CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 50 SIAPA DIA


__ADS_3

Arneta menghapus air matanya dengan punggung tangannya, Arneta berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihannya di hadapan Robby, biar bagaimanapun pernikahan ini adalah pilihannya meskipun itu adalah karena terpaksa.


Arneta kembali menarik nafas dalam-dalam mencoba bersikap bahwa semuanya baik-baik saja.


"Robby, kamu tidak perlu khawatir aku dan pernikahan ku baik-baik saja, kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan rumah tangga ku," ucap Arneta tegas, meskipun hatinya bergemuruh seperti ada badai yang dahsyat Arneta bersikap bahwa dirinya tidak butuh belas kasihan dari Robby.


Ucap Arneta membuat Robby melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arneta, Hatinya terasa sakit. Luka dan kesedihan karena di tinggal menikah oleh Arneta kini semakin terasa pedih. Berkali-kali Robby mengutuk kebodohannya karena terlambat bertemu dengan orang tua Arneta menyebabkan dirinya kehilangan Arneta.


Tapi Robby tidak ingin menyerah apa lagi setelah tadi mendengarkan perkataan Rika, Robby yakin bahwa rumah tangga Arneta berjalan tidak semestinya. Dan itu artinya Robby masih memiliki kesempatan untuk bersatu lagi dengan wanita yang dicintainya.


Tak jauh dari meja tempat Arneta dan dua sahabatnya duduk, di meja lainnya ada Abby dan Sarfa diam-diam melihat dan memperhatikan Arneta dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Saat Abby melihat tangan Arneta di genggaman oleh Robby sebenarnya Abby ingin langsung menghampiri Arneta dan langsung memberikan bogem mentah di wajahnya Robby. Hati Abby terasa terbakar saat melihat adegan itu. Abby tak dapat menghampiri Arneta karena langkanya terhenti karena Sarfa menahan tanggan Abby.


Abby hampir saja meledak emosinya saat Robby menyatakan jika dirinya bersedia menerima Arneta kembali jika Arneta bercerai dengan Abby. Wajah Abby sudah seperti patung pahatan yang terbuat dari perunggu. Wajah Abby menegang sudah berubah warna merah karena marah.


Sarfa berusaha menenangkan Abby, Sarfa tidak ingin membuat keributan di tempat umum karena hal itu akan menjadi pusat perhatian apalagi Abby bukalah pria sembarangan, Sarfa tahu jika Abby membuat keributan di tempat ini pasti akan menjadi santapan para awak media dan akan menjadi angin segar untuk pesaing bisnis perusahaan Abby untuk menjatuhkannya.


Mata Abby masih terus memandangi arah tempat Arneta dan sahabatnya duduk tanpa pernah berkedip. Sorot mata Abby memancarkan aura kemarahan.


"Cari tahu siapa laki-laki itu, apa hubungannya dengan istri ku," perintah Abby kepada Sarfa.


Mendengarkan perkataan Abby Sarfa mengerutkan keningnya setelah kata istriku terucap dari bibir Abby. Biasanya Sarfa hanya mendengar Abby menyebutkan nama panggilan untuk Arneta adalah si wanita jadi-jadian.


"Kenapa diam saja," bentak Abby.

__ADS_1


"Ha..iya, nanti akan aku selidiki," jawab Sarfa dengan tatapan binggung kearah Abby.


"Apa ada yang salah?" tanya Abby setelah melihat Sarfa memandangi.


"Itu kamu sebut apa tadi?" ujar Sarfa. Sarfa ingin agar Abby mengulangi kata-katanya agar Sarfa percaya jika telinganya benar-benar tidak salah dengar.


"Yang mana?" tanya Abby binggung.


"Itu, kamu panggil Arneta dengan sebutan apa tadi?" ujar Sarfa.


"Istri, memang ada yang salah dengan sebutan itu?" ucap Abby sambil melotot melihat Sarfa.


"Nggak salah sie, cuman aneh aja," balas Sarfa.


"Apa yang aneh Afa, dia itu istri ku jadi wajar aja jika aku menyebutnya istri," balas Abby kesal.


Abby jadi salah tingkah karena dirinya tanpa sengaja mengakui jika Arneta adalah istrinya di hadapan sahabat sekaligus asistennya.


"Jika kamu masih banyak bicara aku potong gaji mu bulan ini," ancam Abby ingin mengehentikan Safa menggodanya.


"Ancamannya gaji terus mau di potong," ujar Sarfa sambil mencibir


"Oh mau yang lain, baiklah kalau begitu besok kamu sudah bisa mengambil pesangon kamu di HRD," ujar Abby kembali melanjutkan ancaman berikutnya.


"Kenapa di pecat? sadis benar," ujar Sarfa sambil merenggut.

__ADS_1


Abby dan Sarfa akan bersikap layaknya seorang sahabat jika berada di luar kantor, tapi akan berbeda sikap Sarfa jika Abby dan dirinya berada dalam lingkungan kerja, Sarfa akan bersikap secara profesional. Sarfa ingin menjaga image Abby sebagai bosnya dan sebagai CEO du perusahaan yang di pimpin oleh Abby.


Meskipun Abby dan Sarfa berbicara akan tetapi mata Abby terus saja memperhatikan Arneta. Karena jarak meja Abby dan Arneta sedikit jauh jadi Abby tidak bisa mendengar percakapan antara Arneta dan teman-temannya. Abby penasaran percakapan antara Arneta dan Robby, jika bisa rubah posisi duduk, Abby ingin lebih dekat lagi dengan meja yang Arneta tempati agar Abby bisa leluasa mendengar percakapan antara Arneta dan Robby. Tentang kedua temannya Arneta Abby tidak peduli karena sudah beberapa kali bertemu dengan Rika dan Gita.


Abby mengunyah kentang goreng dalam mulutnya dengan perasaan marah, Abby menggigit setiap potongan kentang dalam mulutnya seolah-olah sedang mencincang Robby dalam mulutnya.


Sarfa ingin tertawa melihat Abby yang cemburu, Sarfa menahan tawanya sambil menutup bibirnya rapat-rapat, meskipun itu sulit Sarfa tetap menahan diri agar tawanya tidak terdengar oleh Abby, cukup Sarfa tertawa dalam hatinya.


Dalam hati Sarfa bukan hanya mentertawakan Abby yang sedang cemburu, diam-diam Sarfa mencibir dalam hatinya.


"Katanya tidak cinta, tapi lihat ini baru liat tanggan istrinya di pegang laki-laki lain sudah seperti kambing kebakaran jengot," kata Sarfa dalam hatinya.


Perasaan Abby semakin gelisah ketika melihat Arneta sudah kembali tersenyum. Dan senyum itu di berikan Arneta kepada Robby. Abby mengepalkan kedua tangannya erat-erat agar emosi terjaga. Dalam hati Abby sudah seperti ada cairan larva gunung meletus yang mengalir di hatinya.


Abby tidak bisa terima jika Arneta busa tersenyum untuk orang lain apalagi tersenyum di hadapan seorang laki-laki yang tidak di kenalnya. Selama menikah dengan Arneta hampir tidak pernah Arneta tertawa di hadapannya, yang paling sering di lihat oleh Abby adalah wajah Arneta yang sedang cemberut dan kesal padanya.


Abby bergerak cepat setelah melihat Arneta, Gita,Rika dan Robby tiba-tiba berdiri dari kursi yang mereka duduki seolah bersiap untuk pergi.


"Bayar cepat," ujar Abby kepada Sarfa.


"Loh kok aku yang bayar?" protes Sarfa.


"Aku ganti nanti, sekarang cepat bayar dan kita ikutin kemana Arneta pergi," ucap Abby.


"Tapi Bee, kita ada meeting satu jam lagi," Sarfa mengingatkan Abby soal kerjaan.

__ADS_1


"Batalkan atau tunda lain haru saja. Yang terpenting saat ini kita harus mengikuti kemana Arneta pergi," ucap Abby sambil menatap Arneta. Sarfa pun tak bisa menolak perintah bosnya, Sarfa mendukung keputusan Abby untuk menunda Meetingnya, Ada hal yang lebih penting saat ini yang harus di dahulukan.


Bersambung...


__ADS_2