
Selama 20 tahun hari-harinya di lalui dengan sepi, tak ada lagi kebahagiaan di hidupnya.
***
Di sebuah kamar yang gelap nampak seorang pria tengah duduk sambil menatap gelapnya malam lewat kaca jendelanya, sekarang dia berada di kamar yang selalu membuatnya hangat. Tak salah lagi, itu kamar ayah dan ibunya 'Aditia dan Delia'.
Nampak pria itu hanya menatap kosong langit malam, tak ada pancaran kebahagiaan di matanya. Kematiaan kedua orang tuannya merupakan pukulan terbesar bagi hidupnya, saat itu harusnya dia masih mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuannya tapi seseorang tega merebut itu semua darinya.
Dan pria itu tak lain adalah Bagas putra dari aditia dan delia, anak yang dulu hanya berusia 5 tahun, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang pria berusia 25 tahun.
"Bagas." Panggil seseorang.
Tapi yang di panggil nampak diam saja, dan tak ada niatan untuk menjawab panggilan tersebut.
Lalu orang tersebut menghampiri bagas dan menepuk pundaknya.
"Ada apa paman." Tanya bagas.
"Ada hal penting yang akan paman katakan." Ucap pamannya yang tak lain adalah yoga.
"Jika hal penting itu tentang siapa nama pembunuh ayah dan ibuku paman bisa katakan tapi jika bukan paman tak usah katakan." Ucap bagas.
Yoga hanya bisa mengnarik napas panjang, dia bingung menghadapi keponakannya yang satu ini.
__ADS_1
Setelah kematian orang tuannya, bagas menjadi anak yang pendiam bahkan dia juga di kucilkan di sekolah. Dan 20 tahun sudah berlalu tapi bagas tetap menjadi anak yang pendiam, dia bahkan tak memiliki teman satu pun.
"Paman hanya minta kamu mengurus perusahaan yang harusnya milik ayahmu." Ucap yoga.
"Aku tak tertarik paman tapi jika paman mengatakan siapa yang membunuh ayah dan ibu, mungkin aku bisa terima tawaran paman." Ucap bagas.
Sebenarnya bagas tak mengetahui siapa orang yang membunuh ayah dan ibunya, karena keluarganya menutupi semua itu. Setiap bagas bertanya mereka pasti selalu bungkam.
"Lupakan tentang kematian ayah dan ibumu bagas, itu semua sudah takdir tuhan." Ucap yoga.
Tak ingin berdebat lagi dengan pamannya, bagas lebih kembali duduk melihat langit malam.
Lalu Yoga langsung berjalan meninggalkan bagas tapi saat di ujung pintu. "Jika kau memimpin perusahaan itu, mungkin kau bisa mencari tahu siapa pelaku kematian ayah dan ibumu. Dan kau mungkin bisa membalasnya." Ucap yoga sambil berjalan meninggalkan bagas.
"Baiklah, siapa pun pelakunya kau harus membayar mahal atas apa yang kau lakukan." Ucap bagas.
Di tempat lain...
Terlihat seorang wanita tengah mengepel lantai, dan sesekali dia juga mengelap keringat yang menetes dari keningnya.
Saat dia sedang mengepel nampak seseorang wanita yang hampir seumuran dengannya menginjak lantai yang sedang dia bersihkan sehingga lantai itu kembali kotor.
"Ups. Sorry kakak aku gak sengaja." Ucapnya meminta maaf.
__ADS_1
Dan Via hanya tersenyum sebagai jawaban dari ucapan adiknya.
"Ada apa ini sayang." Tanya seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari Via dan Bianca.
"Ini mah, aku kan gak sengaja nginjak lantai yang kakak bersihkan terus dia marah." Ucap Bianca.
"Tapi aku gak..." Ucap Via tapi ucapannya langsung di potong oleh ibunya.
"Kamu tuh, yah. Berani-beraninya marahin adik kamu. Adik kamu tuh gak sengaja tapi kamu malah marahin dia." Ucap ibunya marah.
Dan via hanya diam sambil menundukkan kepalanya, karena percuma dia mengatakan yang sebenarnya ibunya akan tetap menyalahkannya.
"Ada apa ini mah." Tanya seorang pria yang tak lain ayah dari Via dan Bianca.
"Biasa anak ini, marahin bianca." Ucap istrinya.
"Kamu berani-beraninya marahin anak saya." Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk Via.
"Maaf pah." Ucap Via.
"Sekarang kamu pergi ke belakang, saya tak mau melihat wajah kamu." Ucapnya sambil mngusir Via.
Lalu Via langsung pergi ke belakang, tak lupa dia juga membawa embar dan kain lap yang tadi dia gunakan.
__ADS_1
Ayah dan ibu Via dan Bianca tak lain adalah Angel dan ridho, dan sekarang mereka sudah di karuniyai putri kandung yang tak lain adalah Bianca, dan Via di rumah bagaikan seorang pembantu rumah tangga yang tak di bayar.