
Sesak aditia tak bisa bernapas seperti ada yang mencekiknya tapi tak terlihat wujudnya. Apa mungkin dia akan mati sekarang, tubuhnya menjadi lemas penglihatan aditia menjadi buram. perlahan mata nya tertutup.
"Maafkan aku delia."
-----------------------------------
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.
Terdengar suara adzan subuh seketika asap hitam yang mengelilingi tubuh aditia langsung menghilang dan berubah menjadi tiara.
Terlihat tiara tengah menjerit sambil menutupi kedua telinganya.
"HENTIKAN, PANAS."
Terdengar teriakan tiara, saat adzan subuh berkumandang tubuhnya berasa di bakar oleh api ketika mendengar suara adzan.
Seketika tubuh nya berubah menjadi semula dan tubuh tiara langsung tergeletak di lantai.
Khuk... khuk... khuk...
__ADS_1
"Ada apa ini, apa aku belum meninggal." Ucap aditia.
Aditia melirik ke sekitarnya tempatnya sekarang sangat berbeda dengan yang terakhir dia ingat, yang tadinya dia berada di lorong-lorong gelap sekarang dia berada di depan lorong yang menuju ke arah jalan keluar dari rumah sakit tersebut.
Aditia lalu melihat tiara tengah tergeletak tak berdaya tak jauh darinya, kemudian aditia berjalan mendekati tiara
"Dasar setan kecil , berani nya kau membuat ku hampir kehilangan nyawa ku ."
Tak ingin menyia-siakan kesempatan lalu aditia mencari benda tajam dan dia menemukan sepotong besi panjang yang tak jauh darinya, aditia langsung berjalan mengambil besi tersebut dan kemudian kembali menuju ke arah tiara.
"Seharusnya aku membunuhmu dari awal, bukan malah membiarkanmu hidup. Dan kau orang yang tak tahu balas budi, ku biarkan kau masih bisa menikmati indahnya dunia tapi kau berniat membunuhku dengan cara seperti itu. Dasar bodoh." Ucal aditia.
Terlihat darah mengalir dari kepala tiara , darah merah yang sangat kental mengalir membasahi lantai.
Terlihat senyuman dari raut wajah aditia, dia tak ingin mengambil resiko jika membiarkan tiara hidup karena mungkin lain waktu bisa saja tiara berhasil membunuhnya.
"Sudahku bilang, aku tak akan mudah untuk di habisi meski kau bersekutu dengan iblis sekali pun."
Lalu aditia berjalan menuju jalan keluar, dia langsung meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut, rumah sakit yang menjadi saksi hampir terenggutnya nyawa aditia.
__ADS_1
Di tengah perjalanan aditia terus memikirkan keberadaan delia lalu aditia langsung mengendarai mobil nya ke rumah nya karena dia harus mengobati luka-luka yang di timbulkan karena ulah tiara.
Tak beberapa lama aditia sampai di rumahnya, dia langsung membuka pintu dan berjalan ke tempat penyimpanan kotak P3K.
"Jika ada delia mungkin dia yang akan mengobati luka-luka ini." Lirih aditia.
Terlihat raut wajah sedih terukir jelas di wajah aditia, dia bingung harus mencari ke mana lagi keberadaan delia.
"Dimana keberadaan kamu sekarang sayang." Ucap aditia.
Entah kenapa dia malas untuk mengobati luka-luka di tubuhnya karena luka di tubuh nya tak sesakit luka di hatinya.
Lalu aditia berjalan menuju kamarnya dengan luka yang belum di obati, kemudian dia membuka pakaiannya dan langsung berbaring di atas ranjang sambil melihat langit-langit kamarnya.
Terlihat air mata aditia mengalir dari ujung matanya, dia tak bisa membayangkan jika dia kehilangan delia seperti dia kehilangan ibunya.
Bagi aditia, dirinya bagaikan orang yang tak berguna karena tak bisa menjaga delia.
Kemudian aditia memejamkan matanya, sekarang dia harus beristirahat karena besok dia harus memulai lagi pencarian delia jadi dia harus memulihkan tenaga nya malam ini.
__ADS_1