
Arneta masih tertidur fi samping ranjang Abby, Arneta sama sekali tidak menyadari jika kedua mertuanya sudah datang. Meskipun posisi tidur Arneta tidak baik nyata Arneta bisa tertidur cukup lama. Kedua mertuanya sengaja tidak membangunkan Arneta karena kasian, mereka berfikir jika Arneta kelelahan.
Hampir satu jam lamanya Arneta tertidur, karena badannya mulai terasa pegal Arneta akhirnya mulai membuka matanya. Arneta merenggangkan badannya yang terasa kaku dan pegal akibat posisi tidurnya yang salah.
Huaa
Arneta menguap sambil memutar badan dan kepalanya.
Mata Arneta langsung melotot setelah melihat mertuanya sudah ada si dalam ruangan tersebut, mulut Arneta pun masih terbuka lebar. Wajah Arneta langsung berubah merah karena malu.
"Mama papa, kapan datang?" tanya Arneta menghilangkan rasa sungkannya.
"Belum lama, mungkin baru 45 menit yang lalu," jawab bu Maya. Arneta semakin salah tingkah karena tertangkap basah ketiduran saat menjaga Abby.
"Maaf, Neta ketiduran," ucap Arneta sambil menundukkan kepalanya.
"Nggak papa, kamu pasti capai," tutur bu Maya. Bu Maya melihat sikap Arneta yang salah tingkah.
Arneta menarik kursi yang didudukinya supaya menjadi lebih dekat lagi dengan mertuanya.
"Kata dokter Abby baik-baik saja. Saat ini Abby masih dalam pengaruh obat bius," ungkap Arneta.
"Iya, tadi Sarfa juga sudah menjelaskan," jawab bu Maya.
"Oh ya, tadi kata Sarfa kamu belum makan dari tadi," bu Maya khawatir dengan kesehatan Arneta.
" Neta ngga lapar mah,"jawab Arneta memberikan alasan.
"Abby sedang dirawat di rumah sakit, jika kamu ikutan sakit bagaimana?" ucap bu Maya. Bu Maya mengingatkan Arneta tetang kesehatan dirinya.
Mendapatkan nasehat dari mama mertua Arneta pun menyetujui ucap mama bu Maya. Arneta tidak boleh sakit saat ini, Abby membutuhkan dirinya.
"Iya mah, sebentar lagi Neta akan makan. Tapi saat ini Neta masih ingin menemani Abby," ungkap Arneta. Mama mertuanya pun tersenyum mendengar jawaban Arneta.
Abby masih saja terlelap dalam tidurnya, entah kemana roh Abby berkelana. Sarfa kembali masuk kedalam ruangan Abby setelah habis dari luar menghirup udara segar sekaligus memberi instruksi pada orang kantor selama Abby dan Sarfa tidak ada di perusahaan.
Sarfa memasuki ruangan dengan perasaan yang sama. Sarfa menunggu Abby bangun dari tidurnya.
Sarfa mendekati tempat duduk Arneta, bu Maya dan pak Ady berkumpul.
__ADS_1
"Kapan Abby bangun?" ucap Sarfa.
"Tunggu sebentar lagi, mungkin obat bius belum hilang," jawab pak Ady.
"Afa, tolong antar Neta keluar," ujar bu Maya. Arneta langsung menatap mama mertuanya dengan perasaan cemas. Pikir Arneta jika dirinya diusir dari dalam kamar Abby.
Sarfa masih belum mengerti maksud dari kata-kata bu Maya.
"Kemana..?" tanya Sarfa binggung.
"Anterin Arneta untuk mencari makan, sudah dari tadi Neta diam dan tak ingin makan. Aku takut jika Neta jatuh sakit," jelas bu Maya. Arneta dan Sarfa langsung bernafas lega, ternyata isi pikiran mereka berdua salah.
"Ayo Neta, kamu makan dulu. Ingat Abby butuh kamu saat ini," ucap bu Maya sambil kembali mengingatkan Arneta.
Meskipun Arneta ingin menolak permintaan mama mertunya tapi mulut Arneta terkunci, Arneta membenarkan ucapan bu Maya dalam hatinya. Mau tak mau akhirnya Arneta menuruti perintah bu Maya. Arneta keluar di temani Sarfa. Arneta lebih memilih makan di kantin ketimbang mencari makanan di luar rumah sakit.
Arneta tidak ingin terlalu jauh dari Abby karena Arneta ingin mendapatkan kabar secepat mungkin tentang kondisi Abby.
Sampai di kantin rumah sakit Arneta langsung memilih menu makan. Arneta memilih untuk memesan satu mangkok soto Bogor dan sepiring nasih putih hangat dan segelas teh panas. Menu makanan ini sungguh cocok dengan kondisi Arneta.
Arneta langsung menyantap soto Bogor pesannya setelah diantara oleh bu kantin.
"Aku kenyang, aku tadi sudah makan," ungkap Sarfa. Arneta pun langsung melanjutkan makannya setelah mendapat jawaban Sarfa.
Sarfa terus memperhatikan Arneta makanan, dari cara Arneta makan Sarfa bisa menilai jika Arneta benar-benar lapar tapi tak ingin makan jika tidak dipaksa. Sarfa tersenyum dalam hatinya.
Selesai makan Arneta dan Sarfa langsung bergegas kembali ke ruang Abby. Arneta kembali duduk si samping ranjang Abby.
"Sudah makan Neta?" tanya bu Maya.
"Sudah mah, Neta tadi makan si kantin," jelas Arneta. Arneta memalingkan wajahnya menatap Abby.
Arneta terkejut setelah itu melihat jari-jari Abby mulai bergerak.
"Bee.... Abby...!" panggil Arneta.
Semua orang yang ada dalam ruangan itu pun langsung bergegas menghampiri Abby setelah mendengar Arneta memanggil-manggil nama Abby.
"Ada apa Neta?" tanya Sarfa.
__ADS_1
"Jari Abby tadi gerak," ucap Arneta.
"Bee.... Abby. Kamu dengar tidak!" Sarfa ikut manggil Abby.
Perlahan-lahan mata Abby mulai terbuka, mata Abby mencoba menetralisir sinar cahaya lampu yang masuk kedalam retina matanya. Pelan-pelan mata Abby mulai terbiasa dengan cahaya lampu. Orang yang pertama kali di lihatnya adalah Arneta.
"Neta...,' ucap Abby dengan suara yang sangat pelan.
"Iya, ini aku. Kamu sudah bangun," ucap Arneta. Arneta langsung memegangi tangan Abby seolah takut Abby kembali tertidur.
Pak Ady bu Maya dan Sarfa serta Arneta merasa senang Abby sudah sadar. Kalimat ucapan syukur diucapkan oleh semua orang yang ada di samping Abby.
"Aku panggil dokter dulu ya," ucap Arneta. Sarfa pun langsung memencet tombol pada dinding rumah sakit.
Beberapa saat kemudian dokter dan suster datang memasuki ruangan Abby.
"Dok, suami saya sudah sadar," ucap Arneta. Abby bisa mendengarkan ucapan Arneta meskipun dirinya masih belum pulih sepenuhnya dari pengaruh obat bius. Perasaan Abby berbunga mendengar Arneta menyebutkan dirinya sebagai suaminya.
Dokter pun langsung memeriksa Abby, setelah selesai dokter itu tersenyum.
"Semuanya baik-baik saja, tinggal tunggu perkembangan berikutnya. Semoga cepat sembuh," ucap dokter. Semua orang yang mendengar penjelasan dokter menarik nafas lega.
Selain memeriksa Abby dokter dan suster pun kembali ke ruangan masing-masing.
"Bee, apa ada yang sakit?" tanya Arneta khawatir. Abby hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Mata Abby kembali terpejam, kepalanya masih terasa berat matanya masih ingin tidur.
Arneta tak melepaskan tangannya dari genggaman Abby, Arneta membiarkan Abby tertidur sambil memegang tangannya.
Hampir satu jam Abby tertidur, Abby membuka matanya perlahan rasa kantuknya sudah hilang.
"Aku haus.." ucap Abby. Arneta langsung mengisi gelas dengan air hangat sebelum memberikan air itu pada Abby. Arneta juga memberikan sedotan supaya Abby mudah untuk minum.
Abby membasahi tenggorokannya kering dengan beberapa teguk air putih hangat. Setelah itu Abby mulai mengerakkan badan. Satu persatu Abby mulai mengerakkan anggota tubuhnya. Semuanya baik-baik saja, hanya tinggal bagian kaki yang belum.
Abby mencobah mengerakkan kakinya secara perlahan, tapi Abby tidak merasakan apa-apa. Abby mulai panik setelah Abby tidak berhasil merasakan kakinya bergerak.
Wajah Abby langsung berubah pucat, ketakutan mulai mengurung perasaannya.
"Kaki aku kenapa...?" tanya Abby.
__ADS_1
Bersambung