
Keesokan harinya nampak Via tengah bersiap untuk berangkat bekerja, dan dia sengaja berangkat pagi-pagi karena dia tak ingin jika orang tuannya tahu jika dirinya berangkat bekerja.
Dengan bermodalkan uang 50 ribu, Via langsung menaiki angkutan umum untuk pergi ke perusahaan tempatnya bekerja. Di sepanjang jalan Vi terus memikirkan bagaimana pekerjaannya nanti, dan Via sudah tak sabar untuk segera bekerja.
Cukup memakan waktu yang lama, kini Via turun di salah satu halte Bus. Dan dari halte bus itu Via harus kembali berjalan untuk sampai di perusahaan tempatnya bekerja.
Tak beberapa lama berjalan kini Via sudah sampai di depan perusahaan baru tempatnya bekerja, lalu Via langsung berjalan menuju resepsionis.
"Permisi mbak." Tanya Via.
"Iya ada apa?" Tanya resepsionis itu ramah.
"Saya Via sekertaris baru pak Bagas." Ucap Via.
"Oh, iya. Sebentar yah." Lalu resepsionis itu langsung menelpon seseorang. "Kamu sekarang pergi ke lantai 10, lalu setelah itu kamu jalan lurus dan belok kiri dan di sana ruangan pak Bagas." Ucap resepsionis itu sambil memberi pentunjuk.
"Terimakasih." Ucap Via. Lalu Via langsung mengikuti petunjuk dari resepsionis yang tadi. Dan tak beberapa lama kini Via sudah sampai di depan ruangan Pak Bagas. Bos barunya.
Tok, tok, tok...
Lalu Via langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk." Ucap seseorang dari dalam. Mendengar hal itu Via langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Dan di sana sudah nampak Bagas menatapnya penuh rasa angkuh.
"Kamu terlambat 1 menit." Ucap Bagas.
"Maaf pak, tadi di jalan macet dan saya juga belum tahu tentang ruangan bapak." Ucap Via.
__ADS_1
"Saya tak terima alasan apa pun." Ucap Bagas.
"Maaf pak. Saya tak akan mengulanginya lagi." Ucap Via sambil membungkukkan badannya.
"Baiklah, karena saya baik hati. Maka saya maafkan kamu, dan di ruangan kamu ada di sebelah ruangan saya." Jelas Bagas.
"Baik pak." Ucap Via.
"Dan sekarang kamu atur jadwal saya, dan jangan lupa periksa dokumen ini." Ucap Bagas sambil menyerahkan setumpuk dokumen pada Via.
Dan Via hanya menatap horor semua pekerjaan yang di berikan oleh Bos barunya itu.
"Tunggu apa lagi, cepat kerjakan." Ucap Bagas.
"Baik pak." Lalu Via langsung pergi ke ruangannya dan langsung memulai pekerjaan nya itu.
Kini jam sudah menunjukkan jam makan siang, tapi Via masih belum selesai mengerjakan semua pekerjaannya. Dan kini perutnya juga sudah mulai meronta-ronta minta di isi.
"Aduh lapar banget lagi." Ucap Via sambil memegangi perutnya, lalu dia melihat masih ada beberapa dokumen yang belum selesai. "Nanggung dikit lagi." Ucap Via, di tambah lagi dengan uang saku yang hanya tinggal 15 ribu lagi via harus sekuat tenaga menahan rasa lapar.
Bagas yang melihat arlojinya sudah menunjukkan jam makan siang, langsung bangkit dari tempat duduknya. Lalu dia hendak pergi ke luar untuk mencari makan, sekilas matanya melirik ruangan sekertarisnya itu.
Entah kenapa kakinya langsung berjalan menuju ruang sekertarisnya itu, dan di lihat Via tengah berkerja sambil memegangi perutnya.
Ada rasa kasian juga di hati Bagas. "Khem." Dehem Bagas.
Via yang mendengar suara deheman langsung melihat ke arah sumber suara. "Eh, pak bos." Ucap Via.
__ADS_1
"Apa pekerjaan mu sudah selesai?" Tanya Bagas.
"Belum pak." Ucap Via.
"Kalau begitu temani saya makan siang." Ajak Bagas.
"Tapi pekerjaan saya?" Tanya Via.
"Kau bisa kerjakan saja nanti setelah makan siang." Ucap Bagas.
Lalu Via langsung membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya, setelah itu dia langsung mengikuti langkah Bagas.
Kini Bagas dan juga Via sudah berada di parkiran, nampak Bagas langsung membuka pintu mobil sport miliknya. Dan Via hanya menatap kagum mobil milik bos barunya itu.
"Apa kau mau naik atau diam mematung seperti orang ****." Ucap Bagas.
Mendengar ejekan dari bos nya Via hanya bisa tersenyum, lalu dia hendak naik ke dalam mobil bosnya tapi dia bingung harus duduk di mana.
"Pak bos saya harus duduk dimana?" Tanya Via.
"Kau duduk di bagasi mobil saya." Ucap Bagas.
"Tapi..." Ucap Via langsung di potong oleh Bagas.
"Duduk di depan, cepat." Ucap Bagas. Lalu Via langsung masuk ke dalam mobil sport milik bos nya itu.
Setelah itu, Bagas langsung melajukan mobil mewahnya itu di jalan aspal dan langsung mengendarainya ke sebuah restoran mewah yang ada di Jakarta.
__ADS_1