
Saat ridho keluar dari kamar rawat delia dia tak sengaja melihat seorang dokter wanita yang terlihat mencurigakan.
--------------------------------
Dan di saat ridho ingin pergi ke luar untuk membeli air minum, dia tak sengaja tabrakan dengan aditia.
"Sorry." Ucap ridho.
"Iyah." Sambil menatap orang yang menabraknya.
Dan aditia langsung pergi tanpa menghiraukan tatapan tak suka dari ridho.
"Dasar orang tak tahu sopan santun." Ucap ridho sambil melenggang pergi.
Di benak aditia, entah kenapa ada perasaan tak asing ketika melihat pria itu, tapi dia tak tahu dimana dia bertemu dengan pria itu.
Tapi dia menepis langsung pikirannya tentang pria yang di tabraknya tadi, daripada harus memikirkan pria yang gak jelas lebih baik dia memikirkan tentang pria misterius yang telah menculik delia.
Dan kini aditia berjalan menuju kamar rawat delia, dan ketika dia berada di depan pintu kamar rawat delia, aditia samar-samar mendengar delia tengah tertawa dan dia juga mendengar suara pria dari kamar rawat delia, tanpa basa basi aditia langsung menendang pintu tersebut, dan terlihat orang-orang yang berada di dalam kamar rawat tersebut langsung memandang heran aditia.
"Apa yang kau lakukan aditi, kenapa kau menendang pintu, bagaimana jika pintu itu rusak." Tanya delia.
"Iyah apa yang kau lakukan aditia." Tanya hendra.
"Anu aku kira kau sedang dengan pria lain delia, dan sedang apa kalian di sini." Tanya aditia.
"Heh! Emang apa salahnya aku menjenguk delia, dia kan sahabatku." Ucap sarah.
__ADS_1
"Dan kau sedang apa di sini hendra." Tanya aditia.
"Iyah kan sarah pacarku, dan pasti aku akan selalu ikut kemana dia pergi." Ucap hendra.
"Oh.." Jawab aditia singkat.
"Oh, iyah kok ridho lama yah." Ucap delia.
"Ridho? siapa ridho?" Tanya aditia.
"Bukan urusanmu." Ucap delia.
Dan tak beberapa lama, orang yang di bicarakan sudah datang.
"Eh, itu ridho." Ucap sarah.
Dan terlihat ridho melirik aditia, dan pandangannya langsung kembali tertuju pada delia.
"Maaf yah lama." Ucap ridho.
"Iyah gak papa kok." Jawab delia.
"Oh, ini aku bawa makanan buat kamu delia." Sambil menyerahkan bingkisan plastik pada delia.
Tapi seketika bingkisan itu langsung di ambil oleh aditia.
"Terimakasih, dan maaf tak perlu repot-repot sehingga harus membelikan makanan untuk delia." Ucap aditia dengan sinis.
__ADS_1
Dan ridho hanya tersenyum menanggapi ucapan aditia.
"Iyah, tak repot kok demi delia agar bisa tersenyum itu tak membuatku repot." Sambil tersenyum kepada delia.
Teelihat aditia sedikit geram ketika melihat ridho yang caper kepada delia.
"Khem..."
Ridho tak menghiraukan deheman aditia, sebenarnya ridho tahu jika deheman itu adalah kode agar dirinya tak mencari perhatian kepada delia.
"Bagaimana keadaanmu delia, apa sekarang sudah mendingan." Tanya ridho.
"Iyah, sudah mendingan kok." Ucap delia.
"Khem..." Terdengar lagi suara deheman aditia.
"Apa kau sedang sakit tenggorakan aditia." Tanya delia.
"Tidak."
Terlihat sarah dan hendra tengah menahan tawa karena melihat aditia tengah memberikan kode pada delia, tapi delia tak mengerti kode itu.
"Apa yang kalian tertawakan." Tanya delia.
"Gak ada." Jawab sarah.
Delia merasa heran, kepada orang-orang yang sekarang ada di dalam kamarnya, mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya, terlihat sarah dan hendra tengah menahan tawa dan aditia seperti orang yang tengah menahan marah, sebenarnya ada apa dengan mereka semua.
__ADS_1