Cinta Psychopath (S1 & S2)

Cinta Psychopath (S1 & S2)
CP. S2-6


__ADS_3

Hari sudah mulai menjelang sore, dan kini waktunya pulang. Lalu Bagas langsung berjalan ke ruang sekertarisnya untuk bertanya tentang tugasnya apakah sudah selesai atau tidak.


Dan ternyata Via mengerjakan tugasnya dengan baik, bahkan tugasnya pun sudah selesai. Setelah itu Bagas langsung pulang ke rumah.


Kini Bagas sudah berada di depan rumahnya, dan saat dia masuk ke dalam rumah dia langsung di kagetkan dengan kehadiran nenek kesayangan itu.


"Cucu oma makin ganteng aja." Ucap Imelda sambil mencubit kedua pipi cucu laki-lakinya itu.


"Sakit oma." Ucap Bagas sambil menunjukkan wajah tak suka.


"Aduh kamu tuh yah, gak senang Oma datang." Ucap Imelda.


"Senenglah, massa gak seneng." Ucap Bagas.


Lalu Imelda langsung berjalan-jalan melihat sekeliling rumah, karena sudah 5 tahun Imelda tak berkunjung. Terakhir Imelda berkujung saat kematian mantan suaminya yaitu pak Wijoyono.


"Rumah ini terasa sangat dingin dan tak hidup." Ucap Imelda. Bagas yang mendengar hal itu hanya tersenyum sendu, bagaimana mau hangat dan hidup karena orang-orang yang dia sayangi sudah pergi meninggalkan untuk selamanya.


"Oma." Panggil Bagas.


"Ada apa sayang." Tanya Imelda pada cucunya.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?" Ucap Bagas.


"Tanyakanlah." Ucap Imelda.

__ADS_1


"Kenapa ayah dan ibu bisa meninggal, siapa yang membunuh mereka dan kenapa kalian tak menolong ayah dan ibuku." Tanya Bagas.


Dan Imelda hanya menatap sendu cucunya itu, ini sudah pertanyaan yang ke sekian kalinya Bagas tanyakan padanya. Dan itulah kenapa Imelda malas jika harus berkujung ke Jakarta karena Bagas pasti akan menanyakan hal itu.


"Hal itu tak perlu lagi kau ungkit, yang lalu biarlah berlalu. Lagi pula itu sudah hampir 20 tahun lalu jadi kau harus melupakan hal itu, dan pasti ayah dan ibumu sudah tenang di alam sana." Ucap Imelda.


"Tapi Oma, aku penasaran siapa yang tega memisahkan aku dengan ayah dan ibuku." Ucap Bagas.


"Sudah Oma katakan, lupakan masalah ini Bagas." Ucap Imelda.


"Kenapa? Kenapa kalian tak mau memberitahukan hal ini padaku?" Tanya Bagas.


"Ini keinginan dari ayah dan ibumu sebelum mereka meninggal." Ucap Imelda sambil melirik Bagas.


"Oma cape Bagas, Oma mau istirahat dulu." Ucap Imelda sambil berjalan pergi menuju kamar tamu yang sudah di sediakan.


Di dalam kamar...


Nampak Imelda tengah terdiam, dia masih memikirkan tentang Bagas yang terus bertanya tentang siapa yang membuat ayah dan ibunya meninggal.


Bukan keinginan Imelda untuk tidak memberitahu Bagas tapi ini semua adalah keinginan Aditia dan juga Delia, mereka tak mau jika Bagas membalas dendam atas kematian mereka, karena Delia dan juga Aditia ingin jika Bagas tak terjerumus pada dunia hitam seperti mereka dulu.


Flashback.


Terlihat semua orang tengah berkumpul di ruang tapi kecuali Bagas karena dia sudah tertidur pulas di kamar.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Imelda.


"Tak ada." Ucap Aditia.


"Apa maksudmu tak ada Aditia." Tanya Imelda sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Tahan emosi mu Imelda." Ucap pak Wijoyono.


Dan Imelda dengan terpaksa langsung menenangkan emosinya itu.


"Aku dan Delia ingin kalian semua tak perlu membantuku dalam kasus ini, kalian tak perlu menyewa pengacara mahal untuk membela kami berdua." Ucap Aditia menjelaskan.


"Apa maksudmu itu Aditia, aku datang jauh-jauh dari Kalimantan hanya untuk membuatmu terbebas dari semua tuduhan ini tapi kau malah menyuruh kami untuk diam saja dan hanya menunggu kematian kalian berdua saja." Ucap Imelda semakin emosi.


"Ibu tolong tenangkan emosimu." Ucap Delia.


"Bagaimana aku tak emosi jika putraku menyuruh ku hanya diam saja. Dan aku tak sanggup jika harus kehilangan putra semata wayang ku." Ucap imelda.


"Maafkan aku, bukan aku bermaksud untuk tak menghargai usaha kalian dalam membelaku dan delia. Tapi kami berdua sudah sepakat untuk menebus semua kesalahan kami berdua di masa lalu." Ucap Aditia.


Lalu Aditia langsung menatap Delia dan menggenggam tangannya. "Setidaknya aku dan Delia bisa bersama meski dalam kematian sekali pun." Ucap Aditia.


Semua orang yang ada di ruangan itu hanya bisa diam mematung, terlihat Imelda hanya bisa menahan air matanya yang terus mengalir dia tak sanggup jika harus kehilangan putra semata wayangnya itu. Dan begitu juga dengan pak Wijoyono hanya bisa menahan air matanya agar tak jatuh, dia tak bisa membayangkan jika dirinya kehilangan Aditia.


Flashback off.

__ADS_1


__ADS_2