
Dan clara langsung memalingkan mukanya dari sarah, dan delia tak menghiraukan kedua wanita tersebut yang sekarang dia pikirkan adalah keadaan aditia.
---------------------------------
Cukup lama mereka menunggu, dan terlihat ridho pun sudah kembali sambil membawa bubur untuk delia.
Dan tak beberapa lama seorang dokter keluar dari ruang UGD, terlihat clara langsung antusias menanyakan keadaan aditia.
"Bagaimana dengan keadaan pasien yang bernama aditia dok."
"Begini dia kondisinya sudah tidak terlalu parah, tapi kini dia masih dalam keadaan koma."
"Oh, baiklah."
"Kalau begitu saya pergi dulu."
"Hmm..."
Delia hanya menyimak penjelasan dari dokter tersebut, entah kenapa ada rasa bersalah di hatinya, jika saja delia tak menyuruh aditia untuk pergi mungkin aditia tak akan mengalami kecelakaan seperti ini.
"Puas kau sekarang delia!" Teriak clara.
"Apa maksud mu clara." Tanya delia.
"Kau pura-pura bodoh atau apa hah?" Bentak clara.
Delia tak mau menanggapi ucapan clara, dia lebih memilih diam karena percuma meladeni clara cuman menguras emosi saja.
__ADS_1
"Sebaiknya dokter clara kembali berkerja." Ucap sarah.
"Apa maksud mu, kau mengusirku?"
"Aku tak mengusirmu, cuman mengingatkan tentang tugas mu sebagai dokter, karena kau di sini itu di bayar untuk melayani para pasien bukannya diam saja seperti sekarang, memangnya kau mau makan gaji buta."
Clara tak bisa menjawab ucapan sarah, karena yang sarah ucapkan itu ada benarnya, lalu clara langsung melenggang pergi meninggalkan delia.
Setelah kepergian clara, suasana menjadi tenang, damai dan tentram. Dan tak beberapa lama para perawat memindahkan aditia ke ruang rawat, dan delia mengikuti kemana aditia di bawa.
Skip.
Hampir 2 minggu aditia koma, dan dengan setia delia selalu mengunjungi aditia, dan sesekali terlihat delia meneteskan air mata dia menyesal telah menyuruh aditia pergi, jika saja hari itu delia tak menyuruh aditia pergi mungkin aditia tak akan seperti ini.
Tanpa di sadari ketika delia tengah menangis sambil menggenggam tangan aditia, rambut delia berasa di elus oleh tangan yang lembut. Netral delia membulat ketika tahu siapa yang mengelus rambutnya.
Terlihat tatapan bahagia dan sebuah senyuman terukir jelas di wajah delia.
Dan delia langsung mencoba bangkit tapi dia tak bisa karena rasa sakit di tulang rusuknya masih terasa.
"Duduklah delia." Ucap aditia.
"Aku akan panggilkan dulu dokter." Lalu delia berusaha menggerakkan kursi rodanya tapi aditia menahannya.
"Tak perlu, lagi pula aku sudah sudah membaik."
"Tapi.."
__ADS_1
"Tak ada kata tapi, dan aku tak tega melihat mu seperti ini."
Lalu tak beberapa lama sarah datang, dan dia sangat terkejut ketika melihat aditia sudah siuman.
"Sarah, tolong kau panggilkan dokter." Ucap delia.
"Delia, apa kau bodoh?"
"Apa maksudmu."
"Kau lihat tombol di dekat ranjang aditia."
"Iyah, lantas."
Sarah cuman bisa menepuk jidatnya ketika melihat kebodohan delia.
"Jika kau ingin memanggil dokter, kau tinggal menekan tombol tersebut."
"Oh, yah? sejak kapan rumah sakit di sini ada tombolnya?"
"Tekan saja."
Lalu delia menekan tombol tersebut, dan tak beberapa lama dokter beserta perawat datang ke dalam ruang rawat aditia, dan tak lupa juga clara pun ikut datang untuk melihat kondisi aditia.
Delia dan sarah sedikit menyingkir untuk membiarkan dokter memeriksa keadaan aditia, terlihat clara memandang sinis delia. Sementara delia acuh tak acuh ketika clara memandang sinis padahnya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya yah 😊😊😊
Dan makasih telah meluangkan waktu untuk membaca novel author.~