
Dan aditia langsung berjalan ke pintu keluar dan langsung pergi meninggalkan ruangan dokter clara, dan terlihat dokter clara memandang punggung aditia yang semakin menjauh.
---------------------------------
Aditia kembali duduk di kursi depan ruang UGD, dia masih menunggu kabar tentang kaadaan delia, tak beberapa lama aditia menunggu seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Bagimana keadaan pacar saya dok?"
"Kondisinya cukup parah, terutama luka di kepalanya tapi untungnya anda membawanya tepat waktu jika terlambat semenit pun, mungkin nyawa pasien sudah tak tertolong lagi."
"Kapan saya bisa melihatnya dok."
"Mungkin nanti, setelah di pindahkan ke ruang ICU."
"Baiklah."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Tatapan mata aditia terlihat kosong, dia sedang memikirkan tentang pria misterius itu dan kadang dia sangat sedih karena ulahnya sehingga delia menjadi menderita seperti ini.
Tanpa di sadari ada seseorang yang tengah berjalan mendekati aditia dan menepuk pundaknya, dan terlihat aditia sedikit terkejut.
"Maaf aku mengagetkanmu."
"Oh, rupanya kau. Tak apa."
"Boleh aku duduk?"
"Boleh."
Lalu dokter clara mengeluarkan 2 buah coffe , dan menyerahkan yang satunya pada aditia.
"Untuk ku?"
"Iyah."
Dan aditia menerima coffe pemberian dari dokter clara, dan langsung meminumnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kekasihmu."
"Dia masih dalam keadaan koma, karena luka di kepalanya."
"Hmm, bersabarlah mungkin itu ujian dari tuhan."
"Iyah."
Lalu aditia melirik jam tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul 8 malam, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan tak terasa perutnya pun mulai merasa keroncongan.
"Ada apa?"
"Tak ada."
Kruyukkk...
Terdengar perut aditia mulai berbunyi.
"Hahahaha, kalau lapar bilang jangan so soan nahan rasa lapar." ucap clara sambil tertawa.
"Ayo."
"Kemana."
"Makanlah."
"Baiklah."
Entah kenapa aditia merasakan perasaan akrab ketika bersama dengan clara, dia seperti sudah pernah mengenal clara, tapi dimana aditia tak ingat.
Lalu mereka berdua berjalan keluar dari rumah sakit, dan di dekat rumah sakit terdapat banyak pedagang kaki lima.
"Kamu mau beli apa."
Aditia kemudian mengedarkan pandangannya ke setiap pedagang kaki lima.
"Nasi goreng aja."
__ADS_1
"Ya udah ayo." Sambil menarik tangan aditia, entah kenapa aditia tak bisa menolak ajakan dari clara.
"Bang pesen nasi goreng yah 2 porsi."
"Baik, di tunggu yah mbak."
Sambil menunggu nasi gorengnya matang, aditia dan clara lalu duduk di salah satu bangku yang kosong, terlihat sesekali aditia mencuri-curi pandang pada dokter clara.
Tak beberapa lama nasi goreng yang mereka pesan sudah jadi, tanpa basa basi aditia langsung melahap nasi goreng tersebut, dan clara terlihat tertawa kecil sambil melihat aditia yang seperti orang yang tak makan 1 bulan.
"Kau tak makan?"
"hah, ini aku makan kok." ucap clara sambil menyendok nasi goreng tersebut dan memakannya.
Tak ada obrolan ketika mereka sedang makan, lagi pula aditia juga tak suka jika sedang makan berbicara.
Tak terasa 1 porsi nasi goreng milik aditia sudah habis tak tersisa sedikit pun, berbeda dengan milik clara yang masih tersisa banyak.
"Udah?" tanya clara.
"Udah."
"Ya udah, ayo kita pergi."
"Kau tak habisakan?"
"Aku sudah kenyang." Lalu clara mengambil dompetnya dan berniat untuk membayar nasi goreng tersebut.
"Tidak usah, biar aku saja." Sambil menyodorkan uang 50 ribu pada penjual nasi goreng tersebut.
"Ini kembaliannya mas."
Aditia hanya menjawab dengan anggukan saja, berbeda dengan clara yang menjawabnya dengan sebuah senyuman manis.
Di sepanjang jalan menuju ke ruang tunggu UGD, tak ada pembicaraan antara clara dan aditia, terlihat clara memandang punggung kekar milik aditia dengan tatapan sendunya.
"Apa kau sudah melupakanku aditia."
__ADS_1