
Dan para warga langsung menolong supir truk yang terjepit di dalam mobil, dan sebagian lagi menolong aditia yang kini tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepala dan bagian tubuhnya yang lain.
----------------------------------
Terlihat para perawat berlari dengan cepat menuju ruang UGD, sambil membawa seorang pasien pada brankar dorong dan pasien tersebut tengah tak sadarkan diri dengan luka-luka yang cukup parah.
di lain tempat...
Terlihat delia tengah berbaring di ranjang rumah sakit, entah kenapa hatinya merasa tak enak.
"Ada apa ini, aku seperti memiliki firasat buruk."
Dan entah kenapa sekarang pikirannya tertuju pada aditia, dia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada aditia.
Dan tak beberapa lama handphone delia berbunyi, dan sarah langsung melihat siapa yang menelpon delia.
"Siapa?" Tanya delia.
"Siapa lagi kalau bukan pacarmu."
"Coba kau angkat."
Lalu sarah mengangkat panggilan aditia.
"Ada apa kau menelpon lagi aditia, sudah ku bilang..." Ucapan sarah terpotong ketika yang berbicara bukanlah aditia melainkan suara seorang wanita.
"Maaf apa ini saudara dari pak aditia."
"Maaf ini siapa?" Tanya sarah sambil melihat delia.
"Saya dari rumah sakit, maaf tadi pak aditia mengalami kecelakaan sekarang dia berada di rumah sakit X."
"Baik saya akan kesana."
Terlihat raut wajah panik sarah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sarah?"
"Anu, aditia mengalami kecelakaan."
Terlihat netral delia membulat, ketika mendengar kabar aditia kecelakaan.
"Sekarang aditia dimana."
"Tenang saja, sekarang aditia berada di UGD, dan untungnya dia satu rumah sakit dengan kita."
"Aku ingin melihat aditia."
"Tapi delia kau tak boleh bergerak."
Terlihat tatapan serius delia menatap sarah.
"Aku harus pergi." Ucap delia " Tolong bantu aku."
"Tapi delia..."
"Iyah tak apa delia, aku mengeti kok."
Lalu sarah dan rindho membantu delia untuk duduk di kursi roda, dan membawa delia ke tempat dimana aditia berada.
Skip...
Kini delia, sarah dan ridho sudah berada di depan ruang UGD, dan di sana sudah ada clara yang tengah duduk.
Clara yang menyadari kedatangan delia, langsung menatap delia dengan sinis.
"Kau masih punya muka untuk melihat aditia."
"Apa maksud mu clara." Tanya delia.
"Apa maksudku? karena kau aditia menjadi seperti ini." Teriak clara.
__ADS_1
"Aku..."
"Aku apa hah? kau memang tak tahu malu delia."
"Jaga ucapanmu itu nona." Ucap ridho.
"Oh, ternyata ada orang yang sok pahlawan, kenapa aku harus menjaga ucapanku orang ini memang pantas di perlakukan seperti itu."
Ingin rasanya ridho manampar mulut pedas clara dengan tangannya, tapi dia tak mau mencari keributan di tambah lagi clara seorang wanita.
"Terserah kau mau berkata apa clara." Ucap delia.
"Cih, sebaiknya kau segera pergi dari sini, kau tak punya hak untuk berada di sini delia." Ucap clara.
"Lantas apa kau juga punya hak untuk berada di sini, dan lagi pula tak ada peraturan yang melarangku untuk berada di sini." Balas delia.
Clara terlihat tak bisa menjawab ucapan dari delia, dan dia lebih memilih kembali duduk sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Delia apa kau lapar?" Tanya sarah.
"Tidak terlalu." Jawab delia.
"Ridho! tolong belikan bubur di depan dan jangan lupa untuk membeli minum nya juga." Ucap sarah.
"Baiklah." Ucap ridho sambil berjalan pergi meninggalkan ketiga wanita tersebut.
Terlihat clara melirik delia dengan ujung matanya.
"Apa yang kau lihat DOKTER clara." Ucap sarah sambil menekankan kata dokter.
Dan clara langsung memalingkan mukanya dari sarah, dan delia tak menghiraukan kedua wanita tersebut yang sekarang dia pikirkan adalah keadaan aditia.
***
Jangan lupa like dan votenya yah 😊😊😊
__ADS_1
Dan makasih sudah meluangkan waktu buat baca novel author.~