
Setelah di terima menjadi sekertaris, Via langsung pulang ke rumahnya. Dengan rasa bahagia di hatinya dia tak sabar memberikan kabar gembira ini pada kedua orang tuanya.
Sesampainya di rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Via memberikan salam. Tapi tak ada yang menjawab salamnya, lalu terlihat kedua orang tuanya tengah duduk di ruang keluarga bersama dengan Bianca. Terlihat tatapan tak suka di mata kedua orang tuannya saat melihat Via.
"Mah." Ucap Via hendak mencium tangan ibunya, tapi tangan via langsung di tepis begitu saja.
"Bagaimana apa kamu terima?" Tanya ibunya.
"alhamdulilah mah. Via keterima." Ucap Via senang, dan dia berharap orang tuannya juga ikut senang tapi malah sebaliknya.
"Kalau kamu keterima, kamu sekarang harus ngundurin diri dan jabatan kamu harus di serahin ke Bianca." Ucap ibunya marah.
"Tapi mah..." Ucap Via tapi ucapan Via langsung di potong oleh ayahnya.
"Kau harus dengarkan ucapan ibumu dan kau sebagai kakak harusnya mengalah untuk adikmu. Lagi pula jabatan sekertaris tak cocok untukmu." Ucap ayahnya.
Dan Via hanya menatap tak percaya pada kedua orang tuanya. "Tapi ini semua hasil kerja keras saya pah." Bela Via.
__ADS_1
"Alah... Banyak alesan. Bilang aja kalau gak mau. Mamah liat tuh kak Via dia gak mau ngalah sama aku." Ucap Bianca sambil merengek pada ibunya.
"Kamu liat sekarang Adik kamu nangis, kamu emang gak punya hati yah." Maki ibunya.
Terlihat Via hanya menatap tak percaya dengan perlakuan semua anggota keluarganya, tanpa ingin bicara lagi Via langsung berlari menuju kamarnya.
Dengan cepat dia langsung menutup pintu kamar dan langsung menguncinya. "Hiks, hiks, hiks.. Kenapa? Kenapa mereka semua jahat padaku. Apa salahku?" Ucap Via sambil terus menangis.
Dari sejak kecil ibunya selalu menatapnya dengan tatapan tak suka dan tatapan jika jijik, dan begitu juga dengan ayahnya dia seperti tak pernah menganggap kebaradaan Via.
Sementara itu...
Nampak Bianca tengah memasang wajah kesal, dia tak terima jika Via di terima menjadi sekertaris sementara dirinya tidak sama sekali.
"Tapi mah, aku juga pengen kerja jadi sekertaris di perusahaan itu." Ucap Bianca.
"Memangnya kenapa kau sangat ingin kerja di sana, kau juga kan bisa kerja di perusahaan papah." Ucap ayahnya.
"Enggak pah, CEO baru di sana sangat tampan dan juga masih muda. Kalau aku jadi sekertarisnya mungkin suatu saat nanti aku bisa jadi pacara atau bahkan istrinya." Ucap Bianca.
__ADS_1
"Iya sayang tenang aja. Pekerjaan itu akan jadi milik kamu." Ucap ibunya.
"Bener yah mah." Tanya Bianca senang.
"Iya sayang." Jawab ibunya.
"Makasih mamah, aku sayang banget sama mamah." Ucap Bianca sambil memeluk ibunya.
"Iya sayang, sekarang kamu ke kamar sanah. Istirahat, kamu pasti cape." Ucap ibunya.
"Oke. Mah." Lalu Bianca langsung pergi ke kamarnya.
Kini tinggal ayah dan ibunya yang ada di ruang tamu, "Kamu harus bujuk si Via agar nyerahin pekerjaannya sama Bianca." Ucap istrinya pada suaminya.
"Aku males liat wajahnya juga." Ucap suaminya.
"Hem... Di hatiku masih ada rasa bingung deh." Ucap istrinya.
"Rasa bingung apa?" Tanya suaminya.
__ADS_1
"Si Via itu kok gak mirip sama aku atau pu Aditia yah. Mukanya itu sangat beda jauh kaya bukan anak aku sama Aditia." Ucap istrinya.
"Sudah jangan sebut nama pria itu lagi, aku gak suka jika kamu sebut-sebut nama pria hina itu." Ucap suaminya marah. Lalu dengan langkah marah dia langsung meninggalkan istrinya.