
"Nikmati dan layani mereka dengan baik beby." Ucap aditia dengan seringaian nya dan langsung melenggang pergi meninggalkan tiara yang muli menjerit.
----------------------------------
PERINGATAN MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN....!!!! MOHON KEBIJAKAN DALAM MEMBACA !! KHUSUS 21+
Tangisan dan jeritan tiara bagaikan sebuah melodi yang indah untuk aditia, bagaikan sebuah lagu tidur yang menemani aditia untuk terlelap menuju alam mimpi.
Cukup lama aditia duduk, sambil menunggu tiara selesai memadu kasih dengan 4 orang pria tersebut lalu aditia menyalakan sebatang roko dan menghisapnya.
Hening...
sudah tak terdengar suara tangisan dan jeritan tiara lagi, Aditia langsung melirik arlojinya.
"Hmmm... baru tiga jam, sungguh wanita yang lemah." Ucap aditia.
Tak beberapa lama keluar 4 pria itu sambil mengenakan pakaian mereka yang berantakan.
"Bagaimana dengan pelayanannya, apa kalian puas." Tanya aditia pada ke 4 anak buahnya.
__ADS_1
"Puas bos." Ucap salah satu pria itu sambil tersenyum.
"Bagus, kalau begitu kalian boleh pergi dan berjaga di luar jangan sampai ada orang yang masuk ke sini." Ucap aditia.
"Siap bos." Ucap mereka seraya meninggalkan aditia.
Lalu aditia memasuki kamar tempat tiara berada, di lihatnya tiara tengah tertidur pulas terlihat beberapa bekas ****** di sekujur tubuhnya dan tak lupa dengan matanya yang bengkak.
Aditia hanya tersenyum sinis melihat keadaan tiara yang menghawatirkan lalu aditia membawa seember air dan.
Byurr...
"Hah, hah, hah.." Terlihat tiara terkejut ketika ada orang yang menyiramnya dengan air dingin.
"Ku mohon lepaskan aku, a..ku.. minta maaf karena telah menyakiti delia, hiks ,hiks ,hiks." Ucap tiara sambil menangis.
"Apa kau kira semua perbuatan jahat bisa di ampuni dengan kata maaf lalu untuk apa ada hukum jika kata maaf bisa menebus suatu kesalahan." Ucap aditia.
"Hiks ,hiks ,hiks... Ku mohon aku berjanji tak akan melukai delia lagi jika bukan karena sherly mempengaruhi ku dengan kata-kata nya aku tak mungkin berani untuk melukai delia." Ucap tiara sambil menangis.
__ADS_1
"Sherly?" Tanya aditia.
"Iyah, dia yang merencanakan semua itu, aku hanya mengikuti rencananya saja." Ucap tiara.
"Hahahaha... Kalian berdua sama saja, mau sherly atau pun dirimu di mata ku kalian harus mati." Ucap aditia. "Tapi tenang saja aku tak akan langsung membunuhmu, kita akan lakukan secara perlahan." Ucap aditia seperti orang gila.
Tiara yang ketakutan berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.
"Menjauhlah, pergi. TOLONG.... TOLONG..." Teriak tiara seraya meminta tolong tapi percuma tak akan ada orang yang akan menolongnya.
"Berteriaklah sampai suara mu habis tak akan pernah ada orang yang menolongmu." Ucap aditia sambil mendekatkan diri nya pada tiara. "Kenapa bukankah kau sangat mencintaiku tapi kenapa sekarang tatapan matamu melihat ku seperti melihat iblis? Kemana tatapan memuja dan penuh damba mu ketika melihat ku?"
"Kau gila aditia, kau gila." Ucap tiara sambil terus menangis.
"Ya aku gila tapi bukan kah kau sangat mencintai orang gila ini." Ucap aditia seraya terseyum dengan senyum yang sangat menakutkan.
"Hiks, hiks, hiks." Tangisan tiara semakin menjadi ketika aditia berjalan menuju selangkangannya.
"Lihatlah, milik mu basah. Tak ku sangka kau sangat menikmati semua sentuhan yang di berikan ke 4 anak buahku jika kau tak menikmatinya mana mungkin bisa basah ya kan." Lalu pandangan mata aditia tertuju pada sprei yang masih berwarna putih.
__ADS_1
"Kenapa sprei nya tak ada bercak darah, apa jangan-jangan kau sudah tak perawan." Ucap aditia pura-pura terkejut. "Baiklah-baiklah, biar ku bantu agar milikmu mengeluarkan darah agar terlihat seperti perawan yang mengeluarkan darah ketika pertama kali di setubuhi." Ucap aditia sambil tersenyum layaknya orang gila lalu ia mengarahkan pisaunya pada ****** tiara.
"Ahhhkkkkkk.... JANGAN."