
Delia ikut menangis, dia tak kuasa menahan tangisan nya ketika mendengar cerita aditia, dia tak habis pikir ternyata masa lalu aditia begitu suram.
------------------------------
Tangisan aditia semakin malam semakin tak terdengar.
Hening....
Delia mencoba mengangkat wajah aditia, di lihat nya aditia diam dengan tatapan kosongnya.
"Apa salah ibuku, sehingga mereka tega menyiksa dan membunuhnya delia." Ucap aditia dengan tatapan nya yang masih kosong.
"Entahlah." Ucap delia.
"Dan apa kau tahu, wanita ****** itu sekarang sudah mati. Dan kau tahu siapa yang membunuh nya?" Ucap aditia. "AKU, hahahahaha.... Aku yang telah membunuh nya, aku telah membalaskan dendam ibu ku delia." Ucap aditia sambil tertawa tapi tawa nya terdengar menyedihkan.
Delia hanya bisa diam membisu, dia bingung harus menjawab apa.
"Apa kau tahu bagimana caraku membunuh nya?" Tanya aditia. "Aku membuat mobilnya rem blong, dan kemudian mobilnya masuk ke dalam jurang, hahahahahaha."
"Sudahlah aditia." Ucap delia sambil memeluk tubuh aditia.
Aditia hanya diam dan ia membalas pelukan delia, dan memeluk erat tubuh delia. Entah kenapa senang rasa nya bisa membagi beban hidup nya pada orang lain, selama ini dia hanya memendam sendiri beban hidup nya karena bagi nya mereka hanya penasaran bukan peduli.
__ADS_1
"Tidurlah." Ucap delia. "Biarkan masa lalu menjadi masa lalu, jangan biarkan masa lalu mu membuatmu terpuruk." Ucap delia.
Lalu aditia memejamkan mata nya, entahlah kadang ada rasa bersalah karena telah membunuh banyak orang , tapi jika jiwa psychopat nya muncul jangankan rasa bersalah rasa kasihan pun tak pernah ada,kadang aditia merasa bahwa dirinya memiliki kepribadian ganda. Tidak ingin ambil pusing dengan semua itu aditia memilih terlelap dalam tidur nya.
Delia yang melihat aditia sudah tertidur langsung menyelimuti tubuh aditia dan dia pun ikut tertidur.
Tet..Tet..Tet...
Suara jam alarm delia berbunyi. Tangan delia meraba-raba dan mematikan jam alarm tersebut, lalu delia melihat ke samping tempat tidur nya, tak ada kebaradaan aditia.
"Sudah pergi." Ucap delia. Tatapan nya terlihat sendu ketika mengingat cerita aditia.
Brangggg...
Terdengar suara bising dari arah dapur, Delia yang penasaran langsung pergi untuk mengecek dan di lihat nya aditia sedang memasak dan suara bising itu berasal dari panci yang di lemparkan oleh aditia.
"Itu bukan panci, itu barang rongsokan." Ucap aditia.
"Kau...."
"Jangan banyak bicara, duduk saja dan tunggu makanan nya matang."
Delia yang masih sebal karena panci nya di sebut barang rongsokan, hanya bisa diam sambil menuruti perintah aditia.
__ADS_1
Tak berselang beberapa lama, makanan pun sudah siap lalu aditia menyajikannya.
Delia yang melihat masakan aditia hanya bisa berdecak kagum dan satu suapan masuk ke mulut delia.
"Oh my got, dari mana kau belajar memasak." Tanya delia "Ajari aku yah." Pinta delia.
Aditia hanya bisa tersenyum bangga ketika masakan nya di puji oleh delia.
"Aku tak belajar memasak dan apa kau tahu kenapa aku bisa memasak?" Tanya aditia.
"Memangnya kenapa." Tanya delia penasaran.
"Karena aku cerdas tidak seperti diri mu yang bodoh." Ucap aditia.
"Dasar kau..." Ucap delia sambil memukul aditia.
"Hentikan, hentikan." Pinta aditia sambil sesekali tertawa.
"Hmmmm... Dasar." Oceh delia.
"Habiskan dulu makanan itu." Ucap aditia. "Setelah itu bersiaplah aku akan membawamu ke suatu tempat." Ucap aditia.
"Kemana." Tanya delia penasaran.
__ADS_1
"Rahasia." Ucap aditia.
Delia hanya bisa cemberut ketika aditia tak memberitahukan kemana mereka akan pergi, aditia hanya terkekeh ketika melihat delia.