
Kemudian aditia mengangkat tubuh delia ke kamarnya, dan menyuruh salah satu pembantunya untuk menelpon dokter.
---------------------------------
Terlihat kini aditia tengah menunggu di luar kamarnya, entah kenapa aditia merasa cemas tentang keadaan delia.
Di benak aditia muncul sedikit penyesalan karena telah menyakiti delia, tapi penyelasan itu langsung di tepisnya jauh-jauh, karena menurutnya delia pantas mendapatkan itu semua sebagai hukuman atas perbuatan ibunya di masa lalu.
Dan tak beberapa lama, dokter pun keluar dari dalam kamar.
"Bagaimana keadaannya."
"Keadaannya cukup memperihatinkan, karena ada beberapa tulang rusuk nya yang patah."
Terlihat aditia mematung karena mendengar ucapan dari dokter tersebut.
"Apa dia akan sembuh."
"Dia pasti sembuh, tapi mungkin akan memakan waktu yang cukup lama, untuk memulihkan tulang rusuknya yang patah."
"Baiklah."
Lalu dokter tersebut langsung meninggalkan aditia, dan aditia langsung memasuki kamar tempat delia berada, terlihat delia tengah berbaring sambil menatap langit-langit.
"Untuk apa kau kemari, apa belum puas kau menyiksaku."
Aditia tak bisa menjawab pertanyaan delia, entah kenapa ada rasa penyesalan karena dia telah bertindak ceroboh.
__ADS_1
"Aditia, aku tak menyangka jika rasa cintamu pada ku selemah itu, bahkan rasa cintamu bisa goyah oleh masalah yang bahkan belum kau ketahui kebenarannya."
"Apa maksudmu, itu semua memang benar ibumu.." Sebelum aditia menyelasaikan ucapannya delia langsung memotong ucapan aditia.
"Apa kau punya bukti?"
Seketika aditia langsung diam membisu dia tak bisa menjawab pertanyaan delia.
"Tapi ayahku mengatakan hal itu."
"Mulut itu bisa berdusta aditia."
Dan aditia kembali diam dengan seribu bahasa, yang di ucapkan oleh delia itu memang benar. Belum tentu semua yang di ceritakan oleh pak wijoyono sebuah kebenaran.
"Jika benar yang mengurusmu adalah ibu ku, kau harusnya bersyukur."
"Meski dia bukan ibu mu, meski dia merebut posisi ibu kandung mu. Tapi dia tetap memperlakukan mu seperti anak kandungnya, dan aku anak kandungnya sendiri pun belum pernah merasakan kasih sayangnya. Dan begini ucapan terimakasih mu pada ibu yang telah menyayangimu selama ini aditia? jangan kau pandang orang akan kesalahannya saja tapi lihatlah kebaikannya, karena setiap manusia itu tak ada yang sempurna begitu pula ibuku." terlihat delia menahan isak tangisnya karena mengucapkan semua hal yang mungkin tak di dengarkan oleh aditia.
Terlihat aditia menundukkan kepala, dia malu akan perbuatannya kali ini. Jika saja clara tak menghasut aditia mungkin aditia tak akan melakukan hal sehina ini.
"Delia aku.."
"Cukup aditia, aku sudah tak ingin mendengar penjelasanmu lagi dan aku juga sudah tak sudi tinggal di rumah mu lagi."
"Apa maksudmu delia?"
"Aku akan pulang ke apartemen ku, dan sebentar lagi sarah akan datang untuk menjemputku."
__ADS_1
"Tak akan ku biarkan kau meninggalakan tempat ini."
"Lantas mau apa, mau mengurungku dan menyiksaku lagi. Apa kau belum puas aditia, aku sudah jijik melihat mu aditia."
"Tidak delia, kau tak boleh mengucapkan kalimat itu."
"Kenapa aku tak boleh?"
"Karena itu melukai perasaanku."
"Melukai perasaanmu, bahkan saat kau berkata kasar kepada ku apa kau tak pernah memikirkan tentang perasaanku aditia."
Terlihat aditia hanya bisa diam membisu, dia bingung harus menjawab apa. Lalu delia melempas gelas kaca yang ada di meja dekat ranjangnya.
Prangg. (Anggap aja suara gelas pecah yah)
"Kau lihat gelas yang pecah itu." Sambil menunjukkan tangannya pada pecahan gelas tersebut. "Apa kau bisa memperbaikinya, membuatnya kembali ke bentuk semua tanpa ada goresan sedikit pun."
Dan aditia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Begitu pun hati ini, yang telah kau hancurkan berkeping-keping dan tak akan kembali ke bentuk yang semula aditia."
Aditia hanya bisa dia membisu sambil berlutut dan mengenggap kedua tangan delia, memohon agar delia tak pergi dari kehidupannya.
***
Jangan lupa like dan votenya yah 😊😊😊
__ADS_1
Dan makasih udah luangin waktu buat baca novel author.~