
Entah kenapa tak biasanya aditia marasa bergairah kepada wanita lain selain delia, dan aditia berusaha sekuat tenaga agar dia tak tergoda oleh tubuh molek clara.
----------------------------------
Dret, dret, dret...
Handphone aditia bergetar, dan aditia langsung melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Hallo."
"..."
"Oh, iyah? syukurlah kalau begitu. Saya akan kesana sekarang." Sambil menutup telponnya.
"Maaf clara, aku harus segera ke rumah sakit, karena delia sudah sadar." terlihat wajah aditia sangat bahagia mendengar kabar delia sudah siuman.
"Oh, pergilah temui delia mu, dia sekarang pasti sedang menunggumu." terlihat raut wajah kecewa clara.
"Baik, kalau begitu aku pamit dulu." Lalu aditia langsung meninggalkan apartemen clara.
Di sepanjang jalan tak henti-hentinya aditia tersenyum, karena sekarang dia bisa melihat kembali senyuman delia.
Skip.
Aditia berjalan di lorong rumah sakit dengan cepat, dia ingin buru-buru sampai di kamar rawat delia karena dia sudah tak sabar melihat delia.
Dan aditia sudah berada di depan pintu kamar rawat delia, kemudian aditia langsung membuka pintu tersebut. Terlihat delia tengah duduk sambil menatap ke depan.
"Delia..."
Dan delia langsung melihat arah suara yang memanggilnya, di dapati nya aditia tengah menatapnya.
Bukannya sebuah senyuman yang aditia dapatkan tapi sebaliknya, terlihat delia tak memberikan senyuman hangat seperti biasa malah mengacuhkan aditia.
"Ada apa denganmu sayang?" Sambil memegang tangan delia tapi langsung di tepis oleh delia.
"Jangan pegang-pengang, aku tak mau di pegang oleh play boy sepertimu."
"Apa maksudmu, aku bukan play boy."
"Mana ada maling ngaku maling."
"Kok jadi maling? aku bukan maling. Aku maling apa coba."
"Ih, dasar menyebalkan." Sambil memukul aditia dengan bantal.
__ADS_1
"Hentikan delia."
Lalu delia berhenti memukuli aditia dengan bantal.
"Ada apa dengamu delia?"
"Buat apa kau kemari!"
"iyah, tentu untuk menjeguk kekasih tersayangku ini."
"Huh!!! Setelah puas dengan wanitamu yang lain, kau baru ingat aku begitu."
"Wanitaku yang mana delia."
"Yang tadi siang kau peluk mesra."
Aditia kembali memutar memorinya tadi siang.
"Oh, maksudmu clara, dia teman masa kecilku sayang, bukan selingkuhanku."
"Tapi gak perlu segitunya juga kali."
"Udah udah jangan marah lagi, nanti cantinya ilang loh."
Tapi tetap saja delia masih cemberut. Dan aditia memutar otaknya dan memikirkan ide agar delia tak lagi marah, kemudian aditia pergi keluar meninggalkan delia seorang diri.
Dan tak beberapa lama aditia kembali ke kamar delia dengan membawa sebuah gitar, tanpa berbicara terlebih dahulu pada delia, aditia langsung memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu.
Aku cuman bisa berharap
semoga kita bisa menua bersama
***cinta kita memang
tidak semudah yang di bayangkan
dulu kita saling menyakiti
dan hampir menyerah
tapi kini kita ada
tuk saling menyempurnakan
ku berdo'a untuk
__ADS_1
bisa hidup dan menua
bersamamu...
hanya kamu di hatiku
yang mampu mengertiku
menjadikan diriku
yang lebih baik
aku menyayangi kamu
kamu selalu setia
menemani diriku
Cinta kita memang
tidak semudah yang di bayangkan
dulu kita saling menyakiti
dan hampir menyerah
tapi kini kita ada
tuk saling menyempurnakan
ku berdo'a untuk
bisa hidup dan menua
bersamamu...
Oooo...Ooo..Ooo
Tapi kini kita ada
tuk saling menyempurnakan
ku berdo'a untuk
bisa hidup dan menua
__ADS_1
bersamamu***...
Terlihat mata delia berkaca-kaca, dia terharu akan keromantisan aditia, dan aditia langsung menyimpan gitarnya dan berjalan mendekati delia dan langsung memeluk tubuhnya dan delia pun membalas pelukan aditia.