
Satu bulan sudah berlalu Arneta masih belum mengingat apapun tentang pernikahannya dengan Abby. Setiap kali Arneta mencobah mengingat tentang Abby kepala Arneta langsung terasa sakit, bahkan Arneta hampir jatuh pingsan karena menahan rasa sakit di kepalanya karena memaksakan otaknya untuk berpikir keras.
Dan Abby pun sudah hampir bisa mengendalikan emosinya. Abby melakukan apa yang di minta mamanya, yaitu konsultasi dengan seorang psikiater. Dalam satu minggu Abby melakukan pertemuan dengan psikiater sebanyak dua kali. Dari pertemuannya dengan psikiater Abby bisa tau dari mana sikap kasarnya berawal.
Saat duduk di bangku sekolah Abby ternyata pernah mengalami pembulian. Karena Abby yang selalu bersikap baik maka teman-temannya memperlakukannya Abby dengan sesuka hati. Untuk melindungi Abby akhirnya merubah sikap baiknya menjadi kasar, dan sikap kasar Abby terbawa sampai saat ini.
Saat ini Abby sudah janjian dengan Sarfa untuk makan siang si luar setelah jam istirahat jam makan siang. Dan jam makan siang pun tiba, Sarfa lebih dulu menyambangi Abby di ruang kerjanya.
"Bee, ayo makan. Aku sudah lapar," ajak Sarfa yang memang sudah lapar, perutnya sudah minta diisi.
"Iya, bentar aku," jawab Abby, tetapi kepalanya Abby masih menatap layar laptop.
Sarfa menunggu sesaat meskipun cacing dalam perutnya sudah berdemokrasi minta makan. Sarfa melihat jam pergelangan tangannya, sudah lima menit berlalu tapi tak ada tanda-tanda Abby akan selesai.
"Abby, aku duluan. Perut aku sudah lapar sekali," akuh Sarfa.
"Iya, sabar dikit lagi ya. Tanggung," jawab Abby santai.
Sarfa sudah tidak bisa menunggu Abby lebih lama lagi, Sarfa segera berdiri dari duduknya.
"Abby, aku bisa masuk angin dan terkena sakit maag kalau nunggu kamu," ujar Sarfa sambil melangkah hendak keluar dari dalam ruangan Abby. Karena melihat Sarfa yang akan pergi Abby segera menutup layar laptopnya.
"Afa, aku ikut..!" ucap Abby setengah berteriak.
Abby dan Sarfa pun segera pergi mencari tempat makan untuk mengisi perut yang sudah terasa lapar. Abby dan Sarfa memilih untuk makan siang di salah satu restoran yang dekat dengan kantor. Pilihan restorannya ada restoran yang menyajikan makanan Nusantara. Abby dan Sarfa segera masuk kedalam restoran tersebut dan langsung mencari meja kosong untuk mereka berdua tempati.
Abby dan Sarfa mendapat tempat duduk dekat dengan pintu masuk restoran tersebut. Abby memanggil pelayan restoran dan tanpa membuang waktu lagi mereka berdua langsung memesan makanan yang akan mereka santap saat ini.
Sambil menunggu pelayanan itu mengantar makanan yang mereka pesan, mata Sarfa mengelilingi setiap sudut restoran tersebut. Mata Sarfa terhenti saat satu meja yang sudah ada penghuninya.
"Bee, itu kan temannya Arneta," ucap Sarfa.
Abby pun langsung melihat kemana arah mata Sarfa memandang.
"Iya, Itu sie perempuan cerewet dan galak," jawab Abby. Abby masih ingat bagaimana Rika memakinya saat Arneta si rumah sakit.
"Kamu nggak mau minta bantuan sama dia untuk meluluhkan hati istri mu," Sarfa memberikan saran.
Ehg..
__ADS_1
Abby langsung memikirkan usul Sarfa barusan.
"Benar juga, Dia pasti tahu bagaimana supaya saya bisa mendapatkan hati Neta," ucap Abby sambil tersenyum kemenangan. Yang Abby dan Sarfa liat itu memang Rika sahabatnya Arneta.
Abby berdiri dari tempatnya duduk dengan niat hati ingin bergabung dengan Rika.
"Hai..." sapa Abby setelah berdiri tepat di samping Rika.
Rika mendongakkan kepalanya menatap arah sumber suara Wajah Rika langsung berubah masam setelah melihat Abby di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Rika dengan suara ketus.
"Boleh gabung?" tanya Abby karena dirinya tidak di persilahkan duduk oleh Rika.
"Ada perlu apa kamu mendekati ku?" ujar Rika, Rika tau jika Abby memiliki niat lain yang tersembunyi.
"Itu...em.. boleh gabung ya, nanti aku kasih tau apa maksud ku," jawab Abby jujur.
"Ya sudah duduk," ucap Rika dengan setengah hati.
Abby mengulum senyumnya karena berhasil bergabung makan siang dengan Rika. Abby melambaikan tangannya memberi kode pada Sarfa untuk ikut bergabung dengannya, duduk makan siang bersama Rika.
Rika melanjutkan makan siangnya tanpa memperdulikan Abby dan Sarfa yang duduk di hadapannya.. Beberapa saat kemudian pelayanan restoran itu datang membawa nampan berisikan makanan pesanan Abby dan Sarfa. Setelah meletakkan makanannya di meja pelayanan itu mempersilahkan Abby dan Sarfa menikmati makanannya.
"Sekarang katakan padaku apa mau mu?" tanya Rika langsung pada intinya tanpa berbasa-basi. Rika tak ingin berlama-lama duduk satu meja dengan Abby. Rika masih menyimpan rasa kesalnya pada Abby karena sudah menyakiti hati Arneta.
"Aku mau minta tolong sama kamu," ujar Abby setengah ragu-ragu.
"Minta tolong, minta tolong apa?" tanya Rika binggung.
"Kamu kan sahabatnya Neta, kamu pasti tau bagaimana caranya untuk bisa meluluhkan hati Arneta." ujar Abby.
Rika menatap Abby sambil menyipitkan matanya. Rika tidak bisa menebak apa maksudnya Abby.
"Terus, apa hubungan dengan persahabatan aku sama Neta dengan minta tolong mu?" tanya Rika.
"Aku mau kamu bilang sama aku bagaimana caranya supaya Neta bisa membuka hatinya untukku," jawab Abby.
Rika mengerutkan keningnya lebih dalam lagi setelah mendengar ucapan Abby.
__ADS_1
"Apapun yang kamu minta aku pasti memberikannya pada mu, asal kamu kasih tau aku bagaimana caranya bisa meluluhkan hati Arneta," ucap Abby.
"Kamu pikir aku bisa menjual sahabatku dengan uang yang kamu tawarkan, kamu pikir aku bisa menjadi pengkhianat?" balas Rika dengan nada marah, Rika tersinggung dengan perkataan Abby.
"Bukan seperti itu maksudnya," ucap Abby membela diri.
"Terus apa maksudnya dengan ucapan mu tadi?" ujar Rika sambil menatap sinis ke Abby.
"Aku mencintai Arneta," akhirnya Abby mengakui perasaannya pada Arneta di hadapan sahabat istrinya.
"Ha.... kamu yakin mencintai Neta? kalau kamu benar mencintai Neta seharusnya kamu tidak pernah menyakiti perasaannya," ujar Rika.
"Aku tau, aku salah. Tapi sungguh aku mencintai Neta," jawab Abby dengan wajah memelas.
Rika tidak bisa percaya sepenuhnya kepada Abby, Rika ingat betul bagaimana Neta menderita setelah menikah dengan Abby.
"Aku tidak bisa membantu mu," ucap Rika. Rika menolak permintaan Abby.
"Tolong aku, aku sudah tidak tau lagi bagaimana caranya mendekati Neta, Neta selalu menolak untuk dekat sama aku," ujar Abby. Dan Sarfa hanya menjadi pendengar setia di tempat itu.
Rika menarik nafas dalam melihat Abby dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Abby.
"Bagaimana dengan perempuan itu, perempuan yang berhasil membuatmu menampar Neta?" ujar Rika.
Abby terkejut mendengar ucapan Rika. Abby tak menyangka jika Neta menceritakan pada Rika jika dirinya pernah menampar pipi Arneta.
"Hubunganku dengan perempuan itu sudah lama selesai, sungguh!" ucap Abby sambil mengangkat satu tangannya jari Abby membentuk huruf V.
"Baiklah, aku percaya. Tapi aku tidak bisa membantumu. Tapi jika kamu benar tulus mencintai Neta, buktikan itu. Jangan lagi menyakiti hatinya," ujar Rika.
Abby tak puas dengan apa yang diucapkan oleh Rika.
"Tolong bantu aku," Abby memohon.
"Hati Neta hanya akan luluh dengan kamu menunjukkan niat baikmu. Perlakuan dia dengan hati yang lembut. Tunjukkan bahwa kamu benar-benar mencintainya," jelas Rika.
"Hanya itu?" ucap Abby tak percaya. Selama ini Abby sudah berusaha bersikap baik terhadap Arneta tapi tidak ada hasilnya.
"Terserah, kamu percaya atau tidak itu pilihanmu. Perlu kamu ingat Neta bukanlah wanita yang mudah dikukuhkan hatinya. Dulu Robby mantannya Neta butuh waktu satu tahun untuk mendekati Arneta," ujar Rika. Dan Abby dan Sarfa saling pandang setelah mendengar perkataan Rika.
__ADS_1
"Aish ini bakalan sulit Bee," ucap Sarfa. Abby memijat pelipisnya karena pusing.
Bersambung