
Dan kini mata aditia secara perlahan menutup, dan untuk terakhir kalinya dia melihat delia yang tengah terkapar lemah tak berdaya, mungkin ini pertemuan terakhirnya dengan delia dan pak wijoyono.
"Delia, ayah."
----------------------------------
Kini terlihat aditia tengah berbaring di sebuah kamar bernuansa merah, dan terdapat selang impus yang di tangan kanannya, di sampingnya terlihat seorang wanita tengah memandang sendu terhadap aditia, siapa lagi kalau bukan imelda.
Terlihat jari tangan aditia bergerak dan tak beberapa lama matanya pun terbuka secara perlahan, lalu dia mengedarkan pandangannya dan dia tak mengenali tempat dia berada sekarang.
Lalu mata aditia tertuju pada seorang wanita yang berada di sampingnya, wanita itu terlihat nampak tersenyum ketika mengetahui jika aditia sudah siuman.
"Kau sudah bangun nak." ucap imelda sambil membelai lembut wajah aditia.
Bukannya sambutan hangat yang imelda dapat dari aditia, melainkan tatapan tajam dan penuh kebencian saat menatap imelda.
Imelda yang mengetahui hal itu hanya biasa saja, baginya di tatap seperti itu tak membuatnya merasakan ketakutan.
"Apa yang kau inginkan." Ucap aditia.
Imelda nampak tersenyum ketika aditia menanyakan pertanyaan yang sungguh konyol.
"Apa yang ku inginkan? Aku tak menginginkan apa-apa, aku hanya ingin jika putraku kembali bersama ku lagi." Ucap imelda sambil terus menatap aditia.
"Dimana delia dan ayahku."
Saat aditia menanyakan kedua orang itu, nampak raut wajah tak suka terukir jelas di wajah imelda.
__ADS_1
"Bisakah kau tak membahas mereka berdua."
"Jawab pertanyaan ku."
"Mungkin mereka kini sudah membusuk atau di makan oleh binatang buas."
"Beraninya kau." Saat aditia akan bangkit untuk menghajar imelda, kedua tangannya ternyata sudah di ikat pada ranjang dan itu membuat aditia tak bisa menghajar imelda.
"Dengarkan aku aditia, aku adalah ibu mu yang melahirkanmu jadi seluruh hidupmu adalah milikku, dan kau harus menuruti semua perintahku... Dan oh iyah, setelah kau pulih kau akan segera menikah dengan wanita pilihanku."
"Kau tak bisa melakukan itu, wanita yang ku cintai hanya satu.."
"Tapi wanita itu sudah mati." Bentak imelda.
Terlihat aditia hanya bisa terdiam, dia tak bisa percaya jika delia sudah meninggal.
"Ini tak mungkin, delia ku masih hidup. Dia belum mati." Ucap aditia sambil menangis.
"Kau tak bisa memaksaku untuk menikah."
"Aku bisa karena aku ibu mu aditia."
Tak ingin berdebat lagi dengan aditia, imelda memilih pergi meninggalkan aditia. Dan kini aditia terlihat hanya diam membisu dia tak habis pikir jika hari itu adalah hari terakhirnya bisa melihat delia.
Terlihat air mata menetes dari ujung matanya, aditia menangis karena orang yang di cintainya sudah pergi meninggalkannya.
"Untuk apa aku hidup jika tak bersama delia." Ucap aditia, karena baginya dia tak bisa hidup tanpa delia.
__ADS_1
**
Di tempat lain..
Terlihat imelda tengah duduk sambil meminum wine nya, dan kemudian satria datang mendekati imelda sambil memeluknya dari belakang.
"Bagaimana kabar anak mu imelda."
"Ya begitulah, dia anak yang keras kepala."
"Dan bagaimana dengan wijoyono dan kekasihnya itu."
"Entahlah, mungkin mereka sudah mati."
"Bagaimana jika mereka belum mati."
Mendengar ucapan satria, imelda langsung melihat satria dengan tatapan serius.
"Meski mereka masih hidup tapi aditia mengetahui jika mereka sudah mati, dan lagi pula mereka tak akan bisa mengetahui keberadaan aditia."
"Baiklah, dari pada membahas mereka lagi lebih baik jika kita memadu kasih, aku sudah rindu akan tubuh mu imelda."
"Kau sangat nakal satria."
Kini imelda dan satria langsung memadu kasih, dan mereka berdua nampak menikmati malam ini dengan penuh gairah.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya yah. 😊😊
Dan makasih sudah meluangkan waktu buat baca novel author.~