
Dia tak bisa membayangkan lagi hidupnya tanpa delia, jika benar sekarang dia kehilangan delia untuk selamanya maka dia tak akan mengampuni orang yang telah membuat dia kehilangan delia.
---------------------------------
Perjalanan menuju rumah sakit cukup memakan waktu yang lama, dan saat sudah sampai di rumah sakit aditia langsung buru-buru mengeluarkan tubuh delia dari dalam mobil dan mengangkatnya.
"Dokter!!!" Terdengar aditia berteriak memanggil dokter, dan kemudian langsung datang beberapa perawat sambil membawa brankar dorong dan letakkan langsung tubuh delia di atas brankar dorong tersebut.
Aditia bersama 2 orang perawat terlihat langsung mendorong brankar tersebut dan membawanya ke ruang UGD, terlihat raut panik terukir jelas di wajah aditia.
"Bertahanlah delia."
"Maaf tuan anda tak boleh masuk, anda bisa menunggu diluar."
Lalu perawat tersebut langsung menutup pintu ruang UGD, dan aditia langsung duduk dikursi yang ada di dekat ruang UGD tersebut.
Terlihat aditia memegangi kepalanya, dan juga terlihat darah keluar dari perutnya akibat tusukan pisau dari pria misterius itu, tapi aditia tak memperdulikan tentang luka di tubuhnya karena baginya luka yang sekarang dia dapatkan tak sesakit dengan luka di hatinya jika dia kehilangan delia.
Skip.
Tak terasa sudah hampir 2 jam aditia menunggu, tapi tak ada dokter ataupun suster yang keluar dari ruangan tersebut.
Terlihat seorang dokter wanita menghampiri aditia yang tengah duduk sambil menyandarkan punggunya.
"Mas."
"Hmm, iyah."
"Mas, terluka?"
"Terluka?"
"Itu ada darah di bajunya."
"Oh, ini tadi bekas tusukan."
"Sebaiknya di obati, nanti bisa infeksi."
__ADS_1
"Tidak, usah lukanya juga tidak parah kok."
"Apanya yang tidak parah, mari ikut ke ruangan saya, biar saya obati di sana."
Sebenarnya berat hati aditia harus meninggalkan delia yang tengah menjalankan operasi, tapi mau bagimana lagi dia juga harus mengobati lukanya.
Lalu aditia mengikuti dokter tersebut ke ruangannya, aditia memandang dokter tersebut, sepertinya umur dokter itu sekitaran 23 tahun.
Dan tak beberapa lama dokter itu berhenti di depan pintu bercat putih.
"Mari." Ajak dokter tersebut.
Dan aditia mengikuti dokter tersebut memasuki ruangannya, Lalu aditia langsung duduk di kursi, dam terlihat dokter tersebut membawa kotak P3K.
"Boleh di buka bajunya."
Dan aditia langsung membuka pakaiannya, terlihatlah tubuh atletisnya yang membuat dokter tersebut menelan ludah.
"Khem." Deheman aditia membuyarkan lamunan dokter tersebut.
"Hmm... Maaf." ucap dokter tersebut sambil memberikan senyumam manis.
"Oke." Lalu aditia langsung menuruti ucapan dokter tersebut.
Kemudian aditia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dan dokter tersebut langsung membersihkan luka aditia, dan kemudian langsung mengobati luka aditia.
Skip.
Cukup memakan waktu setengah jam untuk mengobati luka aditia, tak lupa dokter itu juga memperban luka aditia.
"Sudah."
"Hmm... Terimakasih"
Dan aditia langsung memakai bajunya kembali.
"Jangan pakai baju itu lagi, pakai ini saja."
__ADS_1
Sambil menyodorkan sebuah kemeja berwarna putih.
"hmmm..."
Dan aditia langsung memakai pakaian yang di berikan oleh dokter tersebut, setelah memakai baju, aditia berjalan ke kursi di depan meja dokter tersebut, dan dokter itu juga duduk di kursinya.
"Sebelum itu perkenalkan nama saya clara." Sambil menyodorkan tangannya.
"Aditia." Sambil membalas jabatan tangan dokter clara.
"Boleh saya tahu, tadi kamu sedang menunggu siapa?"
"Saya sedang menunggu kekasih saya."
Terlihat raut kecewa terukir di wajah dokter clara.
"Memangnya kenapa dia."
"Di terjatuh dari tangga."
"Dan lukamu?"
Aditia tak menjawab pertanyaan dokter clara.
"Maaf saya terlalu banyak bertanya."
"Iyah, tak apa."
Tak ada lagi pembicaraan antara aditia dengan dokter clara.
"Maaf saya harus kembali ke ruang UGD."
"Oh, iyah. Mari saya antar."
"Tidak usah, saya bisa sendiri."
"Baiklah."
__ADS_1
Dan aditia langsung berjalan ke pintu keluar dan langsung pergi meninggalkan ruangan dokter clara, dan terlihat dokter clara memandang punggung aditia yang semakin menjauh.