
Sudah empat hari Abby di rawat di rumah sakit Bogor, kondisinya semakin membaik akan tetapi dokter yang menangani Abby belum juga memberikan informasi lanjutan mengenai kaki Abby yang masih belum bisa bergerak.
Perasaan cemas dan takut seringkali menyentuh hati Abby, bagaimana tidak saat Abby masih bisa berjalan, Abby sudah siap melepaskan Arneta. Dan saat ini Abby berfikir jika Arneta akan tersiksa jika terus mendampingi dirinya dalam kondisi cacat duduk di kursi roda.
Hari ini Arneta berniat untuk menemui dokter yang merawat Abby. Arneta tidak tahan lagi menunggu tanpa kepastian. Arneta menujuh meninggalkan Abby di ruangnya saat Abby tertidur.
Dengan langkah cepat Arneta langsung menemui dokter di ruangannya.
Tok
Tok
Pintu ruangan dokter diketuk oleh Arneta.
"Masuk...!" seru dokter dari dalam ruangan. Dokter itu mempersilahkan siapa yang sudah mengetuk pintu.
Arneta langsung masuk kedalam setelah dipersilahkan masuk.
"Siang dok..." ucap Arneta.
"Silahkan duduk bu," dokter itu menunjuk kursi yang ada di sebrang meja kerjanya. Arneta pun duduk di kursi yang ditunjuk oleh dokter.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter.
"Saya ingin menanyakan tentang kondisi kaki suami saya, dok," jawab Arneta.
"Kebetulan bu, saat ini saya baru saja menerima hasil lap. Saya sudah mempelajarinya dan hasilnya kaki suami ibu bisa kembali normal. Hanya saja butuh terapi," terang dokter. Arneta tersenyum bahagia mendengar penjelasan dokter.
Ada harapan yang di berikan dokter untuk kesembuhan Abby.
"Kira-kira butuh waktu berapa lama, dok?" tanya Arneta.
"Kurang lebih tiga bulan, dengan catatan asalkan suaminya rutin untuk terapi dan tidak lupa meminum obatnya saya rasa suami ibu bisa pulih sepenuhnya," ucap dokter. Dokter itu bukan hanya memberikan harapan tetapi dokter itu juga bisa menjamin jika Abby bisa berjalan lagi dan kembali normal.
Selesai bertanya pada dokter Arneta langsung kembali ke ruangan Abby, wajah Arneta berseri-seri karena ucapan dokter tadi. Arneta membuka pintu kamar Abby secara perlahan-lahan karena takut Abby kebangun. Arneta berjalan setengah berjinjit supaya tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu tidur Abby.
Arneta kembali duduk di sofa panjang sambil ber-selonjor. Arneta mencoba untuk istirahat sebentar. Tiga puluh menit kemudian Abby terbangun, Abby bangun karena tenggorokannya terasa kering. Tak ingin membangunkan Arneta, Abby mencobah meraih sendiri gelas yang berisi air putih tak jauh dari tempat tidur. Abby menjulurkan tangannya sejauh mungkin tapi Abby tidak juga berhasil meraih gelas yang diinginkan.
__ADS_1
Usaha Abby sia-sia, disaat seperti inilah Abby langsung merasa bahwa dirinya adalah laki-laki yang tidak berguna, hanya akan menambah beban untuk orang lain. Masalah sepele saja Abby tidak bisa melakukannya sendiri apalagi jika ada masalah lainnya.
Mau tak mau Abby harus meminta bantuan kepada Arneta.
"Neta...," panggil Abby pelan. Arneta tidak bergerak karena tidak mendengarkan panggilan Abby.
"Neta..." Abby kembali memanggil Arneta. Masih tak ada sahutan juga dari Arneta.
"Neta...!" kali ini Abby memanggil Arneta lebih kencang lagi.
Arneta terbangun dari tidurnya, Arneta mengedipkan matanya sambil mengumpulkan nyawanya. Setelah benar-benar bangun Arneta menatap Abby.
"Ada apa Bee?" tanya Arneta.
"Aku haus..." akuh Abby jujur. Arneta langsung berdiri dari tidurnya dan mengambilkan minuman untuk Abby.
Arneta masih berdiri di samping Abby menunggu suaminya selesai minum. Setelah meneguk air dalam gelas sampai tuntas Abby menyerahkan kembali gelas pada Arneta.
"Makasih ya," ucap Abby tulus. Arneta tersenyum kecil sebagai jawabannya.
"Bee, tadi aku barusan ketemu sama dokter," kata Arneta.
"Untuk apa ketemu sama dokter, apa kamu sakit?" ujar Abby. Abby merasa cemas jika Arneta jatuh sakit karena dirinya.
"Aku baik-baik saja. Ini soal kaki kamu, Bee," jelas Arneta.
"Kenapa dengan kakiku? aku tahu kakiku sudah tidak bisa digunakan lagi," balas Abby dengan nada sedikit kecewa.
"Bukan seperti itu Bee, kata dokter kamu bisa berjalan lagi dengan syarat kamu harus terapi," Arneta mengatakan apa yang di sampaikan oleh dokter tadi.
"Nggak usah bohong, aku baik-baik saja. Aku sudah bisa terima jika aku harus menjadi orang cacat," ujar Abby. Abby tak ingin menerima harapan palsu itu akan sangat menyakitkan hatinya.
Arneta berpindah duduknya yang tadinya di kursi kini Arneta duduk diatas kasur Abby.
"Bener Bee, kamu bisa berjalan lagi. Dokter sudah mengatakannya padaku tadi. Kamu mau ya terapi?" ucap Arneta. Arneta mencobah meyakinkan Abby.
"Neta, jangan kasih aku harapan palsu, Aku sudah bisa menerima keadaan ku saat ini," ujar Abby. Abby masih tidak percaya dengan ucapan Arneta.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak percaya, aku panggilkan dokter. Mungkin jika dokter yang mengatakan langsung sama kamu, kamu baru percaya," ucap Arneta. Arneta memencet tombol pada dinding kamar guna memanggil dokter.
"Jadi beneran kaki aku bisa kembali normal?" ujar Abby dengan tatapan masih belum percaya.
"Sebentar lagi dokter akan datang biar dokter yang akan jelaskan," tutur Arneta. Arneta agak sedikit tersinggung karena Abby tidak mempercayai ucapannya.
Benar saja beberapa menit kemudian dokter masuk kedalam ruangan Abby. Dan dokter itupun mengatakan seperti apa yang disampaikannya tadi pada Arneta. Senyum bahagia langsung mengembang dibibir Abby. Menjadi laki-laki cacat sungguh akan membuat Abby terpuruk kedalam jurang kehancuran. Hal itu akan di perparah jika Arneta meninggal Abby.
Abby berjanji akan menuruti semua petunjuk dokter termasuk soal terapi. Abby berjanji akan rutin melakukan terapi asalkan itu bisa mengembalikan fungsi kedua kakinya yang saat ini sedang mati rasa. Setelah dokter itu pergi Abby meraih tangan Arneta dan menggenggamnya erat.
"Neta, kamu mau temenin aku terapi?" tanya Abby ragu-ragu.
"Pasti, aku akan selalu menemanimu saat terapi," jawab Arneta tegas. Abby kini tersenyum bahagia begitu juga dengan Arneta.
Rasa kekhawatiran Arneta dan Abby ternyata tidak terbukti. Dokter sudah menjelaskan bahwa saat terjadi kecelakaan ada otot dan urat Abby yang berpindah posisi hal itulah yang membuat Abby tidak bisa berjalan. Tetapi dengan terapi dan obat-obatan yang diresepkan dokter bisa membantu Abby pulih kembali.
Suasana bahagia Abby dan Arneta terhenti setelah pintu terbuka. Sarfa datang bersama dengan Rika. Mata Arneta dan Abby langsung tertuju pada tangan Sarfa dan Rika. Sarfa dan Rika masuk kedalam ruangan Abby sambil bergandengan tangan. Entah disengaja atau tidak.
Arneta menatap Rika dengan tatapan meminta penjelasan, sedang Abby terkejut dengan perkembangan hubungan Sarfa dengan Rika. Rika menurut Abby dia adalah musuh bebuyutannya. Rika yang ditatap oleh Arneta langsung salah tingkah, Rika seperti seekor tikus yang ketangkap basah karena mencuri. Rika mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Sarfa tapi Sarfa tidak melepaskannya. Sarfa justru semakin kuat memegang tangan Rika.
Sarfa maju sambil menggandeng tangan Rika dan menghampiri Abby dan Arneta.
"Aku sama Rika akan menikah," ucap Sarfa percaya diri. Sedangkan Rika, Arneta dan Abby sangat terkejut mendengar pengakuan Sarfa. Yang paling terkejut itu adalah Rika, bagaimana tidak Rika merasa belum pernah membahas soal pernikahan dengan Sarfa sejauh ini. Rika memalingkan wajahnya menatap Sarfa dengan tatapan binggung.
"Iya kan , Rika. Sebentar lagi Kita akan menikah," ujar Sarfa, Sarfa tidak memperdulikan keterkejutan Rika.
"Eh...emm....iya, sebentar lagi kita berdua akan menikah," balas Rika gugup mendukung ucapan Sarfa.
"Tolong jelaskan sejak kapan kalian menjalin hubungan?* tanya Abby penasaran begitu juga dengan Arneta sama penasarannya.
"Beberapa bulan lalu," terang Sarfa santai.
"Kamu yakin mau menikah dengan perempuan bar-bar itu?" ucap Abby tak percaya dengan pengakuan Sarfa.
"Sebelum menilai calon istriku Bee, liat dulu istri mu. Mereka berdua sama kelakuannya. Kamu aja bisa masa aku nggak," terang Sarfa. Arneta tersipu malu karena ucapan Sarfa. Arneta mengakui jika dirinya terkadang bersikap bar-bar.
Bersambung
__ADS_1