
Tapi dengan begitu membuat keuntungan bagi aditia setidaknya sekarang tak ada bukti bahwa aditia semalam datang ke rumah sakit jiwa tersebut dan membunuh tiara.
--------------------------------
Di sebuah ruangan yang gelap , pengap dan berdebu terlihat seorang wanita tengah terduduk dengan kedua tangannya di rantai dan kedua kakinya di pasung dengan pakaian yang sudah sobek-sobek dan terlihat bekas luka cambukan di sekujur tubuhnya
Wajah yang tadi nya putih berubah menjadi hitam dan kemerah-merah karena efek debu dan beberapa luka serta mata yang bengkak karena menangis
Tap, tap, tap, tap...
Terdengar suara langkah kaki menuju ke ruangan tempat gadis itu di sekap.
"Selamat siang delia." Sapa seorang pria sambil berjalan mendekati delia.
"Cih.." Balas delia.
"Delia, delia setidak nya kau harus lebih ramah sedikit."
"Aku tak sudi menunjukkan keramahan ku pada ******** sepertimu."
__ADS_1
"Hahahahaha. B*jingan, ya aku memang b*jingan tapi setidak nya aku tak seb*jingan kekasihmu itu delia."
Delia hanya diam sambil menatap marah pria yang ada di hadapannya itu.
"No no no, delia kau jangan menatap ku dengan tatapan mu yang sangat menyedihkan itu, lagi pula tak ada gunanya kau menatap ku seperti itu karena aku tak akan merasa kasihan kepadamu."
Pria itu lalu menatap nampan yang masih lengkap.
"Kau belum menyentuh makanan mu delia."
"Aku tak sudi memakannya."
"Kau harus makan delia, setidak nya kau harus hidup sampai nanti aditia kemari dan kau boleh mati tepat di hadapan nya."
"Makanlah delia." Ucap pria itu.
Delia tak sudi memakan makanan tersebut merasa jengkel dengan sikap delia yang tak menuruti ucapannya itu, pria tersebut langsung mencengkram dagu delia dengan kasar.
"BUKA MULUT MU DELIA."
__ADS_1
Bentak pria itu, lalu memasukkan paksa makanan tersebut ka mulut delia.
Delia hanya bisa menangis ketika mengunyah makanan tersebut, dia tak habis pikir bagaimana bisa di bertemu dengan orang seperti ini.
"Bagus, kunyah seperti itu kalau begini aku tak perlu menggunakan kekerasan terhadapmu karena aku tak tega jika harus melakukan kekerasan."
Delia hanya menunduk kan kepalanya sambil menahan isak tangisnya, kemudian pria itu hendap berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Siapa kau sebenarnya dan kenapa kau menyiksaku seperti ini, apa salahku." Tanya delia sebelum pria itu pergi.
"Hmm.. Kau akan tahu nanti, saat waktunya tiba." Ucapnya.
Kemudian pria itu langsung pergi meninggalkan delia seorang diri di ruangan yang gelap dan berdebu tersebut.
Ingin rasa nya dia bisa keluar dari ruangan terkutuk ini tapi apalah daya tangan nya di rantai dan kedua kaki nya pun di pasung dan juga luka-luka bekas siksaan pria itu pun masih belum sembuh.
Delia tak pernah tahu wajah dari pria yang menyekap nya di sini karena dia selalu memakai topeng ketika mendatangi delia. Dan lagi delia tak pernah tahu alasan pria itu menculik nya dan juga menyiksa nya tapi yang jelas ini semua pasti ada hubungannya dengan aditia.
Lalu delia hanya bisa menatap langit-langit ruangan tersebut, terlihat air mata delia mengalir dari ujung matanya.
__ADS_1
Dia sudah lelah di siksa dan di kurung di tempat ini tanpa tahu apa kesalahannya, delia berharap aditia akan segera menemukan keberadaannya.
"Aditia ku mohon datanglah...."