya.


Lalu kaca mobil tersebut terbuka dan di lihatnya aditia.


"Butuh tumpangan." Tawar aditia.


"Akh.. iya." Ucap tari lalu memasuki mobil aditia.


"Mau ku antar kemana." Tanya aditia.

__ADS_1


"Apartemen ku." Ucap tari ngelantur.


Lalu aditia membawa tari ke sebuah gedung tua yang sudah lama di tinggalkan.


Skip.


"Hah.. dimana ini." Ucap tari setengah sadar.


Aditia tak menjawab ucapan tari, dia terus membopong tubuh sari memasuki gedung tua tersebut, lalu aditia mendorong tari hingga tersungkur di lantai.


"Awwww...." Rengek tari. "Aku minum terlalu banyak hingga aku tak bisa mengenali apartemenku sendiri." Ucap tari sambil tertawa karena efek alkohol.


"Ini memang bukan apartemen mu." Ucap aditia.


"Hah?" Lalu tari mengumpulkan kesadaran nya dan melihat sekeliling nya.


"Apa kau tahu tentang kematian tania." Tanya aditia.


"Kenapa kau membahas tania,


apa jangan-jangan kau......."


"Iya tebakan mu tepat sekali." Ucap aditia.


Lalu tari pun menangis, ia tak percaya ternyata orang yang membunuh tania adalah aditia dan kemudian aditia mendekatkan dirinya pada tari.


"Jangan bersedih lagi, karena sebentar lagi kau akan menyusulnya." Bisik aditia yang membuat tari otomatis langsung menjauh darinya.

__ADS_1


"Apa salah ku dan tania." Ucap tari sambil terus mundur menjauh.


"Apa kau tahu, kalian yang sudah membuat delia hampir kehilangan nyawanya." Ucap aditia.


"Aku hanya membalas perbuatan kalian." Ucapnya lagi sambil berjalan mendekat ke arah tari.


"Delia." Lalu tari teringat tentang wanita yang dia bully bersama tania dan sherly.


"Ku mohon maafkan aku." Ucap tari.


"Tak ada kata maaf untukmu." Ucap aditia lalu melangkah mendekati tari.


Lalu tari bangkit dan mendorong tubuh aditia, dan berlari menjauhi aditia.


Tari terus berlari menyusuri gedung tua itu, dia tak tahu jalan keluar dari gedung tua itu di tambah lagi karena efek alkohol masih memengaruhi tubuhnya yang membuat tari berlari sedikit sempoyongan.


"Kemarilah tari, Percuma kau sembunyi! Serahkan diri mu secara baik-baik Mungkin aku akan melakukan nya sedikit perlahan dan mungkin aku tak akan melukai wajah cantikmu." Ucap aditia.


Tari yang saat itu gemetar ketakutan pun, berlari menuju tempat persembunyian.


"Apa yang harus ku lakukan." Ucap tari, tari terus menangis merutuki kebodohannya yang mau ikut-ikutan dalam membully delia.


"Jika aku tak ikut membully nya mungkin aku tak akan berakhir seperti ini." Ucapnya dalam hati.


"Tari, Where are you?" Ucap aditia.


Tari terus bergetar ketakutan, Tanpa di sadari Aditia sudah di hadapan nya sambil menyeringai dan membawa sebuah pisau daging.

__ADS_1


"Akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh........"


__ADS_2